Kota Metro

Festival Literasi Kota Metro 2026 Dorong Masyarakat Cerdas, Kritis, dan Berkarakter

38
×

Festival Literasi Kota Metro 2026 Dorong Masyarakat Cerdas, Kritis, dan Berkarakter

Sebarkan artikel ini

Metro, Metrodeadline.com — Pemerintah Kota Metro menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya literasi masyarakat melalui Festival Literasi Kota Metro 2026 di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan daerah (Dispusarda) Kota Metro, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian gerakan literasi tersebut dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, sekolah, komunitas literasi, kelurahan, penerbit hingga lembaga dan pihak swasta.

 

Dikatakan Wali Kota Metro Hi. Bambang Iman Santoso, S.Sos., M.Pd.I., bahwa Festival Literasi Kota Metro sebagai bentuk konkret dukungan pemerintah terhadap penguatan budaya literasi di daerah.

 

“Literasi menjadi pondasi dalam setiap aspek pembangunan, mulai dari pendidikan, pemerintahan hingga partisipasi masyarakat,” ujar Bambang.

 

Ia berharap festival tersebut dapat membuka lebih banyak ruang kreatif dan edukatif yang mendorong partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda.

 

“Pentingnya penguatan literasi untuk mendukung visi Metro sebagai kota pendidikan dan kota cerdas,” ujarnya.

 

Bambang menekankan bahwa kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan akhlak.

 

“Tanpa dibarengi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan moral bisa menimbulkan persoalan baru, contohnya perkembangan modus penipuan di era digital yang memanfaatkan teknologi dan pengetahuan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis perlu disertai tanggung jawab dan nilai-nilai moral,” ungkapnya.

 

“Kalau hanya tingkat kecerdasan yang tinggi tidak dibarengi dengan akhlak yang baik, kecerdasan itu tidak cukup,” imbuhnya.

 

Bambang menjelaskan pentingnya literasi dengan ajaran Islam melalui konsep iqra dan bismirabbik, yang menurutnya mengajarkan bahwa membaca dan meningkatkan pengetahuan harus berjalan bersama kesadaran kepada Tuhan dan pembentukan akhlak.

 

“Saya berharap penguatan literasi dapat membentuk masyarakat Kota Metro tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak dalam berpikir dan bertindak,” jelasnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Pusarda) Kota Metro, Dra. Farida, M.Si., menyampaikan Festival Literasi Kota Metro 2026 merupakan kegiatan pertama yang dirancang sebagai wadah untuk memperkuat dan memperluas gerakan budaya literasi di tengah masyarakat.

 

“Kegiatan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa literasi merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan yang cerdas, berbudaya, religius, produktif, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan Kota Metro,” kata Farida.

 

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Festival Literasi telah dimulai sejak Januari 2026.

 

“Salah satunya adalah kegiatan “Nongkrong Literasi” atau Nongki yang dilaksanakan secara konsisten pada minggu pertama setiap bulan bersamaan dengan kegiatan Car Free Day di Taman Kota Metro,” terangnya.

 

Hal yang sama juga disampaikan akademisi sekaligus penggerak literasi, Prof. Dr. Sowiyah, M.Pd., bahwa kegiatan serupa menunjukkan adanya upaya berkelanjutan dalam membudayakan perpustakaan dan literasi di tengah masyarakat.

 

“Kegiatan ini mengusung tema “Literasi Membangun Generasi Cerdas dan Berkarakter”, pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif, /” ucapnya.

 

Ia mengajak Generasi Z untuk tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus informasi digital, tetapi mampu menjadi kreator yang menghasilkan karya dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bakat serta minat.

“Stop cuma jadi penonton, saatnya Gen Z jadi creator,” tegasnya.

Menurut Sowiyah, kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi harus diimbangi kemampuan memilih informasi yang bermakna. Pendidikan, tidak cukup hanya berorientasi pada hafalan, tetapi perlu mendorong pengalaman, pengetahuan, kreativitas, dan pembentukan akhlak.

“Saya berharap gerakan literasi di Kota Metro dapat terus dilanjutkan dan diperluas hingga ke masyarakat, sehingga literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan,” pungkasnya. (Aliando)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!