Metro, Metrodeadline.com – Pemerintah Kota Metro menegaskan komitmennya untuk menjaga pertumbuhan sektor pertanian tetap stabil pada 2026, setelah pada 2025 mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 9,11 persen. Namun, capaian tersebut diakui tidak mudah dipertahankan, terutama menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026, Kamis (30/4/2026)
Dikatakan Wali Kota Metro H.Bambang Iman Santoso, bahwa pemerintah Kota Metro berkomitmen untuk terus menjaga pertumbuhan sektor pertanian agar tetap stabil pada tahun 2026.
“Kita patut bersyukur bahwa pada tahun 2025, sektor pertanian kita mampu tumbuh sebesar 9,11 persen. Ini merupakan capaian yang sangat baik, hasil kerja keras kita semua, mulai dari petani, penyuluh, hingga dukungan kebijakan pemerintah,” tuturnya.
Menurutnya mempertahankan capaian bukanlah hal yang mudah, Tantangan ke depan cukup besar, terutama dengan adanya potensi musim kemarau di tahun 2026 yang dapat berdampak pada ketersediaan air dan produktivitas pertanian.
“Saya mengajak para petani untuk menyesuaikan pola tanam, memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air, serta memanfaatkan teknologi pertanian yang ada. Kolaborasi dan kesiapan kita bersama menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini,” ungkapnya.
“Kami berharap, melalui sinergi yang kuat antara pemerintah dan seluruh pelaku sektor pertanian, dapat menjaga ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memastikan sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian daerah,” jelasnya.
Hal yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Metro Heri Wiratno, sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan, termasuk perbaikan infrastruktur irigasi di beberapa titik.
“Bantuan dari pemerintah pusat mencakup 10 lokasi, sementara melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) terdapat tambahan lima titik perbaikan, pembangunan lima sumur yang direncanakan pada 2026 untuk mendukung ketersediaan air bagi petani,” terangnya.
Heri menjelaskan, perbaikan infrastruktur tersebut tersebar di berbagai wilayah di Kota Metro, dengan tujuan memastikan distribusi air tetap terjaga selama musim kemarau.
“Kami juga mendorong petani untuk menyesuaikan pola tanam, dengan target penanaman dapat dilakukan sebelum pertengahan Mei agar tanaman memiliki waktu tumbuh optimal sebelum puncak kemarau,” katanya.
“Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko gagal panen. Meski demikian, diakui bahwa saat ini belum tersedia skema asuransi pertanian sebagai perlindungan jika terjadi kerugian akibat kondisi cuaca ekstrem,” paparnya.
“Saya berharap melalui berbagai upaya tersebut, sektor pertanian tetap mampu bertahan dan berkontribusi positif terhadap perekonomian daerah meski di tengah tantangan iklim,” pungkasnya. (Aliando)
