Pupuk Bersubsidi Menyimpang, Intelijen Investigasi BPAN LAI, Medi Mulia : Temuan Ini Harus Segera Ditindaklanjuti

Laporan : Ropian Kunang

 


LAMPUNG TIMUR – Menyikapi temuan penyimpangan atau pendistribusian puluhan ton pupuk bersubsidi tidak sesuai dengan peruntukannya, oleh sebab itu anggota Intelijen Investigasi Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), Medi Mulia meminta dan berharap pada Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten Lampung Timur dan jajaran, khususnya Kepolisian Sektor Wawai Karya menindaklanjuti sampai tuntas sesuai hukum berlaku.

Menurutnya, pupuk bersubsidi tersebut sebagai barang dalam pengawasan yang diperuntukkan bagi masyarakat anggota kelompok tani (Poktan) dengan lahan seluas dua hektar. Pemanfaatan atau penggunaan pupuk bersubsidi harus diawasi oleh KP3 Kabupaten Lampung Timur dan jajaran, akan tetapi terindikasi terjadi kelalaian sehingga menyebabkan pupuk bersubsidi itu penyimpangan.

“Ini memang sudah jelas fatal jadi harus gunakan pasal, perintah pimpinan kita dari Lembaga Aliansi Indonesia yang langsung menyurati Kepolisian Sektor Wawai Karya bahwa temuan ini harus segera ditindaklanjuti,” tegas Medi Mulia Intelijen Investigasi BPAN LAI pada Kamis, 30/4 kemarin usai dari Kepolisian Sektor Wawai Karya.

“Harapan, permasalahan ini harus dituntaskan karena merugikan negara sebab Pemerintah sudah mengeluarkan anggaran subsidi setiap perkilogram pupuk tersebut. Terkait permasalahan pupuk yang selama ini hilang timbul (langka) berarti permainan pengecer, ini baru terungkap, sedangkan yang sebelum-sebelumnya berarti inikan sudah lama,” harap Medi.

Sebelumnya, saat akan dimintai keterangan tentang perkembangan hasil penanganan dugaan penyimpangan pupuk bersubsidi, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Wawai Karya IPTU Henur, M, SH., MH. tidak berada ditempat sedang melakukan pemantauan.

“Nanti saya sampaikan ke pak Kapolsek, apa perkembangan permasalahan, saya juga mau ngecek surat terkait urusan ini,” kata Bripka Erwan Kanitreskrim Polsek Wawai Karya.

Medi Mulia juga meminta pejabat terkait memberikan tindakan tegas terhadap Kordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Wawai Karya dan juga staf serta penyuluh pertanian yang disinyalir tidak menaati jam masuk kerja.

“Nggak mesti (Kantor) sekarang jarang (buka), selama puasa belum (pernah) dateng, (Korluh) pak Puji, katanya mau pensiun, biasanya mbak Is (petugas kebersihan) dateng,” kata seorang ibu rumah tangga disekitar kantor Korluh Pertanian Wawai Karya.

Pelaku tindak pidana penyalahgunaan pedistribusian pupuk bersubsidi sesuai

Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2005 Tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi Sebagai Barang Dalam Pengawasan Pasal 6 ayat 1

Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang Ekonomi subsider Pasal 60 ayat 1 Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Budidaya Tanaman, terancam lima tahun penjara dan denda Rp 250 juta.

Juga berlaku Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten / Kota mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penyimpanan serta penggunaan pupuk dan pestisida di wilayah masing-masing.

Baik melalui pemantauan secara langsung terhadap penyediaan dan penyaluran pupuk dari Lini III sampai dengan Lini IV dan Kelompok Tani (Petani), maupun secara tidak langsung melalui monitoring dan evaluasi terhadap laporan hasil pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait dan Tim KP3.

Kepolisian dan kejaksaan merupakan salah satu unsur yang masuk ke dalam susunan anggota Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida di tingkat Kabupaten.

Sebelumnya telah diberitakan pada edisi Rabu, 28 April 2020 dengan judul, Puluhan Ton Pupuk Subsidi Disalurkan Ke Pengusaha Perkebunan Kelapa Sawit.

Puluhan ton pupuk bersubsidi jenis urea diperjualbelikan oleh SR alias Edeng pengecer kepada Ra alias Betok pengusaha perkebunan kelapa sawit dengan luas ratusan hektar, keduanya warga Desa Sumber Rejo Kecamatan Waway Karya.

Selain Edeng, dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi untuk perkebunan kelapa sawitnya, selama ini Be juga membeli kepada bu Ca selaku pengecer di Kecamatan setempat.

Menurut pengakuan Be, ia mendapat pupuk bersubsidi dari dua orang pemilik kios atau pengecer yang dipanggil Ed dan Bu Ca.
(Tim Intelijen Investigasi BPAN LAI)

You might also like

error: Content is protected !!