Pengamat : Gaya Marah- Marah Risma Dinilai Tak Relevan Buat Citra Politik

Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyebut kemarahan yang sering dipertontonkan Risma ke publik semakin ke sini semakin tidak relevan.

Menurut Hendri, kebiasaan ini toh tidak serta merta membuat perbaikan dalam birokrasi. Di sisi lain, daya menariknya pun bisa dibilang sudah tidak ada lagi.

“Ini namanya gaya politik drama. Memang di awal menarik. Tapi lama-lama akan dipertanyakan efektivitasnya,” kata Hendri.

Menurut dia, dengan gaya komunikasi seperti ini, tentu Risma akan menuai konsekuensi. Jika ia melakukan hal ini untuk tujuan elektoral, maka akan sulit merengkuh target politik yang hendak ia capai.

“Sulit buat jadi Gubernur Jakarta, apalagi presiden. Hal ini mesti dipertimbangkan oleh tim komunikasinya bu Risma,” kata Hendri.

Ia tak memungkiri, Risma sebagai Walikota Surabaya dikenal lewat gaya-gaya seperti ini. Namun, ketika itu terus dipertontonkan justru akan menimbulkan pertanyaan. Apalagi seringkali ia marah dan meledak secara tidak wajar.

“Enggak begitu caranya. Kalau pun mau marah-marah enggak selalu di depan publik lah. Apalagi ini diviralin,” kata dia.

Terbaru, Menteri Sosial Tri Rismaharini meminta maaf karena memarahi pendamping warga penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Gorontalo.

Risma menyampaikan maaf kepada Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Risma melakukan itu lewat pesan singkat kepada istri dari Rusli Habibi, yakni Idah Syahidah.

Sekjen Kemensos Harry Hikmat mengatakan Risma meminta maaf karena merasa ada miskomunikasi.

Ada kekeliruan data yang dipahami Risma, sehingga seharusnya tidak perlu marah kepada pendamping warga penerima bantuan sosial.

Sumber : FB Asumsi

You might also like

error: Content is protected !!