Kota Sukadana Kota Tertua, Stakeholder Berharap Objek Wisata Sesat Agung Diprioritaskan

LAMPUNG TIMUR – Menyikapi Objek Wisata Sesat Agung Sukadana seolah-olah seakan-akan hanya akan tinggal kenangan saja dikarenakan tanpa dilengkapi sarana prasarana memadai bahkan bangunan berbahan kayu atau papan tersebut telah tampak lapuk keropos menua termakan usia.

Sehingga, hal itu mendapat beragam tanggapan atau komentar dari berbagai kalangan masyarakat, mengingat, Kota Sukadana merupakan Kota tertua di Kabupaten Lampung Timur.

Kota Sukadana telah didirikan tahun 1650 silam pada zaman onder afdeling era kependudukan Pemerintahan Hindia Belanda, sudah seharusnya pembangunan di Desa Sukadana diprioritaskan khususnya Sesat Agung Sukadana dan lainnya.

Henni Kristiani Tarigan warga Kecamatan Sukadana juga turut berkomentar menyikapi tentang kondisi bangunan Sesat Agung Sukadana itu.

“Bangunan Sesat Agung Sukadana, yang terletak tidak jauh dari Kota Sukadana merupakan bangunan Khas Suku Lampung dan merupakan bangunan yang menunjukkan sejarah Suku Lampung khususnya Marga Unyi Sukadana,” tutur Henni Kristiani Tarigan pada Minggu, 27 September 2020 pukul 18.56 WIB, dimana sebelumnya dijumpai metrodeadline ketika sedang selfi ria pada petang harinya bersama rombongan didepan bangunan Sesat Agung Sukadana.

“Tempat ini bisa dijadikan Objek Wisata bagi wisatawan untuk berfoto-foto ria bersama rombongan, khususnya kami grup Goes Ibu-ibu Sukadana dan sekitarnya,” kata ibu Bhayangkari di Mako Brimob Kompi 2 Batalyon Pelopor Lampung Timur.

Ia juga berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur khususnya Dinas Pariwisata dapat lebih memperhatikan keasrian dan pemeliharaan serta perawatan agar dibuat lebih indah karena Sesat Agung merupakan salah satu aset Lampung Timur.

“Saya berharap untuk Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pariwisata lebih memperhatikan keasrian bangunan ini supaya tetap terpelihara, terawat dan apabila memungkinkan dibuat lebih indah dan cantik, karena ini merupakan aset Lampung Timur,” harap anggota Group Goes Ibu-ibu Sukadana dan sekitarnya.

Sebelumnya, Angga Satria SH salah satu pemuda asli Desa Sukadana mengatakan Sesat Agung merupakan Rumah Adat Masyarakat Lampung tentunya harus

“Sesat Agung merupakan Rumah Adat Masyarakat Lampung, tentu yang harus diprioritaskan, itu adalah cagar budayanya, agar orang dapat tertarik dan mampir baik hanya untuk sekedar foto-foto atau selfi dan melihat-lihat serta memperoleh informasi tentang sejarah mengenai Adat Budaya Lampung,” tegas Angga kepada metrodeadline pada Minggu, 27 September 2020 pukul 15.13 WIB melalui WhatsApp.

Masih menurut Angga Sesat Agung belum maksimal apabila untuk dijadikan sebagai tempat Objek Wisata hal itu disebabkan oleh karena masih teramat banyak pekerjaan rumah (PR) bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur.

“Kalau menurut saya, wisata Sesat Agung belum maksimal untuk di jadikan Objek Wisata, masih banyak PR dinas pariwisata,” tegas Aktivis yang baru-baru ini diangkat dan disumpah menjadi Advokat PERADI.

Tak hanya itu, masyarakat juga menyoroti pembuatan nama jalan terputus-putus, mulai dari jalan Soekarno-Hatta, jalan Jendral Sudirman terputus hanya lebih kurang 200 meteran dan disambung jalan Sukadana Indah.

Sementara, diantara jalan Jenderal Sudirman terdapat 2 papan informasi yaitu papan informasi Objek Wisata Sesat Agung Sukadana dan papan informasi gedung Sesat Agung Sukadana.

Sejenak kita menoleh kebelakang untuk mengenang pada masa 370 tahun silam, tentang historis atau sejarah berdirinya Kota Sukadana sebagai Kota Tertua pada era kolonial Belanda mulai didirikan tahun 1650 hingga defenitif menjadi Desa Sukadana pasca era Kemerdekaan tahun 1955.

Muncul figur sosok pemimpin Kota Sukadana yaitu Hasanuddin Bukik almarhum di zaman onder afdeling era pendudukan kekuasaan kolonial Belanda.

Disamping itu juga terdapat Tokoh Masyarakat Adat Sukadana yang bernama Abdul Wahab Bukik gelar Pesirah Tuho (Pesirah Tertua), dia adalah kakak tertua Hasanuddin Bukin, yang memimpin wilayah cukup luas dikala itu.

Setelah era Kemerdekaan berdirilah Desa Sukadana dipimpin oleh Muslim Asnawi almarhum, Ahmad Bahri Way Kunang almarhum, Zulkifli Arsyad almarhum, Daryono, Fathullah, Edi Yusuf dan kini dipimpin oleh Idrus.

(Ropian Kunang)

You might also like

error: Content is protected !!