PONOROGO — Kerusakan ruas Jalan Gajah–Wringinanom, Kabupaten Ponorogo, kembali menjadi sorotan. Setelah berbulan-bulan ditangani secara swadaya oleh masyarakat, gerakan relawan kini terpaksa dihentikan sementara lantaran dana gotong royong mulai menipis.
Sejak Juni 2026, sejumlah relawan bersama masyarakat bergerak secara mandiri memperbaiki titik-titik jalan yang mengalami kerusakan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengandalkan sumbangan warga, donatur, serta bantuan material yang berhasil dihimpun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Metrodeadline.com, total pemasukan relawan, termasuk sumbangan dalam bentuk barang, tercatat sekitar Rp67.673.000. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp63.167.500 telah digunakan untuk kebutuhan kegiatan perbaikan.
Dengan demikian, dana yang tersisa kini sekitar Rp4.505.500.
Kondisi keuangan tersebut membuat aktivitas perbaikan harus direm sementara.
“Untuk sementara kami berhenti dulu sambil menunggu donatur masuk lagi. Sekarang dana sudah menipis,” ujar salah satu koordinator relawan.
Tiga Kilometer Jalan Masih Menjadi Persoalan
Ruas Jalan Gajah–Wringinanom yang panjangnya sekitar tiga kilometer merupakan akses yang digunakan masyarakat untuk menunjang berbagai aktivitas, mulai dari mobilitas harian, pendidikan hingga kegiatan ekonomi.
Perbaikan yang dilakukan relawan selama ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut. Namun, sifatnya masih terbatas dan belum dapat menggantikan kebutuhan pembangunan atau rehabilitasi jalan secara permanen.
Persoalan kemudian muncul ketika kemampuan swadaya masyarakat mulai terbatas.
Ketika dana gotong royong menipis, siapa yang memastikan perbaikan jalan tetap berjalan?
Pertanyaan tersebut kini kembali mengemuka di tengah masyarakat.
Usulan Perbaikan Disebut Berulang Kali Disampaikan
Masyarakat menyebut usulan penanganan ruas Jalan Gajah–Wringinanom telah disampaikan berulang kali. Namun, hingga kini warga masih menunggu kepastian mengenai realisasi perbaikan permanen.
Gerakan relawan patut dilihat sebagai bentuk nyata kepedulian masyarakat. Akan tetapi, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan adanya kebutuhan terhadap penanganan infrastruktur yang lebih sistematis dan berkelanjutan.
Jalan merupakan fasilitas publik yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat. Karena itu, warga berharap pemerintah terkait memberikan kejelasan mengenai status usulan, kewenangan penanganan, serta kemungkinan waktu pelaksanaan perbaikan.
Jangan Sampai Warga Terus Menambal, Pemerintah Hanya Menunggu
Kini saldo dana relawan tinggal sekitar Rp4,5 juta. Sementara itu, ruas jalan yang mengalami kerusakan masih digunakan masyarakat setiap hari.
Relawan mungkin dapat membantu menutup lubang dan memperbaiki sejumlah titik secara sementara. Namun, kemampuan masyarakat tentu memiliki batas.
Persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mampu menambal jalan berikutnya, melainkan kapan masyarakat mendapatkan kepastian mengenai perbaikan permanen ruas Jalan Gajah–Wringinanom.
Semangat gotong royong warga telah berjalan sejak Juni. Kini, masyarakat menunggu langkah berikutnya dari pihak yang memiliki kewenangan.
Jalan belum sepenuhnya tertangani. Dana relawan menipis. Dan warga kembali menunggu bukan sekadar tambalan, tetapi kepastian perbaikan yang berkelanjutan.(*)
- Wiyoso Jurnalis Ponorogo Jawa Timur
