
LAMPUNG TIMUR – Terdapat bangunan situs bersejarah yang diperkirakan peninggalan penjajah Belanda dan Jepang di kaki dan puncak Gunung Temiang berlokasi di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur.
Bangunan-bangunan tua peninggalan 2 penjajah yang menjajah Indonesia tersebut dapat dijadikan sebagai cagar budaya untuk dilestarikan dengan cara dilakukan direvitalisasi sebab kini hanya tinggal pondasi dan puing-puing reruntuhan.
Mendapatkan informasi tentang perihal tersebut dari metrodeadline.com Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur, Ulfa Laida,S.,Sos berencana akan menindaklanjuti.
Pihaknya akan berkoordinasi langsung dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang Propinsi Banten.
“Arkeolog yang diandalkan pak Oki (di Disdikbud Lampung) sudah pindah, jadi paling nanti kita ngobrolnya dengan yang di Banten,” kata Ulfa Laida kepada metrodeadline pada Selasa, 24 November 2020 jam 10.00 WIB diruang kerjanya.
Sebelum melakukan peninjauan, Ulfa akan berkoordinasi dengan Sahmin Saleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur dan Kasi serta stafnya.
“Kami mau meninjau, tapi koordinasi dengan pak Kadis, Kasi dan staf dulu, atur waktu kapan kira-kira kami bisa turun lapangan meninjau situs itu,” pungkas Kabid Kebudayaan itu.
Adapun beberapa unit bangunan peninggalan Belanda maupun Jepang berupa benteng, dapur, bunker dan kakus cemplung.
Sedangkan di kaki Gunung Temiang terdapat 2 sumur dan 2 kamar mandi, masyarakat menyebutnya sumur nipon berjarak sekitar 200 meter dari Jalan Lintas Timur.
Menurut Alfian Murni (57) warga Desa Sukadana Pasar dahulu di puncak Gunung Temiang terdapat senjata meriam dan ranjang besi.
“Waktu saya masih kecil kelas 3 SD, ikut bibik ke ladangnya di gunung Temiang, dulu ada meriam dan ranjang besi, tapi kalau terowongan sudah ketutup,” ungkap Alfian.
Sebelumnya, Kepala Dusun 004 Asem Kamal Desa Sukadana, Jarib berkata ia pernah didatangi seorang anggota ABRI sekitar tahun 1990 minta diantarkan ke Gunung Temiang.
“Dulu pernah ada tentara dari Jawa Timur minta antar ke Gunung Temiang, dia bawa peta cari terowongan dan pintu besi, tapi nggak ketemu, goanya sudah ketutup,” kata Jarib pada Kamis, 19 November 2020 pukul 16.00 WIB dirumahnya.
Perwito alias Siper warga Desa Sukadana Baru Kecamatan Marga Tiga mengatakan terowongan di Gunung Temiang ditutup tatkala Jepang angkat kaki dijadikan tempat penyimpanan senjata.
“Gunung Temiang ditutup waktu Jepang berangkat pulang, pak Senen yang tau, dia dulu pernah masuk Goa, disitu ada simpanan senjata dibungkus disirami oli supaya tidak berkarat, pintunya belum ketemu,” kata Siper pada Rabu, 18 November 2020 pukul 19.00 WIB dirumahnya.
Sementara, ketinggian Gunung Temiang 160 meter diatas permukaan laut (dpl) dan berjarak sekitar 2 kilometer dari Jalan Lintas Timur.
Diperkirakan, bangunan dikawasan Gunung Temiang Lampung Timur merupakan bangunan peninggalan Belanda dan Jepang, karena terdapat 2 bangunan sumur dan 2 kamar mandi.
Mengutip artikel dari sumsel.idntimes.com pada edisi, 17 Agustus 2019 dengan judul, “Bangunan Peninggalan Kolonial di Indonesia yang Banyak Terabaikan”.
Indonesia memiliki banyak bangunan bersejarah kala perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Bangunan itu ada yang didirikan masyarakat lokal atau dibangun oleh negara kolonial, seperti Belanda dan Jepang.
Bangunan bersejarah di berbagai daerah di Indonesia masih ada yang tegak berdiri dan dimanfaatkan hingga menjadi cagar budaya. Tapi tak sedikit juga kondisinya terabaikan, beralih fungsi, hingga dimiliki pihak perseorangan.
Pengamat bangunan bersejarah asal Lampung sekaligus Ketua Komunitas Lampung Heritage, Teguh Prasetyo menerangkan, Bandar Lampung dan kabupaten maupun kota lainnya hingga berbagai daerah di Indonesia, sejatinya memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda dan Jepang. Tapi sayangnya, banyak yang tak terjaga dan terawat. Bahkan tak sedikit yang dihancurkan.
“Sayang banget. Padahal bila itu terjaga, akan sangat indah dengan bangunan-bangunan lamanya serta bisa jadi warisan bagi generasi saat ini,” ujarnya, Jumat (16/8/2020).
Bangunan bersejarah itu juga tak banyak yang diketahui kaum milenial atau Gen Z. Merujuk kondisi bangunan bersejarah yang terlupakan menurutnya, butuh itikad dari Pemda melestarikan dan menjaga bangunan bersejarah.
Bila bangunan itu belum menjadi cagar budaya, Pemda seharusnya bisa membuat tim yang mengupayakannya dan mendorong peresmian sebagai bagunan dilindungan. Tujuannya, bila bangunan itu milik pribadi atau perseorangan, sang pemilik tetap menjaga bangunannya.
“Karena ada UU yang mengatur. Pemda juga tentunya wajib membantu, karena merawat bangunan tua tentu tak mudah dan tak murah. Selain itu pemda juga bisa melibatkan pihak swasta untuk pembiayaannya dengan CSR-nya. Ini juga bisa dilakukan untuk melakukan revitalisasi bangunan itu sendiri. Sehingga akhirnya bangunan bersejarah itu bisa terjaga dan dikenal orang,” papar Teguh.
Ia berharap, Pemda lebih perhatian dengan bangunan bersejarah. Adanya kepedulian, maka akan terjaga dan terawat bangunan bersejarah. “Selain itu, pemda baik itu pemprov dan pemkot sepertinya harus mulai menggali lagi data-data bangunan bersejarah dan tua di sini, agar bisa terarsip dengan baik,” ujar Teguh.
Selain bangunan bersejarah peninggalan Belanda, ada juga warisan dari Jepang saat menjajah Indonesia. Provinsi Lampung misalnya, ada bungker di Kabupaten Tanggamus dan Kota Bandar Lampung. Tercatat ada tiga bungker peninggalan Jepang di Pekon Kagungan, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan karena tidak ada perawatan.
Bungker dibiarkan saja hingga semak belukar menutupi bahkan menguburnya. Kondisi itu sangat disayangkan karena ketiganya bisa jadi cagar budaya sisa peninggalan masa revolusi 1945. Zunaidi, warga Pekon Kagungan menerangkan, warga di sekitar area bungker membiarkan saja kondisi memprihatikan bungker tersebut.
“Ada bungker kondisinya gelap dan lembab karena gak ada ventilasi. Ada juga beberapa ekor kelelawar bergantung di langit-langit bungker. Ada juga bungker lainnya dinding pembatas antara ruang utama dengan lorong bungker sudah dijebol. Biasanya ular juga ada. Bungker terakhir malah kondisinya rusak parah, separuh bangunan hilang karena letaknya di tengah permukiman warga,” paparnya.
Ia menduga, tiga bungker yang ada di Kecamatan Kota Agung Timur dulu berfungsi sebagai tempat pertahanan. Itu merujuk terdapat lubang untuk menembak dan berlindung.
(Ropian Kunang)
