Satu Lagi, Objek Wisata Sesat Agung Sukadana Tanpa Sarana Prasarana Pendukung

LAMPUNG TIMUR – Tak sengaja terpantau, saat metro deadline membidik barisan kendaraan roda empat yang terparkir mengular disepanjang Jalan Jenderal Sudirman Desa Sukadana Kecamatan Sukadana.

Tampak terpampang papan informasi bertuliskan “Objek Wisata Sesat Agung Sukadana” dengan tanda panah mengarah ke lokasi bangunan Sesat Agung Sukadana dengan jarak lebih kurang 50 meter.

Sesat Agung Sukadana adalah Rumah Adat asli Masyarakat Adat Marga Unyi Sukadana berlokasi di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, merupakan salah satu bagian dari Abung Siwo Migo atau Abung Sembilan Marga.

Aprizal bin Edi Tarzan (25) seorang pelatih Sanggar “Kenui Tumbai” Sukadana secara resmi didirikan tahun 2018 melatih peserta didiknya menggunakan lantai dasar Sesat Agung Sukadana.

“Yang melatarbelakangi pendirian sanggar seni Kenui Tumbai, pertama yang saya perhatiin karena budaya seni di Sukadana anak mudanya kurang peduli dengan seni budayanya,” tutur Aprizal pada Minggu, 26 September 2020 pukul 16.30 WIB saat ditemui disela-sela kesibukannya melatih adik-adik penari.

“Kebetulan saya memang berasal dari keluarga ahli seni atau seniman, mungkin saya berawal dari hobi, lanjut saya suka, lalu saya tularkan pada adik-adik sampai sekarang,” kata Ketua Sanggar Kenui Tumbai Sukadana itu.

“Sebenarnya, sudah lama sejak tahun 2012 saya nari cuma saya tamat sekolah itu mulai 2014 baru saya tergerak untuk melatih adik-adik kelas melatih adik-adik lainnya di sanggar,” ujar pelatih tari tersebut.

Ia berinisiatif melatih tari-tarian di Sesat Agung dikarenakan peserta didiknya kian bertambah dan mempermudah latihan.

“Saya berinisiatif latihan di Sesat Agung ini karena kalau di rumah ruangannya kurang dan sekarang muridnya tambah banyak jadi biar mempermudah latihan saya bawa ke sini,” terangnya.

Tujuan agar suasana Sesat Agung menjadi lebih tampak hidup daripada dijadikan sebagai tempat nongkrong anak-anak muda.

“Biar Sesat Agung ini terlihat hidup karena selama ini saya lihat hanya dijadiin tempat tempat nongkrong anak-anak muda saja, jadi selain kami merawat kami memakainya dengan memanfaatkan,” jelasnya.

Peserta didiknya yang aktif lebih kurang 50 orang dari keseluruhan jumlahnya mencapai sekitar 150 orang.

“Anggota aktif sekarang kurang lebih 50 orang untuk keseluruhan cukup lumayan banyak sekitar lebih kurang 150-an.”

Sejak berdiri tahun 2018 silam, sanggar Kenui Tumbai Sukadana belum mendapatkan bantuan baik uang maupun barang dari Pemerintah ataupun Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur.

“Kalau bantuan belum sih, tapi kalau untuk diajak pentas di acara acara sudah lumayan sering tapi kalau untuk bantuan langsung kayaknya belum seperti pakaian juga belum ada,” ungkap pemuda alumni SMAN 1 Sukadana itu.

“Harapan kepada Pemerintah agar supaya Sesat Agung lebih diperhatikan lagi, seluruh seni tradisi daerah bersama seni tradisi Lampung Timur yang masih ada sekarang.”

“Seperti diadakan pelatihan-pelatihan pada generasi generasi muda jangan dihilangkan khususnya Marga unyi Sukadana,” ujar Aprizal yang juga menjadi peserta didik SMPN 1 Sukadana.

“Kalau saya mungkin Sesat Agung harus tetap, kalau di sini di jadi in Objek Wisata Sesat Agungnya lebih dihidupin lagi seperti dikasih alat musik, pakaian adat yang berhubungan dengan adat Lampung untuk pelatihan-pelatihan.”

“Kalau memang ini mau dijadiin Objek Wisata harus sesuai dengan yang terpampang namanya di papan nama itu walaupun di Google tulisan ada mungkin ini cuma Sesat Agung.”

“Sedangkan Pemerintah sudah mengubahnya menjadi Objek Wisata, tapi dia orang kurang mengelola mungkin karena ada pergantian Pemerintah.”

“Kita punya Rumah Adat ini cuman satu di Sukadana khususnya, dilengkapi, diurus lah, lebih diperhatiin lagi, seperti bangunannya ini sudah buruk padahal arsitekturnya unik dan bagus dan asri atau asli,”

“Jadi diperhatikan kayak awal-awal dulu pertama dibangun menurut saya bagus saat ini cuman mungkin lebih dilengkapi lagi lebih kreatif lagi mungkin diisi lagi lebih dihidupin lagi,” pungkas murid SDN 1 Sukadana.

Menurut Ibrahim penjaga Sesat Agung Sukadana, awal mulanya alat seni seperti Kolintang, Talo dan kursi lipat stainless steel disediakan, akan tetapi diambil oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lampung Timur.

“Dulu ada alat-alat seperti talo, kulintang dan kursi lipat stainless steel ada sekitar 100 buah diambil oleh Dinas Pariwisata,” kata Ibrahim penjaga Sesat Agung pada Minggu, 26 September 2020 pukul 17.00 WIB saat ditemui dirumah jaga dibelakang Sesat Agung Sukadana.

“Maunya seperti Sesat Agung didaerah-daerah lain, sarana dan prasarananya lengkap bahkan ada yang dipasang AC,” harapnya.

(Ropian Kunang)

You might also like

error: Content is protected !!