Daerah

Urusan Fasilitas Rekreasi Objek Wisata, Kadispar Lamtim, Junaidi : Kita Bahas Segera

1433
×

Urusan Fasilitas Rekreasi Objek Wisata, Kadispar Lamtim, Junaidi : Kita Bahas Segera

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG TIMUR – Menyikapi perihal fasilitas rekreasi pada Objek Wisata Beringin Indah Desa Negara Nabung dan Objek Wisata Sesat Agung Sukadana Kecamatan Sukadana, Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kabupaten Lampung Timur, Junaidi akan melakukan pembahasan dengan segera.

Pihaknya akan mengadakan rapat koordinasi (Rakor) dengan para tokoh dan Kepala Desa diseputaran pusat Objek Wisata dan Rakor akan langsung diadakan dilokasi baik di Objek Wisata Beringin Indah Negara Nabung maupun Objek Wisata Sesat Agung Sukadana.

“Ya, terimakasih, kita bahas segera, tolong dikoordinasikan dengan para tokoh dan Kepala Desa diseputaran Danau Beringin Indah, kita jadwalkan rapat di lokasi, silahkan koordinasi (dengan) pak Adianto Kabid Destinasi (baik) waktu dan tempat,” kata Junaidi pada Selasa, 29 September 2020 jam 04.26 WIB melalui WhatsApp.

Demikian juga halnya dengan fasilitas rekreasi pada objek wisata Sesat Agung Sukadana yang akan dibahas dan dikoordinasikan dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur.

“Ya, kita bahas dengan Dinas terkait Dinas Pendidikan dan Kebudayaan karena tupoksinya,” tambah Kadis Pariwisata Lamtim itu.

Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur, Adianto akan menindaklanjuti.

“Baik, segera kita tindaklanjuti,” ujar Adianto pada Selasa, 29 September 2020 jam 06.59 WIB melalui WhatsApp.

Sebelumnya, menyikapi fasilitas rekreasi pada Objek Wisata Sesat Agung Sukadana seolah-olah seakan-akan hanya akan tinggal kenangan saja dikarenakan tanpa dilengkapi sarana prasarana memadai bahkan bangunan berbahan kayu atau papan tersebut telah tampak lapuk keropos menua termakan usia.

Sehingga, hal itu mendapat beragam tanggapan atau komentar dari berbagai kalangan masyarakat, mengingat, Kota Sukadana merupakan Kota tertua di Kabupaten Lampung Timur.

Kota Sukadana telah didirikan tahun 1650 silam pada zaman onder afdeling era kependudukan Pemerintahan Hindia Belanda, sudah seharusnya pembangunan di Desa Sukadana diprioritaskan khususnya Sesat Agung Sukadana dan lainnya.

Henni Kristiani Tarigan warga Kecamatan Sukadana juga turut berkomentar menyikapi tentang kondisi bangunan Sesat Agung Sukadana itu.

“Bangunan Sesat Agung Sukadana, yang terletak tidak jauh dari Kota Sukadana merupakan bangunan Khas Suku Lampung dan merupakan bangunan yang menunjukkan sejarah Suku Lampung khususnya Marga Unyi Sukadana,” tutur Henni Kristiani Tarigan pada Minggu, 27 September 2020 pukul 18.56 WIB, dimana sebelumnya dijumpai metrodeadline ketika sedang selfi ria pada petang harinya bersama rombongan didepan bangunan Sesat Agung Sukadana.

“Tempat ini bisa dijadikan Objek Wisata bagi wisatawan untuk berfoto-foto ria bersama rombongan, khususnya kami grup Goes Ibu-ibu Sukadana dan sekitarnya,” kata ibu Bhayangkari di Mako Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor Lampung Timur.

Ia juga berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur khususnya Dinas Pariwisata dapat lebih memperhatikan keasrian dan pemeliharaan serta perawatan agar dibuat lebih indah karena Sesat Agung merupakan salah satu aset Lampung Timur.

“Saya berharap untuk Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pariwisata lebih memperhatikan keasrian bangunan ini supaya tetap terpelihara, terawat dan apabila memungkinkan dibuat lebih indah dan cantik, karena ini merupakan aset Lampung Timur,” harap anggota Group Goes Ibu-ibu Sukadana dan sekitarnya.

Sebelumnya, Angga Satria SH salah satu pemuda asli Desa Sukadana mengatakan Sesat Agung merupakan Rumah Adat Masyarakat Lampung tentunya harus

“Sesat Agung merupakan Rumah Adat Masyarakat Lampung, tentu yang harus diprioritaskan, itu adalah cagar budayanya, agar orang dapat tertarik dan mampir baik hanya untuk sekedar foto-foto atau selfi dan melihat-lihat serta memperoleh informasi tentang sejarah mengenai Adat Budaya Lampung,” tegas Angga kepada metrodeadline pada Minggu, 27 September 2020 pukul 15.13 WIB melalui WhatsApp.

Masih menurut Angga Sesat Agung belum maksimal apabila untuk dijadikan sebagai tempat Objek Wisata hal itu disebabkan oleh karena masih teramat banyak pekerjaan rumah (PR) bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur.

“Kalau menurut saya, wisata Sesat Agung belum maksimal untuk di jadikan Objek Wisata, masih banyak PR dinas pariwisata,” tegas Aktivis yang baru-baru ini diangkat dan disumpah menjadi Advokat PERADI.

Tak hanya itu, masyarakat juga menyoroti pembuatan nama jalan terputus-putus, mulai dari jalan Soekarno-Hatta, jalan Jendral Sudirman terputus hanya lebih kurang 200 meteran dan disambung jalan Sukadana Indah.

Sementara, diantara jalan Jenderal Sudirman terdapat 2 papan informasi yaitu papan informasi Objek Wisata Sesat Agung Sukadana dan papan informasi gedung Sesat Agung Sukadana.

Sejenak kita menoleh kebelakang untuk mengenang pada masa 370 tahun silam, tentang historis atau sejarah berdirinya Kota Sukadana sebagai Kota Tertua pada era kolonial Belanda mulai didirikan tahun 1650 hingga defenitif menjadi Desa Sukadana pasca era Kemerdekaan tahun 1955.

Muncul figur sosok pemimpin Kota Sukadana yaitu Hasanuddin Bukik almarhum di zaman onder afdeling era pendudukan kekuasaan kolonial Belanda.

Disamping itu juga terdapat Tokoh Masyarakat Adat Sukadana yang bernama Abdul Wahab Bukik gelar Pesirah Tuho (Pesirah Tertua), dia adalah kakak tertua Hasanuddin Bukik, yang memimpin wilayah cukup luas dikala itu.

Setelah era Kemerdekaan berdirilah Desa Sukadana dipimpin oleh Muslim Asnawi almarhum, Ahmad Bahri Way Kunang almarhum, Zulkifli Arsyad almarhum, Daryono, Fathullah, Edi Yusuf dan kini dipimpin oleh Idrus.

Tak sengaja terpantau, saat metro deadline membidik barisan kendaraan roda empat yang terparkir mengular disepanjang Jalan Jenderal Sudirman Desa Sukadana Kecamatan Sukadana.

Tampak terpampang papan informasi bertuliskan “Objek Wisata Sesat Agung Sukadana” dengan tanda panah mengarah ke lokasi bangunan Sesat Agung Sukadana dengan jarak lebih kurang 50 meter.

Sesat Agung Sukadana adalah Rumah Adat asli Masyarakat Adat Marga Unyi Sukadana berlokasi di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, merupakan salah satu bagian dari Abung Siwo Migo atau Abung Sembilan Marga.

Aprizal bin Edi Tarzan (25) seorang pelatih Sanggar “Kenui Tumbai” Sukadana secara resmi didirikan tahun 2018 melatih peserta didiknya menggunakan lantai dasar Sesat Agung Sukadana.

“Yang melatarbelakangi pendirian sanggar seni Kenui Tumbai, pertama yang saya perhatiin karena budaya seni di Sukadana anak mudanya kurang peduli dengan seni budayanya,” tutur Aprizal pada Minggu, 26 September 2020 pukul 16.30 WIB saat ditemui disela-sela kesibukannya melatih adik-adik penari.

“Kebetulan saya memang berasal dari keluarga ahli seni atau seniman, mungkin saya berawal dari hobi, lanjut saya suka, lalu saya tularkan pada adik-adik sampai sekarang,” kata Ketua Sanggar Kenui Tumbai Sukadana itu.

“Sebenarnya, sudah lama sejak tahun 2012 saya nari cuma saya tamat sekolah itu mulai 2014 baru saya tergerak untuk melatih adik-adik kelas melatih adik-adik lainnya di sanggar,” ujar pelatih tari tersebut.

Ia berinisiatif melatih tari-tarian di Sesat Agung dikarenakan peserta didiknya kian bertambah dan mempermudah latihan.

“Saya berinisiatif latihan di Sesat Agung ini karena kalau di rumah ruangannya kurang dan sekarang muridnya tambah banyak jadi biar mempermudah latihan saya bawa ke sini,” terangnya.

Tujuan agar suasana Sesat Agung menjadi lebih tampak hidup daripada dijadikan sebagai tempat nongkrong anak-anak muda.

“Biar Sesat Agung ini terlihat hidup karena selama ini saya lihat hanya dijadiin tempat tempat nongkrong anak-anak muda saja, jadi selain kami merawat kami memakainya dengan memanfaatkan,” jelasnya.

Peserta didiknya yang aktif lebih kurang 50 orang dari keseluruhan jumlahnya mencapai sekitar 150 orang.

“Anggota aktif sekarang kurang lebih 50 orang untuk keseluruhan cukup lumayan banyak sekitar lebih kurang 150-an.”

Sejak berdiri tahun 2018 silam, sanggar Kenui Tumbai Sukadana belum mendapatkan bantuan baik uang maupun barang dari Pemerintah ataupun Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur.

“Kalau bantuan belum sih, tapi kalau untuk diajak pentas di acara acara sudah lumayan sering tapi kalau untuk bantuan langsung kayaknya belum seperti pakaian juga belum ada,” ungkap pemuda alumni SMAN 1 Sukadana itu.

“Harapan kepada Pemerintah agar supaya Sesat Agung lebih diperhatikan lagi, seluruh seni tradisi daerah bersama seni tradisi Lampung Timur yang masih ada sekarang.”

“Seperti diadakan pelatihan-pelatihan pada generasi generasi muda jangan dihilangkan khususnya Marga unyi Sukadana,” ujar Aprizal yang juga menjadi peserta didik SMPN 1 Sukadana.

“Kalau saya mungkin Sesat Agung harus tetap, kalau di sini di jadi in Objek Wisata Sesat Agungnya lebih dihidupin lagi seperti dikasih alat musik, pakaian adat yang berhubungan dengan adat Lampung untuk pelatihan-pelatihan.”

“Kalau memang ini mau dijadiin Objek Wisata harus sesuai dengan yang terpampang namanya di papan nama itu walaupun di Google tulisan ada mungkin ini cuma Sesat Agung.”

“Sedangkan Pemerintah sudah mengubahnya menjadi Objek Wisata, tapi dia orang kurang mengelola mungkin karena ada pergantian Pemerintah.”

“Kita punya Rumah Adat ini cuman satu di Sukadana khususnya, dilengkapi, diurus lah, lebih diperhatiin lagi, seperti bangunannya ini sudah buruk padahal arsitekturnya unik dan bagus dan asri atau asli,”

“Jadi diperhatikan kayak awal-awal dulu pertama dibangun menurut saya bagus saat ini cuman mungkin lebih dilengkapi lagi lebih kreatif lagi mungkin diisi lagi lebih dihidupin lagi,” pungkas murid SDN 1 Sukadana.

Menurut Ibrahim penjaga Sesat Agung Sukadana, awal mulanya alat seni seperti Kolintang, Talo dan kursi lipat stainless steel disediakan, akan tetapi diambil oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lampung Timur.

“Dulu ada alat-alat seperti talo, kulintang dan kursi lipat stainless steel ada sekitar 100 buah diambil oleh Dinas Pariwisata,” kata Ibrahim penjaga Sesat Agung pada Minggu, 26 September 2020 pukul 17.00 WIB saat ditemui dirumah jaga dibelakang Sesat Agung Sukadana.

“Maunya seperti Sesat Agung didaerah-daerah lain, sarana dan prasarananya lengkap bahkan ada yang dipasang AC,” harapnya.

Sebelumnya telah diberitakan metrodeadline pada edisi Sabtu, 12 September 2020 dengan judul, Keluhkan Fasilitas Wisata Beringin Indah, Kabid Destinasi Pariwisata Tak Dapat Bicara.

(Ropian Kunang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!