Pengekangan Kebebasan Berekspresi Jurnalis

Penulis/Foto : Fredi Kurniawan Sandi

 

Diera perkembangan digital yang semakin canggih. Semua informasi dapat di akses internet melalui Smartphone, setiap detik masyarakat di dunia di suguhkan berbagai informasi dari lokal hingga mancanegara. 

Ada yang namanya citizen of the net. Ia adalah seseorang yang aktif terlibat dalam komunitas dunia maya atau internet pada umumnya.

Sementara, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis , dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media masa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan atau Jurnalis.

 Selain berpedoman dengan Undang-Undang No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Jurnalis juga harus menaati dan tunduk pada 11 Kode Etik Jurnalistik dalam menjalankan tugasnya. 

Salah satunya terdapat pada pasal 3 yang berbunyi wartawan selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Cara-cara tersebut sudah ditempuh secara profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Namun, masih ditemui di berbagai daerah dan kota di Indonesia. Ada oknum -oknum yang tidak bertanggungjawab melakukan  pengengkangan kebebasan berekspresi  hingga pengancaman kekerasan fisik atas hasil karya tulis jurnalistik.

Sementara pada pasal 11 wartawan melayani hak jawab dan hak koreksi secara profesional. Artinya tidak perlu melakukan intervensi yang melibatkan beberapa pihak untuk membungkam hingga pengancaman kepada jurnalistik.

Salah satu contohnya adalah bila ada seseorang yang merasa dirugikan atas berita yang ditulis jurnalis tidak akurat dan berimbang. Jurnalis wajib memberikan hak seseorang atau kelompok untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baik.

Kemudian hak koreksi, hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Profesional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

Jadi tidak perlu melakukan intervensi pengengkangan hingga pengancaman kekerasan fisik. Setiap orang memiliki hak menyampaikan pendapat, termasuk jurnalis bebas berekspresi bebas mencari dan mendapatkan informasi dari berbagai sumber.

 

You might also like

error: Content is protected !!