Lelaki dan Kesetiaan

Penulis : Sunarti, M.Pd Kepala SMA Negeri 6 Metro

 

 

KESETIAAN, kata Bapak, adalah berkomitmen untuk bersama melewati perjalanan waktu.

Itulah yang Bapak lakukan. Di sini, di rumah tua. Amben yang selalu aku duduki setiap aku datang masih dalam posisi sama seperti posisi saat kami masih kecil. Semua masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah.Hanya usia barang-barang itu semakin tua begitu juga dengan Bapak semakin hari semakin tua. Badannya mulai rapuh, usianya pun semakin tua.

Daun-daun berguguran, kering, mati, dan tumbuh kembali. Pepohonan yang ada di halaman rumah masih sama, pohon rambutan, jambu, mangga, sirsak, pisang, ada satu tambahan lagi, coklat. Berapa umur pohon rambutan itu? Aku mulai menghitung. Setahuku saat aku masih kecil pohon itu sudah ada.  Dulu, saat masih SD bertepatan musim rambutan, aku selalu bawa ke sekolah berbagi dengan teman-teman. Aku juga masih ingat dengan tugasku menyapu halaman, siring jalanan dari batas pagar belakang sampai depan. Anehnya, setiap menyapu pasti Bapak memperhatikanku.

“Menyapu itu harus searah Tut!” “Jangan malang melintang,” suara Bapak mengagetkanku.

Bapak memang selalu ingin kami mengerjakan sesuatu itu dengan sempurna. Jadi wajar sampai menyapu pun tak luput dari penglihatannya.

Bapak adalah sosok yang luar biasa bagiku. Bapak yang selama ini selalu menjadi motivator di dalam hidupku. Bapak yang selalu memberikan semangat dan inspirasi untuk cucu-cucunya.

Sore ini biasa mengakhiri akhir pekan, aku selalu datang dengan membawa makanan kesukaan Bapak. Sate kambing, ya… sate kambing.  Ku perhatikan Bapak sedang buat teh tubruk untuk sendiri dan satu lagi dengan gelas ukuran kecil bukan untukku tapi untuk mendiang Ibu.

“Tut, ini bukan untuk apa-apa.”

Suara Bapak mulai melemah, “Ini hanya untuk mengingat Mamakmu saat bersama melangkah dalam masa-masa sulit, membesarkan kalian sampai semua jadi orang.”

“Pastinya suasana duka ya…Pak.”timpalku.

“Dalam secangkir teh tubruk ini, tergambar jelas wajah Mamakmu.” suara Bapak lirih hampir tak  terdengar.

Biasanya Bapak langsung cerita tentang Mamak, mulai dari punya anak satu, runtut sampai adik bungsuku. Termasuk juga zaman gestapu. Bapak memang fasih bercerita dan selalu berapi-api. Jangan harap bisa menyela ceritanya bahkan untuk menyuruh berhenti pun juga ndak mampu. Biasanya aku hanya manggut-manggut saat Bapak berbicara. Bagiku menyela pembicaraan sesorang siapa pun mereka adalah tidak beretika terlebih ini adalah Bapak. Walaupun memang cerita ini sudah seribu kali lebih aku mendengarnya. Dan semua sama tentang bagaimana Bapak menempatkan sosok Mamak di dasar hatinya walaupun Mamak sudah mendahului sebelas tahun silam. Tapi dalam jiwa Bapak, Mamak masih hidup dan itu yang menguatkan Bapak dan memberinya semangat.

Aku hanya berpikir betapa bahagianyamempuyai suami yang setia, sampai meninggal pun masih dianggap hidup, dan tetap jadi penyemangat hidup di masa senja.

Bapak terus bercerita tentang mamak sambil sesekali menerawang ke langit-langit.Berharap hari akan tetap cerah,secerah obrolan sore ini. Diangkatnya secangkir teh tubruk di atas meja, didekap diantara dua tangan meresapi kehangatanya, dilihat warna kecoklatan jernih diendus bau melati merebak wangi.
“Mamakmu mendahului Bapak,” kata Bapak sambil menyeruput teh tubruk hangat buatannya.

Melihat Bapak minum teh tubruk dengan aroma melatinya itu,segarnya berasa sampai di ubun-ubunku

“Mamakmu belum merasakan bahagia,” katanya lirih.

“Tapi Bapak yakin, Mamak bahagia melihat anak-anaknya jadi guru semua.” Sebuah cita-cita yang diimpikan dulu, melihat anak-anaknya bisa  mengajarkan tentang kehidupan.

“Mamakmu sangat menyukai teh tubruk ini dengan aroma khasnya,” katanya melanjutkan.

“Di sinilah saksi bisu. Setiap sore,  di bawah pohon rambutan, di kursi bambu sambil leyeh-leyeh mendengarkan langgam jawa, tak lupa secangkir teh tubruk.” sambungnya

“Tut… hidup kita itu tak ubahnya seperti secangkir teh tubruk ini, bagaimana rasanya bergantung bagaimana kamu meraciknya.” Kata Bapak sambil melihat ke arahku.

Aku diam mencermati kalimat Bapak yang menghujam melebihi tajamnya pisau.

“Terpenting dalam hidup itu,  bagaimana kita bisa menerima segala sesuatunya dengan selalu bersyukur.”

“Jika dirasa kurang menguntungkan atau tidak berpihak kepadamu jadikan itu pelajaran hidup maka kamu akan bahagia.” Bapak kembali menghujamku

“Bapak tahu banyak yang tidak sepaham dengan pemikirannya tapi Mamakmu lebih memilih diam daripada berkata melebihi suara Bapak.” Lanjut Bapak.

Aku tidak beranjak sedikit pun.

“waah! Luar biasa semua terekam dalam memori Bapak dan terlihat tak ada yang tertinggal. Sampai-sampai kebiasaan Mamak tak luput dari ingatan Bapak,” aku tersenyum iri.

“Bahagia sekali Mamak.”

“Tak ada nama perempuan lain dalam catatan memori Bapak.”

“Tak pernah segembira apa pun kecuali bercerita tentang sosok perempuan yang sudah menemaninya.”  Gumanku dalam hati.

Mamak memang luar biasa. Sosok perempuan desa yang manut dengan suami. Perempuan yang selalu menunduk saat Bapak sedang amarah. Perempuan yang bisa menenangkan saat Bapak sedang kalut. Perempuan yang menghangatkan saat Bapak merasa kedinginan. Perempuan yang bisa menerima apa adanya. Perempuan yang berkata lembut pada anak-anaknya. Perempuan yang dengan lugu dan kepolosannya. Perempuan yang bisa menguatkan saat Bapak terjatuh.Perempuan yang tak pernah menuntut apa pun.

“Sungguh luar biasa Mamak  sampai-sampai sudah tiada pun tetap saja tidak ada yang mampu menggantikan posisinya,” pikirku.

Mamak memang tak ubahnya seperti secangkir teh tubrukini mampu membuat semangat dan menyelaraskan pikiran, menghalau rasa lemas dan mengurangi keletihan, membangunkan pikiran, dan terpenting membuat jiwa menjadi hidup kembali, itu yang Bapak rasakan saat ini.

Kembali secangkir teh tubruk dituang Bapak pelan dalam lepek piring, diangkat kedekat bibir dihisap pelan, bergetar. tercium aroma bau melati, satu dua tegukkan ‘rasa’ panas dingin, pahit, manis dan wangi, rasa perjalanan kapal layar larut dalam ombak gelombang menerjang perjalanan. Ditaruhnya kembali dengan hati-hati lepek di samping cangkir teh tubruk. (*)

Penulis : Sunarti, M.Pd.

   Kepala SMA Negeri 6 Metro

   Andalan Daerah Kwartir Daerah Lampung

You might also like

error: Content is protected !!