
Laporan : Ropian Kunang
LAMPUNG TIMUR – Sebenarnya, rasa senang Mbah Murni (91)dan Mbah Tinah (69) bukan alang kepalang menerima bantuan rumah layak huni hasil bedah rumah yang diberikan dengan hati tulus dan penuh ikhlas oleh para pengurus dan anggota Komunitas Sosmed Peduli Lampung (KSPL) Kabupaten Lampung Timur yang berjiwa sosial begitu besar dan sangat dermawan.
Namun miris dirasakan, ternyata derita hidup yang dialami Mbah Murni (91) dan Mbah Tinah (69) tak cukup berakhir sampai disini. Sebab telah tampak terlihat dengan jelas didepan mata, ada derita kehidupan yang kelam disertai masa depan yang suram penuh dengan kepahitan juga dialami dan dirasakan oleh Dian Prasetyo (12) sang cucunya yang tercinta.
Sang kakek dan nenek tua renta warga Dusun Papan Batu Desa Sukadana Jaya Kecamatan Sukadana itu, hidup bersama Dian cucunya, diduga akibat dengan sengaja mendapat perkakuan kejam dan ditelantarkan hingga bertahun-tahun oleh Joni Apriansyah ayah tiri begitu juga dengan Ilyas selaku ayah kandungnya.
Dalam hal ini, sudah tentu masa depan suram dan kehidupan kelam juga akan dialami Dian hingga kelak sampai dihari tua. Apabila, Dian Prasetyo tak pandai membaca, menulis dan juga tak bisa berhitung buta huruf karena diakibatakan putus tak sekolah.
Memasuki usianya yang ke – 12 tahun, Dian hanya mengenyam pendidikan di bangku kelas 1 sekolah dasar. Juga pernah megalami sakit parah diduga akibat diajak oleh Joni Apriansyah ayah tirinya kerja berat tebang tebu.
Sehingga Dian Prasetyo seakan merasa trauma atas dugaan perilaku kejam yang dilakukan oleh Joni Apriansyah sang ayah tirinya dan tak jauh beda selama ini telah ditentarkan oleh Ilyas sang ayah kandungnya.
“Dulu pernah sekolah cuma kelas 1 SD, saya diajak (Joni Apriansyah) bapak (tiri) ikut kerja nebang tebu di Gunung Madu, kalau nggak kerja, saya nggak dikasih makan”. Ungkap Dian Prasetyo diamini oleh Tinah sang nenek.
Dian Prasetyo pernah sakit parah diduga akibat dampak kerja berat tebang tebu, setelah sakit, Dian tak lagi ada keinginan meneruskan sekolahnya. Bahkan disaat penyakitnya kambuh, kakek dan nenek tak punya uang untuk biaya berobat.
“Saya sakit nggak di obatin bapak, mau berobat sendiri nggak punya uang”. Keluh Dian
Tinah sang nenek hanya pasrah atas nasib cucunya tak ingin meneruskan sekolah meskipun dibujuk rayu siapapun.
“Dia nggak mau lagi sekolahnya karena nggak ada biaya, apalagi mau uang jajan setiap hari. Ada yang nyuruh sekolah tapi tetap nggak mau seperti udah trauma”. Urai sang nenek.
Penyakit yang diderita Dian seringkali kambuh sehingga seringkali tak makan, sementara, orangtuanya menelantarkan baik ayah tiri maupun ayah kandungnya.
“Yang penting dia disini sama Kami, kadang makan nggak mau kemungkinan karena perutnya sakit, obatnya cuma saya parutin kunyit, sembuh, bapak kandungnya nggak mau tau, apalagi bapak tiri”. Ungkap Mbah Tinah sembari menahan tangis sedihnya.
Dian Prasetyo adalah anak Puji Astuti binti Murni buah perkawinan dengan lelaki bernama Ilyas berakhir cerai. Kini, Puji berdomisili di Kecamatan Rumbia Kabupaten Lampung Tengah, telah menikah dengan lelaki bernama Joni Apriansyah.
“Anak saya ada empat, Dian ini anak dari anak saya yang perempuan sekarang di Rumbia, tapi udah nikah lagi, suaminya yang dulu Ilyas nggak tau dimana nggak pernah ngurus anaknya”. Pungkas sang nenek.
Adakah dermawan yang bersedia guna membiayai dan membujuk Dian kembali sekolah demi masa depan gemilang. Siapa tempat mengadu dan bermanja jika suatu hari nanti sang kakek dan nenek tercinta telah tiada.-
