Dibalik Keindahan Puncak Pawiki Yang Butuh Pengembangan Tersembunyi Historis Goa Pek Wikei

LAMPUNG – Untuk pengembangan kawasan peruntukan wisata alam objek wisata “Puncak Pawiki”, dibutuhkan bantuan baik uang maupun barang untuk melengkapi fasilitas umum, sarana dan prasarana penunjang.

Pengurus Pokdarwis Desa Sukadana Baru Kecamatan Marga Tiga mengharap bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah utamanya bantuan seperti yang dijanjikan oleh Chusnunia Chalim Wakil Gubernur Lampung.

“Puncak Pawiki ini dibuka awal Januari 2020, ini masih merintis, Karang Taruna sudah menyentuh pihak Dinas Pariwisata Lampung Timur, SK Pokdarwis sudah turun dari Dinas Pariwisata hanya saja sekarang proses tindaklanjutnya,” kata Komari Ketua Pokdarwis didampingi oleh Amat Humas pada Selasa, 17 November 2020 pukul 16.00 WIB dilokasi Puncak Pawiki.

“Untuk sementara kini Karang Taruna sedang berjuang bagaimana caranya berupaya agar wisata ini bisa lebih maju berkembang dengan pesat,” terangnya.

“Masalah keamanan dan kenyamanan pengunjung suatu saat berkunjung ke sini insyaallah terjamin, apalagi cuaca cerah tidak hujan cukup ramai bahkan pengunjung tidak hanya sekali, bahkan datang ke sini bawa keluarga dan teman-teman rombongan.”

Pokdarwis minta agar pihak terkait memberikan bantuan pembangunan ruas badan jalan sebagai prioritas.

“Yang kita minta dari Dinas akses jalan itu yang belum didapat, jadi bagaimana caranya harus cepat kita realisasikan,” pinta Ketua Pokdarwis.

“Jaringan listrik dan WiFi itu sudah ada, kebetulan listrik dari pengelola WiFi pak Habib intinya sama-sama menjaga, selain menjaga WiFi juga menjaga lokasi wisata,” jelasnya.

“Unilah jerih payah pemuda-pemuda Karang Taruna Gerem Pawiki sampai ikut serta di sini bahkan kita tidak ada biaya untuk memberi uang rokok atau untuk apa saja, sukarela semuanya.”

“Semua pemuda sama sekali belum mendapatkan uang untuk beli minyak bensin motor sekalipun semua anggaran mutlak digunakan untuk pembangunan.”

Inisiatif Gunung Pawiki dibuka untuk dijadikan objek wisata alam berawal dari melihat pemuda-pemudi sering datang meskipun masih hutan belukar.

“Awal mulanya, karena di sini sering ada pengunjung yang datang, meskipun di sini masih semak belukar sering banyak pengunjung sejak saya masih SMP,” ungkap Komari.

“Karena saya melihat di mana-mana ada perkembangan wisata, sedangkan kita punya Puncak marilah kita bangun untuk wisata, ya ini saya bangun bersama-sama dengan pemuda-pemuda di sini.”

“Tanpa dukungan pemuda-pemuda tidak mungkin seperti ini, perekat persatuan pemuda-pemuda di Gerem Pawiki, saya bentuk Karang Taruna sampai sekarang pun masih tetap bergerak.”

“Dan kita harus bertahan sampai nanti bisa berkembang sebagaimana layaknya wisata Kerang Mas, kita menginginkan kemajuan hal seperti itu.”

Selama ini belum ada bantuan baik dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi Lampung maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur sampai Pemerintah Desa Sukadana Baru.

“Kalau bantuan-bantuan belum ada baik dari Pemerintah Propinsi Lampung dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur maupun bantuan Pemerintah Pusat begitu juga bantuan Pemerintahan Desa, belum ada.”

Para pemuda masih prihatin dengan hanya mengandalkan pendapatan dana yang bersumber dari para pengunjung.

“Cuman sumber dana, kita, para pemuda bergerak dari hasil karcis di pintu masuk, parkir, itulah yang digunakan untuk membangunan, karena belum tersentuh bantuan dari Pemerintah.”

“Kita hanya ingin membuktikan keuletan dan kegigihan pemuda-pemuda, agar supaya bangkit, ayo singsingkan lengan baju, bahu membahu bersatu padu untuk membangun destinasi wisata.”

“SK Pokdarwis sudah turun dari Pak Junaidi Kepala Dinas Pariwisata Lampung Timur, sedangkan SK Karang Taruna sedang dalam tahap proses penerbitan.”

“Maka dari itu, kalau sudah punya SK kita mau mengajukan apapun akan lebih mudah dan gampang karena wadah sebagai legalitas sudah ada.”

“Alhamdulillah, kalau jumlah pengunjung dalam sehari ada sekitar 50 sampai 100 orang pada hari-hari biasa, saat suasana covid 19 jumlahnya tidak bisa ditentukan.”

Membludaknya pengunjung mencapai lebih kurang 2,000 orang tepat pada Jum
Jumat, 31 Juli 2020 atau Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah.

“Pernah membludak pengunjung di hari lebaran Haji atau Idul Qurban , kita punya gebrakan sampai 2,000 orang, kalau hari Minggu sekitar 300-an orang.”

Ketua Pokdarwis Desa Sukadana Baru berharap kepada Pemerintah maupun Pemerintah Daerah dapat berkunjung.

“Harapan kita ke Pemerintah agar bisa menyentuhkan kaki ke Puncak Pawiki untuk membangun, kita inginkan pihak Pemerintah datang berkunjung dan juga mengucurkan bantuan uang atau barang, fasilitas sarana dan prasarana.”

“Di sini bangunannya belum layak, masih sangat sederhana, kita minta supaya diganti dengan bangunan permanen, bangunan kita cuma pakai kayu hutan, bambu, semua material dari alam.”

Prioritas utama yang diminta bangunan jalan lebih kurang sepanjang 1 kilometer berikut drainase.

“Kalau saya, yang pertama minta akses jalan, karena itu yang betul-betul kita perlukan, panjangnya lebih kurang sekitar 1 kilometer berikut talud.”

“Karena saking inginnya berkunjung ke sini, kendaraan diparkir dibawah dekat perkampungan, mereka berjalan kaki cukup jauh sampai ke sini kita pun merasa kasihan.”

“Kita juga dari pemuda Karang Taruna membantu mendampingi melakukan pengawalan, mulai dari tempat parkir kendaraan sampai ke Puncak Pawiki
berikut pulangnya pun dikawal.”

Disinggung apakah di Gunung Pawiki terdapat petilasan-petilasan situs bersejarah.

“Kalau cerita dulu (petilasan) memang ada dari (Sariyo) orang tua saya, juga kebetulan ladangnya di sini ratusan tahun mungkin sudah ketutup tanah.”

“Kalau kita lihat dengan Indra tidak bisa, mungkin orang yang memiliki kelebihan bisa melihat orang tapa didalam Goa.”

Konon, dibagian Tenggara Gunung Pawiki terdapat Goa dan orang bertapa sejak tahun 800 masehi belum keluar sampai sekarang bahkan pintu Goa sudah berlumut.

“(Ada Goa) itu memang benar, pernah kebakaran disekeliling tempat itu (pintu Goa) tidak tersentuh api, mungkin (ada seorang pertapa telah 1,200 tahun) maka itu harus kita jaga, dirawat, akan dibikin pagar untuk dilindungi.”

Bukan hanya sekedar berekreasi, justru karena merasa aman dan nyaman para pengunjung juga melakukan camping.

“Saking pengunjung merasa aman dan nyaman sampai-sampai mereka datang kamping di sini sebab sambutan dari semua pemuda-pemuda semua bagus sehingga merekapun kamping sini.”

“Kepada pengunjung kita sudah kasih saran, kalau bicara jangan berlebihan, ucapan yang tidak bagus jelas dilarang walaupun bukan ditempat yang mistis.”

“Disini juga dilarang bawa minuman keras bahkan di sini sudah tidak ada lagi, alhamdulillah sekarang tidak perlu diperingatkan lagi, pengunjung sudah menyadari begitu juga senjata tajam tidak boleh dibawa.”

Ketua Pokdarwis tidak menemui Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim alias Nunik melainkan diwakili oleh Wakil Ketua, Bendahara dan Humas.

“Kebetulan saya memandu di sini, kita wakilkan ke Humas dan Wakil Ketua serta Bendahara yang menemui Wakil Gubernur Lampung di Way Jepara,” tutup Ketua Pokdarwis.

Humas Pokdarwis, Amar pada Minggu, 8 November 2020 mewakili Komari untuk temui Chusnunia Chalim Wakil Gubernur Lampung di Kecamatan Way Jepara.

Tujuan Amar menagih janji yang pernah diucapkan Nunik Wakil Gubernur ketika masih menjabat Bupati Lampung Timur.

“Kita nunggu janji bu Nunik waktu masih jadi Bupati Lampung Timur, dia pernah janji mau buka Wisata Gunung Gerem Pawiki ini mau dijadikan salah satu Destinasi Wisata,” ungkap Amar.

“Alhamdulillah sekarang beliau sudah menjabat wakil Gubernur dan kami sebagai pengelola sudah ketemu sama beliau pada hari Minggu atau seminggu yang lalu.”

Untuk kedua kalinya, Nunik berjanji akan mengucurkan dana baik yang bersumber dari APBD Propinsi Lampung maupun Lampung Timur.

“Ketika itu kita membicarakan masalah pengelolaan Puncak Pawiki, respon beliau sangat positif, mudah-mudahan untuk tahun 2021 kita mendapatkan bantuan anggaran,” terangnya.

“Entah itu anggaran dari Pemerintah Lampung Timur atau Provinsi Lampung, itulah yang kami bicarakan ketika itu bersama beliau untuk pengembangan Destinasi Wisata Puncak Pawiki.”

“Harapan kami, agar beliau meluangkan waktu untuk berkunjung kesini dalam rangka berekreasi, melihat anak-anaknya di Puncak Pawiki, itu harapan terbesar kami” harap Humas Pokdarwis.

“Dan kedua beliau dapat membantu untuk pengembangan wisata kami baik memberikan bantuan uang, fasilitas maupun sarana prasarana.”

Gunung Pawiki berasal dari nama hewan Trenggiling, masyarakat asli pribumi Suku Lampung menyebutnya Pek Wikei (Tempat Trenggiling) kebetulan Gunung Pawiki tempat bersarang Trenggiling.

“Nama Gunung Pawiki asalnya dari hewan yaitu Trenggiling, kata (Ali Basah) orangtua saya, kalau masyarakat asli Suku Lampung nyebutnya “Pek Wikei” (Tempat Trenggiling) sebab di Gunung itu tempat bersarangnya Trenggiling,” kata Warsito (56) mantan Kasi Keamanan Desa Sukadana Baru.

Hal itu dibenarkan oleh Amar, ia sering melihat Trenggiling dilokasi Puncak, kedepan rencananya akan dibuatkan tempat agar terlindungi dan dapat dilihat para pengunjung sembari perlahan-lahan juga menata disekitar lokasi Goa.

Masyarakat berharap nantinya, Goa yang masih tersimpan dibagian Tenggara Gunung Pawiki dapat juga dijadikan lokawisata “Goa Pek Wikei” sesuai nama aslinya meskipun belum bisa terjamah seperti Goa Simatu atau Goa Matu di Kabupaten Pesisir Barat dimasa lampau teramat angker tempat Prabu Brawijaya bersemedi atau tapa.

(Ropian Kunang)

You might also like

error: Content is protected !!