Kota Metro

Menginspiratif, SLB Insan Madani Metro Rujukan SRA Nasional

451
×

Menginspiratif, SLB Insan Madani Metro Rujukan SRA Nasional

Sebarkan artikel ini

 

Metro, Metrodeadline.com – Penerapan Sekolah Ramah Anak (SRA) menjadi langkah nyata SLB Insan Madani Kota Metro dalam membangun budaya belajar yang positif, partisipatif, dan berkarakter, di mana peserta didik didorong untuk aktif, kreatif, serta saling menghormati dalam lingkungan yang bebas kekerasan, Rabu (7/1/2026)

Hal tersebut guna meningkatkan kesadaran seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan tentang pentingnya peran aktif peserta didik dalam mengembangkan kreativitas, sikap saling menghormati, dan nilai-nilai karakter.

Menariknya SLB Insan Madani Kota Metro menjadi  Sekolah yang terstandardisasi Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) tingkat nasional satu SLB  se-wilayah Indonesia bagian Barat. Satu- satunya di Lampung.

Dikatakan Guru Besar Universitas lampung sekaligus pembina SLB Insan Madani Metro Prof. Dr. Sowiyah,M.Pd., terdapat komponen  guna mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA) di Sekolah.

“Yaitu mau, mampu, maju. jadi satuan pendidikan mulai dari PAUD sampai dengan jenjang Sekolah mrnengah atas itu mau dulu, kalau sudah mau nanti ada rancangan-rancangan yang disitu akan ada sosialisasi papan nama tentang sekolah sedang menuju satuan pendidikan ramah anak dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah,” ujarnya.

“Dan mampu itu adalah pemerintah daerah melaksanakan pendampingan dan sosialisasi dengan komponen-komponennya, pertama adalah bagaimana kebijakan yang tentunya Sekolah itu sudah di SKkan dari Walikota yang menyatakan pada saat ini semua jenjang satuan pendidikan di Kota Metro sudah ber-SK SRA,” imbuhnya.

Selain itu guna menjamin kualitas pendidikan anak, tenaga pendidik Sekolah wajib memiliki sertifikat Konvensi Hak Anak (KHA).

“Semua sudah terlatih yang berikutnya adalah sarana prasarana ramah anak misalnya tempat-tempat sudut yang runcing, meja-meja yang runcing itu harus ditumpulkan,” tuturnya.
Maju artinya satuan pendidikan  sudah terstandardisasi SRA dan menjadi rujukan,.

Dirinya juga menyampaikan, bahwa pembelajaran ramah anak, merupakan pembelajaran non diskriminasi.

“Tidak membeda-bedakan anak satu dengan yang lain, tidak ada perundungan merendahkan martabat dan kekerasan apapun di kelas baik verbal maupun non verbal,” ungkapnya.

Menurutnya, partisipasi orang tua  sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran anak.

“Jadi kita mengadakan parenting tentang kolaborasi partisipasi orang tua bagaimana bisa menjadi narasumber memfasilitasi tentang apapun kegiatan Sekolah wajib hadir,” terangnya.

Pihaknya menjelaskan, bahwa penerapan SRA di satuan pendidikan wajib menerapkan BARISAN.

“Bersih Aman Ramah Indah Sehat Asri Nyaman, jadi ini mendukung Kota Layak Anak (KLA) di kluster empat (4),” katanya.

Dirinya berharap, evaluasi SRA Kota Metro segera dilaksanakan.

“Jangan berhenti, karena kalau kita mau mewujudkan SRA harus ada suatu komitmen dan Istiqomah dalam mewujudkan itu,” jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala SLB Insan Madani Metro Dwi Septi Handayani, bahwa tujuan penerapan pembelajaran ramah anak, menjadikan tempat yang aman, nyaman, inklusif dan menghargai anak.

“Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan di Sekolah yang pertama menyusun dan menerapkan kebijakan anti kekerasan baik fisik maupun verbal, psikologis dan perundungan,” bebernya.

Menurutnya, guru SLB Insan Madani memiliki Kode Etik tenaga kependidikan ramah anak dalam menerapkan pembelajaran di kelas.

“Tidak ada hukuman yang bersifat merendahkan martabat anak, melibatkan komite sekolah dan orang tua dalam menentukan kebijakan sekolah ramah anak, kemudian di dalam proses pembelajaran ramah anak itu kita di
SLB Insan Madani berpusat pada peserta didik. sesuai usia kemampuan dan kebutuhan, termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus,” bebernya.

Selain itu dalam menerapkan pembelajaran, guru-guru SLB Insan Madani juga selalu menggunakan bahasa yang sopan dan santun.

“Guru juga selalu memberikan ruang kepada anak untuk berpendapat, bertanya dan berekspresi serta mendorong pembelajaran yang menyenangkan,” paparnya.

Sementara itu, siswa dilibatkan secara aktif dalam bidang akademik dan keterampilan.

“Untuk mencegah adanya bullying kita ada mekanisme pengaduan dan penanganan kasus,” ucapnya.

“Tersedianya jalur pengaduan yang jelas dan rahasia penanganan kasus yang cepat adil dan berpihak pada kepentingan terbaik anak, kemudian kita ada pendampingan psikolog bila diperlukan dan ada evaluasi kasus secara berkala,” pungkasnya. (Aliando)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!