Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kecamatan Metro Pusat, Rabu (10/6/2026)
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memonitor dan mengevaluasi kinerja TPK dalam mendampingi keluarga berisiko stunting di Kota Metro.
Dikatakan Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan dan Penggerakan, Sukmawati, mewakili Kepala Dinas PPPA PPKB Kota Metro Silfia Naharani, bahwa peran TPK sangat penting dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.
“Hari ini kami melakukan evaluasi terhadap kinerja tim pendamping keluarga, mulai dari proses pendataan keluarga berisiko stunting hingga pendampingan yang dilakukan kepada keluarga sasaran di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi juga mencakup kolaborasi TPK dengan berbagai pihak, seperti lurah, penyuluh keluarga berencana (PKB), fasilitas kesehatan, serta lintas sektor lainnya dalam memberikan intervensi kepada keluarga berisiko stunting.
“Sasaran pendampingan bukanlah kasus stunting, melainkan keluarga yang memiliki risiko melahirkan anak stunting. Di Kecamatan Metro Pusat, setiap kelurahan memiliki enam tim pendamping yang terdiri dari kader PKK, kader KB, dan bidan atau tenaga kesehatan,” tuturnya.
Ia menuturkan, sebanyak 3.069 keluarga berisiko stunting di Kota Metro yang menjadi sasaran pendampingan TPK.
“Kami mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga keluarga yang memiliki anak usia di bawah dua tahun. Pendampingan dilakukan melalui edukasi, pemantauan kesehatan, hingga pemberian rujukan ke fasilitas kesehatan apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
“Pendampingan dilakukan secara door to door untuk memastikan kondisi kesehatan keluarga terpantau dengan baik. TPK juga di beri tugas menyusun laporan hasil pendampingan yang disampaikan secara berjenjang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, Fitri Agustina, menyampaikan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui kerja sama dengan kader Posyandu dan tenaga kesehatan di seluruh puskesmas.
“Upaya pencegahan dilakukan sejak ibu hamil, seperti pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemantauan pertumbuhan balita, serta edukasi mengenai pemenuhan gizi yang seimbang,” terang Fitri.
Ia mengakui bahwa angka stunting di Kota Metro pada tahun 2025 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak usia balita.
“Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa kehamilan dan tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak pada masa pertumbuhan,” ungkapnya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk memberikan makanan bergizi, sehat, dan seimbang kepada ibu hamil maupun anak-anak agar stunting dapat dicegah sejak dini,” pungkasnya. (Aliando)
