Sewindu Akta Nikah Ditunggu Sekretaris Desa Bermufakat Dengan Penghulu?

LAMPUNG TIMUR – Telah dilaksanakan akad nikah antara Artasim (26) bin Satrik dengan Siti Rohila (25) binti Su’ep warga Kabupaten Lampung Timur pada 2013.

Akan tetapi sangat disesalkan, hingga kini akta nikah yang diharapkan tidak diterbitkan, sedangkan seluruh persyaratan telah dilengkapi berikut uang Rp.600 ribu untuk biaya nikah.

Persyaratan administrasi dan uang untuk biaya nikah diserahkan langsung oleh Satrik sekeluarga besar kepada Samsuri Sekrataris Desa beberapa hari sebelum pernikahan berlangsung.

“Semua syarat-syarat sama duit Rp.600 ribu untuk biaya nikah sudah diserahin abah (Satrik) ke pak Carik (Sekdes) waktu pak Carik ngambil berkas dirumah, ada emak (Arnimah) sama kakang (Armadi) juga,” ungkap Siti Rohila didampingi Artasim suaminya pada Kamis, 19 November 2020 di rumah papan yang tak layak huni.

“Tapi sampek sekarang buku nikahnya belum di kasih, kami nggak punya duit kalau mau diminta lagi sampai juta-jutaan, suami saya ngederes kelapa cuma cukup buat makan sehari-hari,” keluhnya.

“Abah udah capek bolak-balik ke rumah pak Carik sama pak Penghulu, alasannya inilah, itulah, pak Carik ngomong ke pak Penghulu, pak Penghulu bilangnya ke pak Carik, jadi mana yang bener bikin bingung,” papar SR.

Ketika akan dikonfirmasi dikediamannya, Nurjaman selaku Penghulu atau Pembantu Pencatat Nikah (PPN) Desa setempat tidak berada dirumah.

“Mobilnya ada nggak di garasi, kalau ada pasti orangnya ada dirumah, tapi kalau nggak ada berarti orangnya pergi,” kata tetangga Nurjaman.

Telah sewindu lamanya pernikahan itu dilaksanakan, sampai-sampai Sekretaris Desa, Samsuri melupakan, siapa, dimana dan siapa orangtua mempelai bahkan berdalih tak menerima uang Rp.600 ribu maupun berkas.

“Siapa yang nikah, tinggal dimana dan anak siapa, seinget saya, saya nggak pernah terima duit itu, tapi nanti coba saya tanyakan dulu pak Penghulu,” kelit Samsuri saat dikonfirmasi metrodeadline pada Kamis, 19 November 2020 sekitar jam 10.00 WIB ketika bertemu tak sengaja di warung dipinggir jalan.

Setelah lebih kurang 10 jam kemudian, Sekretaris Desa, Samsuri ingkar janji dengan alasan belum bertemu dengan Penghulu Nurjaman.

“Saya mau temui Penghulu itu dulu ya,” janji Sekretaris Desa untuk yang kedua kali pada Kamis, 19 November 2020 pukul 20.30 WIB melalui WhatsApp.

Keesokan harinya, Sekretaris Desa, Samsuri meminta maaf sehubungan Penghulu belum ditemui, alasannya Penghulu sedang kerja (mengajar) di Dusun Banding Desa Sukadana Tengah Kecamatan Sukadana.

“Maaf betul saya belum bertemu Penghulunya, dia kerja (jadi guru) di Banding,” kilah pada Jumat, 20 November 2020 pukul 17.19 WIB.

Ada dugaan Sekretaris Desa, Samsuri bersekongkol dengan Nurjaman Penghulu sebab dirinya telah bertemu Penghulu, tapi tidak menyampaikan hasilnya melainkan seakan-akan atur siasat.

“Sudah ketemu saya Penghulunya, untuk kelanjutannya nanti diberi kabar,” alibi Sekdes, Samsuri pada Minggu, 22 November 2020 jam 07.16 WIB.

Delapan hari kemudian, Sekdes, Samsuri mengatakan Penghulu sedang berada di pulau Jawa ada urusan keluarga, melainkan ia kirimkan nomor WhatsApp atau telepon seluler Penghulu.

“Penghulunya lagi di Jawa ada urusan keluarga, +62 813-7909-… ini nomor WA dan telpon pak Penghulunya,” dalih Sekdes, Samsuri pada Senin, 30 November 2020 pukul 19.49 WIB.

Pada saat dikonfirmasi apakah benar ia meminta uang tebusan sebesar Rp.1,2 juta, Samsuri mengatakan dirinya tidak pernah minta uang sebesar itu baik kepada Artasim maupun Satrik.

“Saya nggak ngomong lebih kurang, cuma saya tanya (Satrik) dari tanya sama Penghulu, bukan itu saja yang saya tanya,” ujarnya pada Selasa, 2 Desember 2020 pukul 17.59 WIB.

Iapun bersumpah tidak pernah minta uang Rp.1,2 juta tersebut, justru dirinya mengirimkan nomor Handphone (HP) milik Penghulu atas perintah sang Penghulu itu.

“Demi Allah saya tidak pernah ngomong minta duit, sama (Satrik) atau anak-anaknya, saya ngirimkan nomor HP Penghulu itu, Penghulu itu yang nyuruh ngasihkan,” ucapnya.

Bahkan Sekdes, Samsuri menganjurkan agar supaya metrodeadline menanyakan kepada Satrik guna mengetahui siapa sebenarnya yang meminta uang Rp.1,2 juta untuk biaya tebusan akta nikah tersebut.

“Tanya Satrik, dia dapat (info) yang nyuruh nebus itu siapa biar jelas, saya maka tau yang cerita sama saya Satrik sendiri,” terangnya.

Setelah Wartawan metrodeadline mohon izin untuk memberitakan peristiwa tersebut, Sekdes, Samsuri memberi saran agar supaya menemui sang Penghulu.

“Maaf, saya bukan menggampangkan, ketemuan dulu dengan Nur (Penghulu) biar enak,” pendapat Sekdes, Samsuri kepada metrodeadline pada Sabtu, 19 Desember 2020 jam 06.52 WIB.

Untuk diketahui, Artasim terlahir pada tanggal, 5 Januari 1995 buah perkawinan Satrik dan Atnimah, sedangkan Siti Rohila terlahir tepat pada tanggal, 17 Agustus 1996 anak ke 3 dari 4 bersaudara pasangan Su’ep dan Hariyah.

Apa sebenarnya yang dirahasiakan antara Samsuri Sekretaris Desa dan Nurjaman Penghulu, kenapa tidak jujur menyampaikan apa penyebab akta nikah tersebut tidak kunjung diterbitkan selama 8 tahun atau sewindu.

Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada itikad baik dari Sekretaris Desa, Samsuri maupun Nurjaman Penghulu untuk menyelesaikan, keduanya terindikasi bermufakat atau bersekongkol akan melakukan gratifikasi.

(Ropian Kunang)

You might also like

error: Content is protected !!