Hydrant Tak Mampu Cegah Kebakaran Stakeholder Lampung Timur Bertindak?

LAMPUNG TIMUR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Timur mengungkapkan hydrant alat pemadam kebakaran yang standby dan belum lama ditambah jaringan disinyalir kurang maksimal saat dioperasikan dalam saat terjadi kebakaran di Pasar Way Jepara pada Selasa, 24/3 malam.

Kepala BPBD Lamtim, Mashur Sampurna Jaya menyatakan, dampak kebakaran mengakibatkan hangusnya 86 unit kios ukuran 2 x 2,5 meter, 14 kios ukuran 4 x 4 meter, 50 los ukuran 2 x 2 meter, 1 unit kantor satpam dan 1 unit MCK 4 pintu.

Sumber api diduga berasal dari salah satu kios yang berada di belakang pos pasar yang berdampingan dengan ruangan pendorong mesin hydrant.

BPBD Lamtim menempatkan tiga orang petugas jaga pemadam kebakaran (damkar), seorang diantaranya bertugas di pasar dan dua orang lainnya standby dirumahnya masing-masing.

Pada saat kejadian, petugas yang piket saat itu berupaya mengoperasikan hydrant yang ada di Pasar Way Jepara. Namun tidak berfungsi secara maksimal. Sedangkan api dengan cepat merembet dan membesar.

“Mesin Hydrant di Pasar Wayjepara yang merupakan salah satu dari lima hydrant yang ditempatkan di lima pasar Kabupaten Lamtim masih dalam proses perbaikan, mengingat mesin tersebut cukup lama tidak difungsikan,” kata Mashur pada Rabu, 25/3 kemarin dikutip dari seribuberita.id pada edisi, Kamis, 26/3.

“Melalui upaya perbaikan yang kami lakukan dalam waktu dua bulan terkahir ini, pada dasarnya mesin tersebut sudah mulai normal, hanya pada saat kejadian belum maksimal,” tambahnya.

“Di sisi lain faktor alam dan kondisi Pasar dengan bangunan yang sangat mudah terbakar menyebabkan api sulit dikendalikan oleh petugas,” pungkasnya.

Wakil Ketua DPRD Lamtim Akmal Fatoni melakukan inspeksi mendadak (sidak) kebakaran Pasar Way Jepara, pada Rabu, 25/3. Kunjungan disertai Antonius (F-PDIP), Imam Muzaki (F-Golkar), M Zakwan dan Agus (F-Gerindra).

Rombongan secara langsung melakukan pemeriksaan di lokasi kebakaran yang di dampingi paguyuban pedagang. Pada kesempatan itu, pedagang mengadukan ratusan kios ludes dilalap api.

Ketika terjadi kebakaran, telah dilakukan upaya pemadaman namun ternyata gagal, hal itu karena tekanan air yang disemburkan hydrant disinyalir kurang berfungsi secara maksimal.

Peralatan tersebut terdiri lima titik, namun tidak satupun tersedia air maupun perlengkapan selang.

Akmal Fatoni menyoroti terbengkalainya hydrant Pasar Way Jepara, peralatan tersebut menyedot anggaran sekitar Rp.800 juta, namun mubazir pada saat yang sangat dibutuhkan.

“Dewan segera panggil Dinas Pasar dan BPBD Lamtim untuk kami mintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

Sementara, peristiwa kebakaran Pasar Way Jepara tersebut, kini sedang dalam penyelidikan Kepolisian Lampung Timur.

Anggota DPRD Fraksi Gerindra M. Zakwan meminta pemangku kepentingan mengutamakan nasib pedagang. Dewan mendorong penyediaan lokasi dagang sementara dalam seminggu.

Kepastian lokasi sangat penting karena mengingat bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri sudah dekat.

Kapolres Lamtim AKBP Wawan Setiawan meminta bantuan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri untuk menyelidiki penyebab kebakaran.

Untuk sementara, hasil identifikasi mengungkapkan letupan api akibat korsleting arus pendek hubungan listrik.
Kepolisian melakukan sterilisasi dan pengamanan barang bukti dengan policeline.

Tim Puslabfor Polri akan melakukan identifikasi kebakaran Pasar Way Jepara pada Kamis, 26/3. Sedangkan lokasi titik kebakaran sedang diselidiki oleh Tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis).

“Kalau dugaan kebakaran masih kami lidik,” ucapnya.

Hingga berita ini diturunkan, Koordinator Pelaksana (Korlak) Pasar Way Jepara, Herman tidak dapat dihubungi metrodeadline.com baik melalui sambungan telepon seluler maupun aplikasi WhatsApp.

Sebelumnya telah diberitakan, pada edisi Selasa, 24/3 dengan judul, Kebakaran Pasar Way Jepara Hydrant Tidak Bermanfaat, Damkar Terlambat?

You might also like

error: Content is protected !!