TASIKMALAYA — Kabar duka menyelimuti dunia seni dan budaya Sunda. Vokalis grup musik Emka 9, Kanaya Whu, meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kanker dan menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kepergian Kanaya Whu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, sahabat, serta orang-orang terdekatnya. Jenazah almarhumah kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lengkongsari, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (13/9/2026).
Suasana haru mengiringi prosesi pemakaman. Warga turut memadati area pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal melalui kiprahnya di industri seni dan budaya Sunda tersebut.
Yang membuat suasana semakin emosional, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir langsung mengantarkan jenazah Kanaya Whu ke tempat peristirahatan terakhir.
Tidak hanya hadir, Dedi Mulyadi juga ikut mengangkat keranda dan terlibat dalam prosesi pemakaman hingga selesai.
Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat itu memicu suasana haru di tengah keluarga dan warga yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa atas kepergian Kanaya Whu.
“Telah meninggal dunia saudari dan sahabat kita, Teh Kanaya, di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena menderita kanker.”
Dedi menyampaikan bahwa Kanaya bukan hanya seorang pelaku seni, tetapi juga sosok yang telah memberikan dedikasi dalam perjalanan industri seni dan budaya Sunda.
Dalam doa dan salam perpisahan, Dedi melepas kepergian Kanaya dengan penghormatan atas pengabdian almarhumah semasa hidup.
Rencana Bangun Masjid Kanaya
Usai menghadiri prosesi pemakaman, Dedi Mulyadi juga menyampaikan rencana untuk membangun sebuah masjid sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang dedikasi almarhumah.
Dedi mengatakan, rencana tersebut akan dilakukan setelah 40 hari kepergian Kanaya, dengan terlebih dahulu meminta persetujuan tokoh masyarakat setempat.
“Seandainya diizinkan oleh tokoh masyarakat setempat, setelah 40 hari kepergian almarhumah, saya mau bangun masjid namanya Kanaya.”
Menurut Dedi, pembangunan masjid tersebut diharapkan menjadi bagian dari amal yang terus mengalir dan menjadi kenangan atas perjalanan hidup Kanaya.
“Kanaya, jasadnya sudah dikubur, tapi amalannya tidak akan dikubur.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen yang mengundang haru di tengah suasana duka.
Dedi juga mengungkapkan keyakinannya bahwa almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Sang Pencipta.
Kepergian Kanaya Whu tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga meninggalkan catatan perjalanan dalam dunia seni dan budaya Sunda.
Bagi mereka yang pernah mengenal dan bekerja bersama almarhumah, karya serta dedikasinya menjadi bagian dari kenangan yang akan terus hidup.
Kini, suara Kanaya telah berhenti di dunia.
Namun karya dan jejak pengabdiannya diharapkan tetap menjadi bagian dari perjalanan seni budaya Sunda.
Selamat jalan, Teh Kanaya.Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalka
n diberikan kekuatan serta ketabahan.(YJT)
