Daerah

Sekelumit Kemiskinan di Lamteng, Remaja 16 Tahun Bersama Ibu dan Tiga Adiknya Tinggal Di Bekas Kandang Sapi

847
×

Sekelumit Kemiskinan di Lamteng, Remaja 16 Tahun Bersama Ibu dan Tiga Adiknya Tinggal Di Bekas Kandang Sapi

Sebarkan artikel ini

 

Lampung Tengah-Menikmati masa sekolah di jenjang SMA/SMK menurut semua orang adalah hal yang paling sangat mengesankan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Alfian (16) warga Kampung Tanjung Anom, Kecamatan Terusan Nunyai, Lamteng.

Ya, disaat teman-teman sebayanya tengah mengenyam pendidikan, remaja ini justru memupus asanya dan harus menjadi tulang punggung keluarga. Sejak ditinggal sang ayah satu tahun silam tanpa pesan yang jelas, Alfian menjadi tumpuan keluarga untuk bertahan hidup.

Tidak lah mudah bagi remaja 16 tahun ini untuk menghidupi ibu dan ketiga adik-adiknya, Puput (8), Afika (6), dan Qhaila (2)

Tinggal di rumah berdinding papan dan beralaskan tanah bekas kandang sapi, Alfian harus mengais rejeki dari upah jasanya sebagai mekanik disalah satu bengkel setempat.

“Enggak mesti dapat duit, sehari paling  duapuluh lima sampai empat puluh ribu,”kata Alfian saat Saibumi.com menyambangi kediamannya, Rabu 28 Agustus 2019

Sempat terbesit dalam keinginannya untuk melanjutkan sekolah, namun keadaan memaksanya untuk mengurungkan niat itu.

“Kalau liat anak-anak sekolah saya rasanya pingin sekolah lagi. Tapi kalau saya sekolah gimana ibu sama adik-adik,?,”urainya.

Hal tersedih lanjut remaja yang mengenyam pendidikan akhir STM (setengah semester) di Magelang ini, disaat kedua adiknya Puput dan Afika hendak berangkat kesekolah,”Sedih kalau adik sekolah enggak ada sangu (uang jajan),”ujarnya

Namun lanjut Fian, ia tetap tegar dengan keadaan saat ini. Yang ada didalam benaknya saat ini ialah bagaimana adik-adiknya tetap dapat melanjutkan sekolah.

“Harapan saya adik-adik jangan putus sekolah, saya akan berjuang semampu saya demi keluarga,”ucapnya.

Sementara Mistiani (39) sang ibu mengaku untuk membantu putranya ia pun bekerja serabutan, namun pekerjaan itu tak selalu setiap hari ia dapati.”Sekarang cuma ngandalin dari anak (Fian), kalau ada kerjaan disuruh tetangga mencuci, nyetrika ya saya karja, tetapi enggak setiap hari itu ada,”ungkapnya.

Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari putranya yang pas-pasan, tak jarang keluarga ini harus berpuasa.”Kadang makan kadang tidak, kalau tidak ada (nasi) ya makan singkong,”ceritnya lirih

Sementara Kepala Kampung Tanjung Anom Wasis Terisno Hadi membenarkan, tempat tinggal keluarga Mistiani bekas kandang sapi.”Tanahnya numpang, kalau bangunan bekas kandang sapi, sudah sekitar satu tahun tinggl disini”jelasnya.

Sebagai aparatur kampung lanjutnya, pihaknya sudah berkali-kali mengajukan agar keluarga ini dapat menerima, PKH namun sayang sampai saat ini belum terealisasi,”Sudah kita ajukan tetapi masih menunggu validasinya, sehingg belum bisa,”akunya

Kedepan kata Wasis untuk sedikit meringankan beban keluarga tersebut, ia bakal melakukan bedah rumah milik Mistiani itu.”Langkah kedepan kita akan bedah rumah dengan cara swadaya,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!