Uncategorized

Pembantaian Romusha Kejahatan Perang Guntai Jepang Ketika Bermarkas di Puncak Tamiang

9428
×

Pembantaian Romusha Kejahatan Perang Guntai Jepang Ketika Bermarkas di Puncak Tamiang

Sebarkan artikel ini

Lampung Timur, Berakhirnya kekuasaan Pemerintahan Belanda jaman onder afdeling era 1901-1942 bukanlah pertanda akan berakhirnya perlakuan paksa dan kasar atau rodi di keresidenan Sukadana.

Melainkan beralihnya kekuasaan kepada Pemerintahan Militer Jepang era 1942-1945 namun perlakuan serupa masih tetap saja terjadi hanya berganti dengan sebutan romusha bahkan lebih parahnya lagi terjadi pembantaian.

Abdul Muin bin Abdul Gafar Mursen almarhum warga Desa Labuhan Ratu III Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Ti mur, pernah direkrut menjadi romusha sebagai salah satu saksi hidup.

Dimana militer Jepang membangun markas pertahanan berlokasi di kawasan Gunung Tamiang Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur.

Singkat cerita, Muin merupakan sosok yang selamat dari sasaran pembantaian Tentara Jepang menjelang berakhirnya kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang di keresidenan Sukadana.

Peristiwa itu terjadi sebelum Tentara Jepang meninggalkan markas berjalan kaki dengan kedua tangan keatas dan dikawal ketat oleh para pejuang dan pendekar menuju ke lapangan Unyi Sukadana berjarak sekitar 5 kilometer.

Muin selamat, dirinya sempat melihat para romusha akan dibantai, sebelumnya terlebih dulu mereka diperintahkan untuk menggali lubang.

Sementara mereka tidak mengira apabila lubang yang digali tersebut nantinya akan menjadi tempat kematian mereka secara masal.

Seselesai penggalian lubang, seluruh romusha yang kerja dibagian atas diperintahkan Guntai segera turun masuk ke lubang tersebut.

Firasat, naluri dan mata batin Muin berkata lain, melihat gelagat seakan tak bersahabat, dengan gerak cepat ia melarikan diri disaat ada kesempatan.

Dalam pelariannya Muin bersembunyi menghindari kejaran Tentara Jepang dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain.

Perihal itu disampaikan oleh Arif yang berstatus sebagai anak menantu almarhum Abdul Muin dikediamannya didampingi istri dan Hamidi orangtuanya.

“Sesudah dimasukkan kedalam lubang, semua dibunuh, yang ada disana saksi mata, dibunuh,” ungkap Arif kepada metrodeadline beberapa waktu lalu.

Kebetulan Muin memiliki ilmu Kanuragan yakni ilmu kemampuan tingkat tinggi dan kebal tidak menahan serangan atau anti peluru saksi mata yang masih hidup.

“Kebetulan Abah memang (kebal) nggak mempan ditembak, satu-satunya saksi mata (pembantaian oleh) Jepang yang nggak dibunuh adalah Abah,” urainya.

Hal itu diceritakan oleh almarhum Mu’in kepada Hamidi besannya semasa hidup, lalu meninggal dunia di Desa Labuhan Ratu Danau Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur sekitar 2011.

“Dialah (Abdul Muin) yang cerita sama (Hamidi) bapak, sampai akhirnya meninggal dunia di Danau tapi (lupa) nggak tau dimana (letak makam), bapak dikubur (juga) disitu, dulu tempatnya berpindah-pindah,” terang Arif diamini istrinya.

Beliau tutup usia diperkirakan berumur 135 tahun dan tak tanggung-tanggung punya 17 orang istri dan hanya 7 orang anak, 5 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki.

“(Anak) tujuh, saya yang terakhir, lima anaknya yang perempuannya, lelakinya dua. Waktu dia cerita umurnya 135, kalau meninggal sudah sekitar 10 tahunan, istrinya 17 orang,” jelas anak bungsu Mu’in ahli waris ketujuh istri Arif.

Semasa hidupnya, almarhum Mu’in mewakafkan 2 bidang tanah, untuk lokasi pembangunan pasar dan tempat pemakaman umum (TPU).

“Tanah pasar, yang ngasih tanah pasar ini Abah Muin, (berikut tanah lokasi) kuburan itu (seluas) satu koma dua hektar,” pungkasnya.

Ansorulloh warga Desa Pasar Sukadana menceritakan tentang pengalaman almarhum Hasan warga Desa Sukadana sahabatnya ketika direkrut menjadi juru masak di markas Tentara Jepang di Puncak Gunung Tamiang.

Suatu ketika, Hasan ke markas Tentara Jepang tujuan minta minyak tanah untuk lampu, ia sempat melihat romusha naik turun keluar masuk lubang sepuluh hari sebelum markas dibumihanguskan.

“Hasan kerja jadi tukang masak, suatu hari, dia naik ke gunung minta minyak tanah untuk lampu. Sampai diatas, cepet-cepet kata orang Jepang nyuruh supaya Hasan cepat pergi,” kata Ansori kepada metrodeadline dirumahnya pada Jum’at, 4 Maret 2022 pukul 20.30 WIB menirukan ucapan almarhum Hasan.

“Hasan memang sudah nggak kerja lagi sekitar sepuluh harian, nggak lama, ada api dan kepulan asap, Jepang membakar bangunan gedung-gedung bahkan ada suara ledakan,” jelasnya.

Demikian pula sebelumnya, kesaksian Jaripudin Kepala Dusun 004 Desa Sukadana bahwa Jarman orangtuanya pernah direkrut menjadi romusha di markas Tentara Jepang yang hanya berjarak lebih kurang sekitar 3 kilometer dari rumahnya.

“Kalau cerita bapak, dia juga dulu pernah kerja paksa sama orang Jepang, banyak juga orang-orang disekitar sini, tapi kalau bapak itu orangnya diam, kalau dia mau pulang kerumah ya pulang,” tutur Jaripudin pada Kamis, 2 Maret 2022 jam 08.23 WIB.

Almarhum Jarman tak bercerita apabila dirinya juga menjadi target pembantaian oleh Guntai atau Tentara Jepang seperti yang disaksikan oleh Abdul Muin.

“Tidak, dia (Jarman) tidak cerita,” kata Kepala Dusun 004 Asem Kamal itu singkat.

Belum diperoleh informasi tentang jumlah korban pembantaian romusha atau pekerja paksa dan jugun ianfu atau budak seks yang meninggal dunia akibat kekejaman Guntai atau Tentara Jepang di keresidenan Sukadana.

(Ropian Kunang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!