Metro, Metrodeadline.com – Pemerintah Kota Metro menggelar kegiatan koordinasi lintas sektor dalam rangka mengantisipasi dampak fenomena El Nino tahun 2026 yang diprediksi akan lebih panjang dan ekstrem, Kamis (30/4/2026)
Dalam agenda tersebut, turut dihadirkan narasumber dari BMKG wilayah Bandar Lampung untuk memberikan pemaparan terkait potensi perubahan cuaca dan dampaknya di wilayah Kota Metro.
Fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada tahun 2026 yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, kesehatan, lingkungan hidup, serta stabilitas ekonomi daerah.
Dikatakan PJ Sekda Kota Metro Dr. Kusbani, bahwa pentingnya kesiapsiagaan sejak dini melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Dalam sektor pertanian, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan pola tanam, khususnya pada musim tanam kedua tahun 2026, dengan memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi panas seperti kacang-kacangan dan kedelai,” ujarnya.
Pihaknya juga akan mendorong pembangunan infrastruktur pendukung seperti sumur bor dan embung, serta memastikan optimalisasi sistem irigasi guna menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
“Saya berharap masyarakat dapat mengelola sampah secara bijak, termasuk mengolah sampah organik menjadi kompos untuk mengurangi risiko kebakaran,” tuturnya.
Selain itu, Pemerintah Kota Metro juga akan meningkatkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas terkait untuk menghadapi potensi bencana kebakaran lahan.
“Sektor kesehatan menjadi perhatian utama mengingat meningkatnya risiko penyakit seperti batuk, pilek, dan diare selama musim kemarau,” jelasnya.
“Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi paparan debu dengan menyiram tanah, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” imbuhnya.
Kusbani juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan guna mengantisipasi potensi inflasi akibat penurunan hasil panen.
“Dalam hal ini Dinas Perdagangan juga akan ikut berperan dalam memonitor dan menjaga distribusi bahan pokok di masyarakat,” ungkapnya.
Kusbani mengajak, masyarakat Kota Metro tetap waspada, menjaga kesehatan, serta memperkuat koordinasi dan kepedulian antarwarga.
“Dengan kesiapan bersama, diharapkan dampak El Nino 2026 dapat diminimalisir sehingga tidak mengganggu kehidupan masyarakat secara signifikan,” katanya.
Hal yang sama disampaikan Koordinator bidang data dan informasi BMKG Lampung Rudi Harianto, bahwa berdasarkan data BMKG, fenomena El Nino diperkirakan mulai berkembang pada Mei hingga Juli 2026, dengan puncak pada Agustus 2026 dalam kategori moderat.
“Musim kemarau di Provinsi Lampung diprediksi berlangsung maksimal hingga tujuh bulan, dengan puncak pada Juli hingga September,” ucapnya.
Ia menuturkan, awal musim kemarau di Lampung bervariasi, dimulai sejak Mei hingga Juni 2026.
“Untuk wilayah Kota Metro, musim kemarau diperkirakan sudah dimulai pada awal Mei. Namun, dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan karena dukungan irigasi dan minimnya kawasan hutan,” terangnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air selama musim kemarau.
“Bagi petani agar menanam komoditas yang membutuhkan sedikit air guna menghindari gagal panen. dan masyarakat diminta mewaspadai risiko penyakit seperti ISPA akibat debu, serta perubahan suhu dari musim hujan ke kemarau,” paparnya.
Menurutnya, potensi kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian.
“Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka atau memastikan pengawasan ketat jika terpaksa dilakukan,” tambahnya.
“Untuk suhu udara, kondisi normal di Lampung berkisar antara 16 hingga 33 derajat Celsius. Namun pada puncak kemarau, suhu dapat mencapai sekitar 34 derajat Celsius, meski tidak terjadi setiap hari,” pungkasnya. (Aliando)
