TASIKMALAYA — Ratusan pengemudi ojek online (ojol) Maxim dari berbagai komunitas yang tergabung dalam Paguyuban Online Bersatu (POB) Priangan Timur menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Cabang Maxim Tasikmalaya, Jalan Peta, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Kamis (10/9/2026).
Aksi tersebut menjadi bentuk protes mitra pengemudi terhadap sejumlah kebijakan aplikator yang dinilai berpotensi menekan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah program Turbo Maxim. Para pengemudi meminta pihak aplikator mengevaluasi kebijakan tersebut karena dinilai dapat memengaruhi pola pembagian order serta pendapatan mitra.
Bagi para pengemudi, persoalannya bukan sekadar soal kebijakan aplikasi. Ketika jumlah order terbatas sementara jumlah pengemudi terus bertambah, persaingan mendapatkan order otomatis semakin ketat.
Aplikasi boleh berkembang, tetapi pengemudi juga harus tetap bisa mendapatkan penghasilan yang layak.
Selain program Turbo, massa juga menyoroti persoalan potongan biaya platform (platform fee) dalam sistem aplikasi. Mereka meminta pihak Maxim mengevaluasi dan menyesuaikan potongan tersebut dengan ketentuan yang mereka kaitkan dengan Perpres Nomor 27 Tahun 2026.
Tuntutan lainnya adalah penghentian sementara atau penutupan pendaftaran pengemudi baru.
Menurut para pengemudi, pertambahan jumlah mitra tanpa diimbangi pertumbuhan order berpotensi membuat pendapatan harian semakin terbagi. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap penghasilan dan kesejahteraan pengemudi yang selama ini menggantungkan pendapatan dari layanan transportasi daring.
Jangan Sampai Order Bertambah di Aplikasi, Tapi Penghasilan Berkurang
Persoalan yang disampaikan para pengemudi sebenarnya cukup sederhana.
Mereka ingin ada keseimbangan antara jumlah mitra, jumlah order, biaya platform, serta pendapatan bersih yang diterima pengemudi.
Sebab, dari sudut pandang mitra, banyaknya pengemudi tidak otomatis berarti semakin baik.
Jika jumlah pengemudi meningkat sementara jumlah order relatif terbatas, maka yang terjadi adalah perebutan order semakin ketat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya berapa banyak pengemudi yang terdaftar, tetapi:
Berapa rata-rata order yang benar-benar diterima setiap pengemudi dan berapa penghasilan bersih yang mereka bawa pulang setelah seluruh potongan?
Angka-angka tersebut penting untuk melihat persoalan secara objektif.
Jangan sampai yang tumbuh hanya jumlah akun pengemudi, sementara pendapatan mitra justru menyusut.
Aksi Berjalan Aman, Berlanjut Audiensi Tertutup
Aksi penyampaian aspirasi berlangsung dengan lancar. Puluhan personel kepolisian diterjunkan untuk melakukan pengamanan di sekitar lokasi.
Situasi selama aksi dilaporkan berjalan aman, tertib dan kondusif.
Setelah penyampaian aspirasi, perwakilan pengemudi Maxim kemudian melakukan audiensi dengan pihak manajemen Maxim Cabang Tasikmalaya.
Audiensi tersebut berlangsung secara tertutup dengan agenda membahas sejumlah poin tuntutan yang disampaikan massa aksi.
Hingga berita ini diturunkan, hasil lengkap audiensi antara pihak manajemen Maxim dan perwakilan pengemudi belum disampaikan secara terbuka.
Karena itu, publik masih menunggu jawaban konkret pihak aplikator, terutama terkait program Turbo, besaran platform fee, serta kebijakan penerimaan mitra pengemudi baru.
Bagi para pengemudi, tuntutan tersebut bukan sekadar persoalan teknis aplikasi.
Ini menyangkut penghasilan, biaya operasional, dan keberlangsungan hidup mereka di tengah persaingan transportasi daring yang semakin ketat.
Aksi hari ini semestinya menjadi momentum bagi semua pihak untuk duduk bersama.
Sebab hubungan antara aplikator dan mitra bukan hanya soal sistem digital dan algoritma.
Di balik setiap akun pengemudi, ada manusia yang setiap hari bekerja di jalan, menghadapi panas, hujan, kemacetan, risiko kecelakaan, serta biaya operasional yang terus berjalan.
Jangan sampai aplikasinya semakin pintar, tetapi pengemudinyajustru semakin sulit pulang membawa penghasilan.(YJT)
