Dugaan Kongkalikong Korwil PSDA Way Jepara Dengan Ketua P3A

Laporan : Ropian Kunang

LAMPUNG TIMUR – Tukiman menjabat Koordinator Wilayah (Korwil) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Way Jepara, pengganti Suliman sejak April 2019 lalu. Sesuai tugasnya Tukiman bersama jajaran melaksanakan pemeliharaan rutin maupun berkala disekeliling bangunan jaringan irigasi Bendungan Negara Batin Sukadana dengan kapasitas mengairi sawah seluas 143 hektar.

Bendungan negara batin tidak mempunyai bangunan jaringan irigasi sekunder, air dari bangunan bendung dengan luas lahan lebih kurang 99 hektar langsung dialirkan melalui jaringan irigasi primer dengan panjang sekitar 6 kilometer ke jaringan irigasi tersier.

“Kalau ada perintah dari dinas kita kerjakan, DAM negara batin hanya satu saluran (primer), (air) turun itu langsung (ke jaringan) tersier,” kata Tukiman Senin, 30/3 jam 10.00 WIB diruang kerjanya.

Tukiman disinyalir menuding kegiatan gotong-royong masyarakat warga Desa Sukadana Timur disekitar area bendungan negara batin hanya dilakukan pada saat akan dijadikan pusat objek destinasi wisata.

“Tapi kalau pemeliharaan itu ada tetap kita kerjakan, gotong royong itu karena mau dijadikan itu (destinasi wisata). Coba kalau nggak, itu nggak mungkin gotong-royong, maaf lo ini, udah berapa bulan rumput, kalau musim (hujan) kayak gini udah tinggi lagi,” kelit Korwil PSDA Way Jepara itu.

Pemeliharaan rutin pemotongan rumput di jaringan irigasi Bendungan Negara Batin dilakukannya setiap triwulan, sedangkan di Bendungan Danau Way Jepara setiap bulan sehingga diduga tidak sesuai interval masa layanan yang direncanakan sebagai jaringan irigasi klasifikasi C.

“Seperti saluran di Way Jepara saja setiap sebulan dibabat udah tinggi lagi, apalagi disitu, 3 bulan atau 4 bulan sekali, triwulan nggak mesti kadang-kadang 4 bulan maka wajar kalau segitu.”

Korwil PSDA Way Jepara Tukiman mengungkap bahwa pemeliharaan rutin dijaringan Bendungan Negara Batin yang dilakukan pihaknya, juga diduga sama prakteknya dengan yang dilakukan oleh 9 Korwil lain tidak sesuai interval masa layanan yang direncanakan pada jaringan irigasi klasifikasi C.

“Dimana-mana saya rasa seperti itu, PID PID saya rasa, biasanya kalau situasi kayak gini anggarannya (disalurkan) lama.”

Sebaliknya, apabila masyarakat Desa Sukadana Timur tidak gotong royong di jaringan Bendungan Negara Batin, maka kegiatan pemotongan rumput pada jaringan irigasi tersebut tidak mungkin akan terpantau dan terkuak.

“Itu kalau nggak mau dijadikan tempat wisata nggak mungkin kerja bakti (gotong royong) disitu,” ungkapnya.

Handri Yanto Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Raja Basa Lama (Rabala) II Kecamatan Labuhan Ratu seakan-akan berkelit. Semula mengaku sejak tahun 2013 telah menjadi P3A merangkap petugas pintu air (P2A) membagi air untuk mengairi lebih kurang 96 hektar sawah produktif di desa Rabala I dan Rabala II.

“Ini nggak lancar ada yang jebol di PLP2RP, jadi airnya harus saya gilir,” kata Handri Yanto pada Senin, 30/3 yang dihubungi melalui telepon selulernya saat sedang dapat giliran ronda malam.

Dirinya seringkali bergotong royong bersama para petani pemakai air setiap musim tanam, ia juga diperintah pihak Korwil PSDA Way Jepara untuk melakukan pemotongan rumput disepanjang jaringan irigasi.

“Saya sering gotong-royong sama petani mulai mau tanem, babat rumputnya saya kadang disuruh dari PU,” terang Ketua P3A itu.

Handri Yanto juga ditugaskan mencari pekerja untuk pemotongan rumput di jaringan irigasi Bendungan Negara Batin dengan upah harian Rp.100 – Rp. 125 ribu.

“(Pemotongan rumput) itu ggak pasti, maksudnya nggak tiap bulan, (pekerja) kadang orang 10, orang 6 saya nyari, (upah) harian sama seperti di PT 100 ribu kadang 125 ribu liat bongkor dan tidaknya,” jelasnya.

Terakhir pekerjaan pemotongan rumpur di jaringan irigasi bendungan negara batin Desember 2019, dikerjakan oleh pekerja tidak menentu, 7 orang pekerja maka dapat menyelesaikan lebih kurang sepanjang 1 kilometer.

“Yang terakhir dikerjakan bulan 12, yang kerja orang 7 nggak mesti kadang libur, kadang orang 8, orang 9,” paparnya.

“(Waktu pemotongan rumput) waduh nggak pasti, dalam 1 hari kalau orang 7 yang kerja dapet 1 kilometer, itu kalau yang bongkor nggak dapet,” masih kata Handri Yanto.

“Setahun (pemotongan rumput) itu nggak bisa di pastikan juga, ada kalau 4 kali, yang nyuruhnya dulu dari KPD pak Suliman, sekarang pak Tukiman orang PU,” lanjutnya.

Disinyalir terdapat persawahan yang beralih fungsi ke tanaman ubi kayu dan jagung karena air tidak memenuhi kebutuhan akibat jaringan irigasi rusak atau jebol.

“Memang ada yang alih fungsi tanem singkong dan jagung, karena air nggak bisa memenuhi sawah sebab ada yang jebol, (sawah beralih fungsi) kalau saya nggak bisa pas,,” cetus Ketua P3A itu.

Juga terdapat sejumlah area persawahan di sekitar eks Pusat Latihan Perintis Pengembangan Regional Pemuda dan Pramuka (PLP2RP2) yang disinyalir tidak produktif karena pemilik lahan sulit diajak musyawarah.

“Cuman yang di PLP2RP2 Itu tanah-tanah sengketa juga banyak yang nggak digarap, katanya yang punya lahan susah diajak rembukan.”

Ia tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci ketika ditanya berapa luas area sawah daerah irigasi yang telah beralih fungsi.

“Untuk sementara banyak yang kosong nggak ditanemin bahkan nganggur, dulunya itu sawah, untuk sementara (berapa jumlah) belum bisa menjawab.”

Ketua P3A, Handri Yanto mengetahui tentang tugasnya karena selain menjadi Ketua P3A juga merangkap jadii petugas pintu air (P2A) honorarium Rp. 850 ribu sebulan.

“Sedikit banyak tau, (pekerjaan) saya meliputi bendungan negara batin itu, saya petugas P3A, yang ngatur air saya, saya disitu juga juru pintu juga.”
Handri Yanto menjadi P2A tanpa surat keputusan (SK) dan pernah terputus, kembali aktif tahun 2013 dengan honorarium Rp. 850 ribu perbulan.

Ia juga menerima fasilitas sepeda motor BE3005NZ merek Vega, sedangkan rumah jaga tidak dihuni.

“SK nggak pegang, honor 850 ribu sebulan, itu motor dinas dikasih, rumah jaga nggak ditunggu tapi dulu saya besar disana.”

Handri Yanto berpendidikan SMA, lupa nama-nama pekerja pemotong rumput di jaringan irigasi pada triwulan keempat Desember 2019 lalu.

“Nama-nama yang kerja babat rumput lupa karena ganti-ganti. Disini nggak ada yang mau jadi P3A kerja sosial dapet capek, istri nyuruh berhenti.”

Petani pemilik seperempat hektar sawah saja enggan bayar uang janggolan Rp.25 ribu karena merasa sudah bergotong -royong.

“(Pemilik sawah) Seperempat (hektar diminta uang) 25 ribu banyak nggak bayar, katanya sebentar-sebentar gotong – royong kenapa masih disuruh bayar.”

Handri Yanto warga Desa Sukadana Timur mengatakan pekerjaan gotong-royong potong rumput semak belukar (dalam video) tersebut dilakukan di seberang bangunan Bendungan Negara Batin Sukadana berbatasan langsung dengan PT.GGP/PG4 eks PT.NTF

“Itu yang di (seberang) arah (perbatasan) PT (PT. GGP/ PG4/ PT.NTF),” kelitnya pada Selasa, 31/3 pukul 14.00 WIB dihadapan Kepala Desa Raja Basa Lama II Kecamatan Labuhan Ratu, Jumadi.

Saat dirumahnya, Handri mengatakan bahwa ia membeli material pasir untuk merehab bangunan drainase pakai uang pribadinya.

“Saya beli pasir untuk rehab saluran yang sudah jebol saja pakai uang pribadi saya,” kilahnya.

Menurut seorang petani penggarap sawah seluas setengah hektar, jaringan irigasi rusak berat.

“Cuma ledengnya sekarang ini jebol minta didandan, jebol parah cuman di talud talud sama karung,” keluh petani pada Selasa, 31/3 pukul 14.30 WIB saat ditemui dibelakang eks bangunan PLP2RP2 sedari sawah.

Hasil pantauan, pemeliharaan rutin jaringan irigasi disinyalir dilaksanakan dilokasi tertentu khususnya di tempat berlalu-lalang masyarakat umum.

Bahkan ditemukan disekitar pintu air, rumputnya disemprot menggunakan obat rumput diduga kuat tidak dilakukan kegiatan pemotongan rumput.

Setelah ditelusuri, ternyata Handri Yanto menjadi Ketua P3A merangkap P2A disinyalir meneruskan almarhum orangtuanya yang juga pensiunan dari Dinas PU Lamtim.

Terdapat 10 macam pemeliharaan rutin yaitu pembersihan sampah di muka bangunan air, pemotongan rumput,
pembersihan saluran (tumbuhan air), pemeliharaan tanggul, bangunan air (pembersihan, pelumasan dan pengecatan)

Pemeliharaan jembatan (pengecatan dan perbaikan ringan), jalan, kantor dan rumah dinas (termasuk perbaikan ringan), pemanasan dan perbaikan pompa (Grease, Oli dan fan belt) dan kalibrasi alat ukur.

Sebelumnya, telah diberitakan pada edisi Senin, 30/3 dengan judul, Dana Pemeliharaan Jaringan Irigasi Bendungan Negara Batin Dipertanyakan.#

You might also like

error: Content is protected !!