Pak Menteri, Cabut Izin PT.SAW DGI, Oknumnya Ketahuan Menipu, Gelapkan Asuransi ? 

LAMPUNG TIMUR – Terjadi indikasi tindakan penipuan dan penggelapan diduga dilakukan oleh Bekti Setyo Rini oknum petugas Cabang PT. SAW DGI Perwakilan Propinsi Lampung dan Novita Sari oknum petugas Anak Cabang PT. SAW DGI Perwakilan Kabupaten Lampung Timur, sebagai petugas Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Senin, 25 Februari – 5 Maret 2019.

Oknum tersebut diduga melakukan penipuan dan penggelapan dengan cara tidak menyerahkan uang klaim asuransi dan barang berupa Certificate of Death (CoD) atas nama almarhum Rumli. Melainkan uang diserahkan mereka setelah 5 bulan berjalan lamanya hampir mendekati daluarsa 6 bulan. Uang dan CoD diserahkan pasca mencuat di media online metrodeadline.com Kabupaten Lampung Timur, itupun terindikasi tidak sepenuhnya.

Setelah secara detail mendengarkan keterangan Bastian dan Lilis ahli waris almarhum Rumli Rabu, 7 Agustus 2019 sekitar jam 10.30 WIB lalu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Timur, Ahmad Tsauban mengatakan akan menghubungi Bekti Setyo Rini dan Novitasari.

Niat Kasi PHU Kantor Kemenag Lamtim, Tsauban akan mempertemukan antara ahli waris dan pihak petugas PPIU PT. SAW DGI, akan tetapi setelah sebelas hari lamanya ditunggu, kedua oknum itu tidak bersedia dan beranggapan masalah tersebut selesai.

“Sudah saya hubungi, pihak Bu Rini dan Bu Novi menyampaikan pihak pusat sudah menjelaskan kepada keluarga, jadi mereka menganggap sudah selesai, saya merencanakan pertemuan, mereka sudah tidak mau”. Kata Tsauban Minggu, 18 Agustus 2019 jam 11.13 WIB.
Modus operandinya (MO) begini pak Menteri, awalnya Rumli direkrut untuk menjadi Jemaah Umrah bulan Desember 2019 oleh Novitasari pakai down payment (DP) Rp. 5 juta dan biaya keberangkatannya di angsur sebab uang yang digunakan adalah dana talangan Rp. 1, 257,000.- x 24 bulan yang difasilitasi dari sumber pembiayaan Amitra Syariah FIF Group Metro. Ketika pendaftaran, Novitasati petugas PPIU diduga tidak memberikan pelindungan jiwa berupa asuransi kepada Rumli.

Lalu datang seorang oknum petugas karyawan Amitra Syariah PT. FIF Group Metro juga bulan Desember 2018 melakukan survey terhadap Rumli dengan mengatakan apabila Rumli yang melakukan perjalanan ibadah Umrah meninggal dunia, maka angsuran dinyatakan lunas.

Rumli melakukan perjalanan ibadah umrah Senin, 25 Februari 2019 melalui Bandara Radin Inten II Bandar Lampung, namun perjalanan ibadah umrah baru berlangsung selama 5 hari, ia meninggal dunia dengan tenang Jumat, 1 Maret 2019 jam 9.00 waktu di Madinah dan dikebumikan ditempat pemakaman setempat.

Novitasari datang mengantarkan tas koper pakaian milik almarhum Rumli Selasa, 5 Maret 2019 pukul 21.00 WIB, Novita berjanji kepada Bastian pihaknya akan mengurus Certificate of Death (CoD) dengan tempo 7 hari kerja. Lewat 2 hari janjinya, Bastian mendatangi Novi dirumah, pihaknya kembali berjanji akan datang bersama Rohma Apriyani petugas Amitra Syariah FIF Group Metro, tapi Novita yang ditunggu-tunggu tidak datang. Sedangkan CoD penting karena akan digunakan untuk syarat hapus pinjaman almarhum di Bank Eka, namun CoD tidak diberikan bahkan minta tempo lagi 3 bulan mendatang (sekitar tanggal, 15 Juni 2019).

Kemudian, datang 5 orang oknum petugas karyawan PT. Amitra Syariah PT. FIF Group Metro bersama Rohma Apriyani sekitar tanggal, 20 Maret 2019, salah seorang oknum yang mengaku dari Desa Bumi Nabung Udik Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur berkata dengan nada kasar dan menakut-nakuti ahli waris dan Rohma mengatakan angsuran naik menjadi Rp. 1,286, 000.-berikut Rp. 4, 000.-biaya transfer indomaret.

Selanjutnya, janji Novita akan menyerahkan CoD dalam tempo 3 bulan (15 Juni 2019) tidak kunjung datang, melainkan seorang oknum petugas Cabang PT. SAW DGI Perwakilan Propinsi Lampung, Bekti Setyo Rini Minggu, 7 Juli 2019 sampaikan ke Bastian bahwa pihaknya tidak lagi megeluarkan surat menyurat dalam bentuk apapun, hanya sebatas surat keterangan kematian dari PT. SAW DGI Jakarta Timur saja.

Seperti sudah hilang harapan ahli waris setelah menerima pernyataan dari Bekti Setyo Rini itu, karena selain CoD ahli waris juga sangat mengharapkan uang klaim asuransi untuk melunasi angsuran almarhum Rumli di Amitra Syariah FIF Group Metro yang sudah di angsur mereka sebanyak enam kali.

Akhirnya, keluhan atas layanan Novitasari itu Minggu, 28 Juli 2019 pukul 19.00 WIB sampai kepada Kabiro Media Online metrodeadline.com Kabupaten Lampung Timur. Ketika dikonfirmasi Selasa, 30 Juli 2019, Novitasari mengatakan, disaat pendaftaran, PPIU PT. SAW DGI tidak memberikan pelindungan jiwa berupa asuransi kepada almarhum Rumli melainkan ke jemaah umrah yang mendaftar pada bulan Januari 2019.

Novitasari anjurkan agar supaya menghubungi Rohma Apriyani petugas Amitra Syariah FIF Group Metro, sebaliknya, setelah dikonfirmasi pada waktu yang sama Rohma mengatakan pihaknya akan konfirmasi ke petugas travel PT. DGI PPIU terkait asuransi, yang seharusnya asuransi dapat digunakan untuk melunasi angsuran tanpa membebani ahli waris.

Pasca muncul berita di metrodeadline.com Selasa, 30 Juli 2019 dan Rabu, 31 Juli 2019, Bekti Setyo Rini disinyalir seperti kebakaran alis Rabu, 31 Juli 2019 sekitar pukul 14.30 WIB dengan reaksi cepat dikirimkannya photocopy Certificate of Death (CoD) atas nama almarhum Rumli ke Bastian selaku ahli waris, ternyata CoD diterbitkan Jumat, 19 April 2109 lalu oleh pihak Kedutaan Arab Saudi.

Usai kirimkan CoD itu, Bekti Setyo Rini juga konfirmasi ke Kepala Biro Media Online metrodeadline.com Kabupaten Lampung Timur Rabu, 31 Juli 2019 pukul 17.23 WIB. Katanya, pihaknya tidak memberikan pelindungan jiwa berupa asuransi kepada almarhum Rumli yang melakukan pendaftaran pada bulan Desember 2018. Melainkan ke jemaah umrah yang berangkat pada Maret 2019 dan pihaknya berjanji akan kembalikan uang biaya visa kepulangan almarhum Rumli.

Ahirnya, Novi dan Rini dipanggil oleh Ahmad Tsauban Kasi PHU Kantor Kementerian Agama Lampung Timur, Jumat, 2 Agustus 2019 pukul 13.00 WIB bersama Rohma petugas Amitra Syariah FIF Group Metro, Rini tunjukkan surat izin PT. SAW DGI dan sepakat akan serahkan uang klaim asuransi bersama-sama.

Rini dan Novi diduga ingkari kesepakatan dengan Ahmad Tsauban, keesokannya, Sabtu, 3 Agustus 2019 pukul 16.30 WIB mereka mendatangi ahli waris Rumli di Desa Negara Ratu Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur, serahkan photocopy CoD dan uang santunan dari PT. SAW DGI Jakarta Timur.

Ternyata di kwitansi tertulis, telah diterima dari DGI, uang sejumlah 6 juta untuk pembayaran klaim asuransi almarhum Rumli. Namun anehnya, di kwitansi tidak ditulis tanggal, bulan dan tahun penyerahan bahkan ahli waris juga dimintai tandatangani surat yang tidak tau isinya terindikasi sebagai siasat mereka mengelabui.

Bastian dan Lilis ahli waris Rumli menghubungi Rini Selasa, 6 Agustus 2019, bertujuan mempertanyakan kenapa uang santunan dari DGI ditulis dalam kwitansi uang klaim asuransi. Apa isi surat yang disodorkan dan ditandatangani oleh Ili Ningsih orangtua mereka itu. Buru-buru Rini menghapus 2 pesan percakapannya, tatkala mengetahui Bastian bukan Lilis yang menelpon, dalam pesan suaranya itu, Rini meganjurkan agar supaya ahli waris hubungi Novitasari.

Tak hanya itu, Rini juga hapus photo profile WA sekaligus nomor handphone miliknya seketika itu di non aktifkan saat akan dikonfirmasi oleh metrodeadline.com terkait penyerahan CoD dan uang santunan atau asuransi yang diserahkan mereka berdua tersebut.

Joko Manager Kemitraan Marketing PT. SAW DGI Jakarta Timur Selasa, 6 Agustus 2019 hubungi ahli waris, ia minta maaf atas pelayanan Novitasari dan Bekti Setyo Rini serta menjelaskan terkait CoD dan uang santunan 6 juta itu adalah klaim asuransi bukan santunan dari PT. SAW DGI, surat yang ditandatangani hanyalah tanda terima.

Joko juga mempertanyakan apa permintaan ahli waris dan tak hanya itu, Joko kirimkan juga ringkasan asuransi, sedangkan wording polis tidak dikirimkan, sementara Bastian meminta agar supaya dapat dipertemukan dengan Bekti Setyo Rini dan Novitasari serta Joko guna minta tanggungjawab klaim asuransi secara transparan.

Selain itu, hak ahli waris berikut uang untuk biaya hotel dan konsumsi almarhum sejak Jumat, 1 Maret 2019 – Selasa, 5 Maret 2019 bia perlu dikembalikan oleh PPIU PT. SAW DGI selain uang klaim asuransi dan visa.

Bastian dan Lilis ahli waris Rumli di undang oleh Ahmad Tsauban Kasi PHU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Timur Rabu, 7 Agustus 2019 jam 10.00 WIB. Kedua ahli waris dimintai keterangan secara detail terkait indikasi buruknya pelayanan yang diberikan oleh Novitasari dan Bekti Setyo Rini itu.

Usai mendengarkan keterangan itu, Tsauban mengatakan bahwa dirinya memprotes atas tindakan Rini dan Novi karena melanggar kesepakatan sebab uang klaim asuransi diserahkan tidak melibatkan pihaknya.

Pihaknya disinyalir tidak menerima pemberitahuan keberadaan Anak Cabang PT. SAW DGI Perwakilan Kabupaten Lampung Timur yang melakukan kegiatan merekrut jemaah umrah diwilayahnya. Juga tidak menerima laporan jumlah jamaah yang diberangkatkan, tidak mengetahui apabila Novitasari menjadi petugas Anak Cabang PT. SAW DGI Perwakilan Kabupaten Lampung Timur.

Rencana Ahmad Tsauban akan melapor kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Lampung sebab keberadaan PT. SAW DGI di Kabupaten Lampung Timur tanpa pemberitahuan lagipula terindikasi tidak ada izin komersil atau operasional atau rekomendasi.

Direktur Utama PT. SAW DGI Jakarta Timur, Endang Gatot dan Komisaris, Dini Lukitasari serta Manager Marketing PT. SAW DGI Jakarta Timur, Joko berikut Bekti Setyo Rini maupun Novitasari sebagai PPIU yang seharusnya wajib memberikan pelindungan jiwa berupa asuransi kematian, kesehatan dan kecelakaan sebelum jamaah melakukan perjalanan ibadah umrah sebagai urusan wajib.

Selain itu, juga wajib memberikan surat perjanjian setelah ditandatangani serta administrasi dan dokumentasi berikut Polis tertanggung atas nama almarhum Rumli sebagai arsip almarhum Rumli ataupun ahli waris.

Dikemanakan Polis tertanggung dan siapa pemegang Polis penanggung atas nama almarhum Rumli selaku tertanggung sebab ahli waris tidak tahu hak pemegang polis atau tertanggung dan siapa nama ahli waris yang sebenarnya yang ditunjuk pemegang polis atau yang tertanggung.

Ketika akan dikonfirmasi melalui sambungan telephone kantor maupun handphone marketing dan handphone pribadi, Endang Gatot Direktur Utama PT. SAW DGI Jakarta Timur dan Dini Lukitasari Komisaris serta Joko Manager Marketing Kemitraan sebagai PPIU selalu tidak berada ditempat, begitu juga melalui aplikasi WhatssApp, WhatssApp terbaca namun tidak ada balasan sebagai jawaban. Menurut Doni Handoko petugas Desain Grafis PT. SAW DGI Jakarta Timur Jumat, 9 Agustus 2019 jam 10.01 WIB ketiga pejabat tersebut tidak berada ditempat.

Layanan yang diberikan oleh oknum petugas PPIU melanggar Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 834 Tahun 2016 tentang Perpanjangan Izin PT. SAW selaku Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang diterbitkan Kamis, 29 Desember 2016, diktum ketiga berbunyi, PT. SAW sebagaimana dimaksud dalam diktum kesatu, WAJIB menyelenggarakan perjalanan ibadah umrah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.
Bastian Adi Candra ahli waris Rumli Selasa, 13 Agustus 2019 jam 10.30 WIB mendatangi Kantor FIF Group Metro mempertanyakan siapa nama dan dimana alamat lengkap oknum yang diduga merupakan petugas karyawan PT. FIF Group Metro yang melakukan survey sebelum keberangkatan almarhum Rumli. Oknum itu mengatakan apabila almarhum Rumli meninggal dunia ketika umrah, maka angsuran dinyatakan lunas.

Akan tetapi, oknum petugas karyawan PT. FIG Group Metro tersebut disinyalir dinyatakan resain oleh Rohma Apriyani bidang pembiayaan PT. FIF Group Metro melalui sambungan handphone. Rohma berjanji memberikan nama dan alamat lengakap oknum tersebut setelah pihaknya membuka file data administrasi dan dokumentasi, sementara, Hady Febriady Kepala Cabang PT. FIF Group Metro tidak berada di Kantor sedang dalam kondisi sakit.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan yang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang dimaksud dengan pembiayaan adalah :

“penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu ditambah dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil”, seperti dikutip dari www.hestanto.web.id.

Setelah dilakukan analisis selanjutnya akan dilakukan penilaian kredit dengan metode 7P adalah sebagai berikut:

1) Personality, 2) Party, 3) Purposes,4) Prospec,5) Payment, 6) Profitability dan 7) Protection. Tujuan protection adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan ASURANSI.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Pasal 102 Dalam hal hasil pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Ibadah Umrah terdapat dugaan tindak pidana, hasil pengawasan dan evaluasi disampaikan kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti.

Laporan : Ropian Kunang.

You might also like

error: Content is protected !!