
LAMPUNG – Setidaknya, terdapat 5 situs bersejarah di Propinsi Lampung yang berjuluk “Sang Bumi Ruwa Jughai” mulai dari tempat petilasan pertapaan, pemakaman dan 3 benteng tanah yang lokasinya terpisah di 3 Kabupaten di Propinsi Lampung sebagai cagar budaya.
Mulai dari tempat semedi atau pertapaan Prabu Brawijaya bernama Raden Wijaya atau Jaya Wardana Raja Kerajaan Majapahit tahun 1216 – 1217 (menurut Serat Pararaton) dan Makam Gajah Mada Maha Patih Kerajaan Majapahit yang berlokasi di Pekon Way Sindi Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat Propinsi Lampung ujung Selatan Pulau Sumatera.
Serta 3 situs bersejarah yaitu Benteng Majapahit, 1 unit benteng di Desa Pekurun Kecamatan Abung Pekurun Kabupaten Lampung Utara dan 2 unit benteng terletak di Desa Gunung Katun Kagungan dan Gunung Katun Malay Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Propinsi Lampung.
Keberadaan lokasi Petilasan Pertapaan dan Pemakaman Gajah Mada di Pekon Way Sindi Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat belasan kilometer dari Krui diungkapkan oleh Syaiful Rohman (50) warga Desa Tanjung Inten Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur saat dirinya meniti perjalanan sejarah.
Hal itu wujud pengabdian Syaiful Rohman selaku Tim Manajemen di PT. Central Pertiwi Bahari (CPB) Lampung kepada Isman Hariyanto Direktur PT. Central Protena Prima (CPP) Lampung selaku pimpinan dan petunjuk dari Guru Spiritual bernama Gus Mur, ketiga-tiganya berasal dari Kota Surabaya Propinsi Jawa Timur.
Sementara, keberadaan 3 lokasi benteng Majapahit dikutip dari artikel Nurul Laili yang merupakan seorang peneliti pada bidang prasejarah di Balai Arkeologi Bandung Jawa Barat.
“Berawal dari kondisi PT. CPP Lampung Tengah Kantor Cabang Bandar Jaya perusahaan tambak udang tempat saya bekerja mengalami musibah yaitu diserang penyakit,” tutur Syaiful Rohman kepada metrodeadline memulai ceritanya kemarin pada Kamis, 12 November 2020 jam 10.30 WIB di Kantor Desa Tanjung Inten.
“Oleh karena itu, sebagai pimpinan perusahaan, Isman Hariyanto atasan saya berinisiatif cari bantuan dengan cara mohon doa dari alim ulama, berjalannya waktu bertemulah dengan seorang ulama dari Surabaya Jawa Timur bernama Gus Mur,” urainya.
“Sayalah yang diperintahkan pimpinan kesana dengan tujuan meniti perjalanan sejarah agar menemukan apa penangkal penyakit yang melanda perusahaan yang sedang dihadapi itu.”
“Setibanya ditempat Gus Mur, justru kami diperintahkan untuk kembali meniti perjalanan bersejarah dengan cara pulang lagi ke Lampung.”
“Berangkat dari Kantor PT. CPB Lampung yang beralamat di Kabupaten Tulang Bawang, melalui beliau saya diberi petunjuk untuk pergi (menggunakan mobil) kearah Utara yang belum jelas dimana tempat yang dituju ketika itu.”
“Dalam perjalanan kearah Utara dengan cara mengikuti petunjuk yaitu dipandu oleh Gus Mur dari jarak jauh pakai handphone, kebetulan waktu itu baru-baru keluar produksi handphone sekitar tahun 2000.”
“Dari petunjuk beliau itu, akhirnya kendaraan yang kami tumpangi disuruh oleh Gus Mur berhenti di Krui Lampung Barat waktu itu, sayapun turun dan disuruh berjalan kaki (belasan kilometer) ke arah Bengkulu searah petilasan makam Patih Gajah Mada, kata beliau.”
“Saya diarahkan oleh beliau untuk menelusuri tepi pantai dan disuruh memasuki sebuah Goa, di Goa itulah tempat Prabu Brawijaya Raja Kerajaan Majapahit pertama bernama Raden Wijaya melakukan tapa.”
“Saya masuk, tapi sesampai di pintu masuk berjumpa dengan orang yang tidak dikenal dan saya hanya diam terpaku tidak berkenalan atau memperkenalkan diri.”
“Tapi meskipun tidak berkenalan, beliau itupun bertanya, “ada perlu apa mas”, tanyanya, kebetulan ketika itu suasana menjelang petang menunggu surut air laut yang masih pasang,”
“Pertanyaan orang itupun saya jawab, “bapak, saya kesini disuruh oleh guru saya namanya Gus Mur, untuk itu saya mohon izin masuk, saya diamanahkan untuk menuggu jatuhnya watu gumantung (batu tergantung), jawab saya.”
“Walaupun sebenarnya perihal (Batu Gumantung) itu tidak sesuai nalar logika saya, tapi berhubung ini perintah sang pimpinan dan titah dari guru, tetap saya laksanakan, padahal di dalam hati berkecamuk perang batin karena hal itu antara logika dan non logika ilmu pendidikan saya.”
“Saya disuruh masuk ke Goa oleh orang tak dikenal itu, karena beliaulah yang persis mengetahui seluk-beluk lokasi Goa itu.”
“Didalam Goa itu, ternyata terdapat 4 lubang, menurut cerita orang tak dikenal itu, keempat lubang didalam Goa itu dapat menembus empat penjuru.”
“Lubang arah Selatan tembus ke laut pantai Selatan, lubang arah Utara tembus sampai ke ujung pulau Andalas (Sumatera), lubang arah Timur menembus ke sepanjang negeri kita (NKRI) di ufuk Timur dan lubang arah Barat tembus hingga sampai ke tanah suci Mekah.”
“Saya minta petunjuk dengan beliau (orang tak dikenal) karena saya sudah tidak bisa lagi untuk berkomunikasi dengan guru saya Gus Mur sebab susah signal tidak ada jaringan hingga putus komunikasi.”
“Saya bertanya, “izin pak dimana letak Batu Gumantung”, kemudian beliau itu menjawab, “mudah-mudahan di lubang yang menghadap kearah Utara mas, karena disitu ada tempat Prabu Brawijaya tapa, itulah informasi yang saya ketahui dari orang tak dikenal itu.”
“Sayapun tidak terlalu banyak bertanya, melainkan langsung saja masuk, hanya sebelum saya masuk, kata beliau, maaf saya tidak bisa menemani.”
“Dengan keyakinan saya menuju kearah dan langsung masuk ke Goa itu, jarak perjalanan saya lebih kurang 150 meter dari tempat kami pertemuan kami itu yang mana posisi masih berada didalam Goa.”
“Saya melangkahkan kaki kesitu, ternyata ada tempat yang cukup luas, disitu ada batu berwarna hitam yang sangat bersih, seakan bekas tempat orang duduk bersila laksana orang bertapa.”
“Cuma ukuran luas batu itu seperti tidak wajar apabila dibandingkan dengan postur tubuh saya, saya punya keyakinan pasti berhasil untuk meniti maka saya harus duduk ditempat itu.”
“Setelah duduk bertapa di batu hitam itu selama 3 hari 3 malam, saat bertapa saya mengamalkan amalan yang telah diberikan oleh Gus Mur.”
“Hasil tapa yang saya dapatkan adalah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa, mungkin itu namanya watu gemantung (batu tergantung) yang jatuh saat saya bertapa tepatnya pada hari ke 3.”
“Batu itu saya masukkan ke dalam tas dan langsung akan beranjak pulang, namun sempat menunggu air laut yang sedang pasang didalam Goa itu surut, setelah surut saya langsung pulang.”
“Sesampainya saya, langsung menyerahkan Batu Gumantung ke pimpinan, pimpinan langsung komunikasi dengan Gus Mur menyampaikan apabila saya sudah kembali dari meniti perjalanan tersebut.”
“Saat pimpinan berkomunikasi, Gus Mur memberikan petunjuk, agar supaya mencari orang yang bisa mimpin ritual, tujuan mengungkap misteri apa yang tersimpan didalam Batu Gumantung itu.”
“Ternyata setelah dilakukan ritual, munculah disamping Batu Gumantung itu sebuah batu berukuran kecil warna merah tua (merah delima) sebesar biji jagung.”
“Batu itu disuruhnya dimasukkan kedalam air, ternyata setelah direndam dalam air, dari batu itu bermunculan gelembung-gelembung yang berwarna merah.”
“Lalu pimpinan kembali minta petunjuk dari Gus Mur, lalu Gus Mur menganjurkan agar air itu disiramkan ke sumber air yang berada dilokasi tambak udang.”
“Syukur Alhamdulillah berkat ridho dari Allah SWT melalui acara ritual atas batu gemantung itu, kondisi perusahaan tambak udang bisa bangkit dan berjaya kembali.”
“Gus Mur menyampaikan kepada saya, mas, batu (merah) itu punya Gajah Mada yang dipinjamkan ke perusahaan untuk kemaslahatan umat (kesejahteraan masyarakat).”
“Tapi semua itu ada masa berlakunya, karena suatu saat batu itu pasti diambil kembali oleh pemiliknya dalam kurun waktu tertentu.”
“Faktanya yang terjadi memang demikian, setelah batu itu hilang dari PT. CPB, maka terjadilah keruntuhan PT.CPB sekitar tahun 2013-2014 sampai saat ini.”
“Apakah memang benar demikian dilatarbelakangi hal itu penyebabnya, namun semua itu hanya Allah SWT yang maha mengetahui, Wallahu ‘alam.”
“Pada waktu didalam Goa ada cahaya dari sinar matahari yang hampir ditutupi akar pohon dari atas (Bukit Barisan), kata beliau (orang tak dikenal tersebut) Goa itu bernama Goa Gerong cukup luas tempat bersarang kelelawar.”
“Sedangkan didalam Goa Gerong masih terdapat Goa lagi yang bernama Goa Simatu yang menjadi sarang burung walet putih, tapi siapapun yang masuk Goa Simatu itu dengan niat tidak baik maka tidak akan selamat.”
“Jarak antara Goa Gerong dengan petilasan Makam Gajah Mada sekitar 1 kilometer yang terletak di sebuah tanjakan di pinggir jalan raya dan disekelilingnya jurang.”
“Dulu makam ada 1, yaitu petilasan makam Gajah Mada, di makam dan disekelilingnya bersih, kalaupun ada makam lain mungkin itu makam pengikut atau makam juru kunci.”
“Versi orang Surfi menurut Gus Mur petilasan adalah tempat yang pernah di lalui atau tempat persinggahan orang-orang sakti yang memiliki ilmu tingkat tinggi pada jaman dahulu.”
“Sehingga tempat persinggahan itu kemudian diberi tanda dan ditinggalkan benda-benda, tempat itulah yang dikeramatkan, diera modern sekarang disebut sebagai prasasti.”
“Siapapun dan sampai kapanpun tidak mungkin akan ada yang bisa menemukan dimana keberadaan makam Gajah Mada, yang ada itu hanyalah petilasan tempat singgah.”
“Pimpinan (Direktur PT. CPB Lampung) saya pak Isman Hariyanto pulang ke Jawa Timur setelah perusahaan gulung tikar, sedangkan saya (Syaiful Rohman) pulang kesini (Desa Tanjung Inten Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur),” pungkas Kasi Keamanan Desa Tanjung Inten.
Kini, terhitung sejak Juni 2011 Goa Simatu dikembangkan menjadi objek wisata alam oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat, setelah pemekaran wilayah pada Oktober 2012 dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dengan nama Goa Matu.
Mengutip dari artikel Nurul Laili peneliti bidang prasejarah pada Balai Arkeologi Bandung, Pemukiman di Situs Benteng Majapahit terletak di Dusun Bangi Seribujadi Desa Pekurun Kecamatan Abung Pekurun Kabupaten Lampung Utara (Kecamatan Abung Tengah) merupakan pemukiman yang berbenteng dan berparit. Secara spesifik pemukiman ini mempunyai 3 area yang masing-masing ruang dibatasi oleh benteng dan parit. Secara pertanggalan ketiga area tidak berbeda.
Secara administratif, Benteng Majapahit termasuk wilayah Desa Pekurun Kecamatan Abung Pekurun Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Secara geografis, kawasan situs Benteng Majapahit dikelilingi benteng tanah dan sungai. Situs ini terletak di sebelah Utara Waduk Way Rarem, sebelah Barat Laut sipon (pintu air) I saluran Proyek Irigasi Way Rarem (PIWR), Tulung Agheng dan Way Bangei.
Way Rarem merupakan sungai utama, di lokasi ini mengalir di sebelah Timur Laut. Aliran Way Rarem dari Barat Laut ke Tenggara. Sebelah Barat Way Rarem terdapat sungai kecil yang disebut Tulung Agheng. Sungai ini mengalir di sebelah Barat dan Utara situs. Di sebelah Timur situs terdapat aliran Way Bangi yang mengalir dari Tenggara ke Barat Laut. Ketiga sungai tersebut menyatu bermuara di sebelah Timur Laut situs.
Keberadaan situs Benteng Majapahit pertama kali disurvei oleh Tim Balai Arkeologi Bandung tahun 2003. Penelitian di situs Benteng Majapahit merupakan rangkaian dari penelitian tentang pemukiman Benteng di Desa Gunung Katun Tanjungan dan Gunung Katun Malay Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung dan pada tahun 2005 situs Benteng Majapahit ini dilakukan penelitian secara lebih mendalam.
Berdasarkan dari analisis artefak yang dilakukan, khususnya untuk tembikar dan keramik asing, menunjukkan adanya indikasi pemukiman. Identifikasi bentuk tembikar yang telah dilakukan menunjukkan bentuk wadah yang dipergunakan sehari-hari. Wadah tersebut adalah periuk, mangkuk, pasu, kendi, dan tempayan (Laili, 2006:103-108).
Data yang diperoleh dari analisis keramik asing menunjukkan benda-benda yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti piring, mangkuk, tempayan, sendok, vas, tutup, cepuk, cangkir, dan guci.
Berdasarkan hasil analisis pada aspek penanggalan, keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing, keramik Thailand, serta keramik Eropa merupakan keramik yang banyak ditemukan di situs tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktifitas masyarakat di Benteng Majapahit berlangsung sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19 (Saptono, 2006: 10-12).
Data yang menarik di situs Benteng Majapahit adalah keberadaan situs yang terbagi menjadi tiga area. Masing-masing area tersebut dibatasi dengan adanya benteng parit. Hal yang akan dikedepankan dalam tulisan ini adalah bagaimana tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit.
Penelitian yang dilakukan meliputi keseluruhan lahan situs Benteng Majapahit. Penelitian bertipe eksploratif dan deskriptif dengan mengikuti pola penalaran induktif. Sejalan dengan metode eksploratif maka penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada seluruh data guna mempertajam permasalahan, selanjutnya dilakukan pendeskripsian, analisis dan interpretasi data.
Istilah Benteng Majapahit, menurut Raja Pekurun, Tuanku Akan Pangeran mengacu pada nama pohon mojo yang rasanya pahit situs Benteng Majapahit merupakan lahan perkebunan lada. Lokasi situs berdasarkan peta topografi lembar 23 Daerah Kotabumi berada pada poisisi 04° 55’ 13,3” LS dan 104° 46’ 30” BT. Lahan situs Benteng Majapahit luasnya sekitar 900 meter persergi. Situs Benteng Majapahit terbagi dalam 3 lahan, yaitu:
Lahan sektor I merupakan lahan yang terdapat menhir. Menhir terletak di sebelah utara benteng kedua, kurang lebih pada pertengahan lahan. Jarak menhir dengan benteng berkisar 2 meter. Bentuk menhir tidak beraturan, berpenampang pipih pada bagian bawah melebar. Ukuran menhir adalah tinggi 90 cm, tebal 34 cm, dan lebar 70 cm. Di sekitar menhir diperoleh batu-batu bulat melingkar yang belum lama merupakan penataan Pak Usman (penduduk setempat). Batu-batu tersebut diperoleh dari areal lahan di situs benteng Majapahit dengan kondisi berserakan.
Lokasi sektor I merupakan lahan yang paling dekat dengan muara juga tempat bertemunya empat sungai. Di sebelah barat sektor I terdapat lahan yang landai ke arah Tulung Agheng. Tempat ini merupakan tempat yang memungkinkan untuk dipergunakan sebagai pintu masuk ke areal lahan Benteng Majapahit.
Benteng ke dua dengan lebar parit hingga mencapai sekitar 7 meter. Gundukan tanah terlihat di kedua sisi. Gundukan tanah tidak terlalu tinggi hanya sekitar 50-75 cm, sedang kedalaman parit hanya sekitar 75 cm. Pada ujung tenggara, yaitu pertemuan dengan benteng pertama, kedalaman parit hingga mencapai sekitar 6 meter.
Di dalam benteng kedua terdapat lahan yang disebut dengan sektor II. Sektor II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah). Tumulus yang ada diberi kode T 4. Diameter yang dimilki T 4 adalah 3,5 meter, sedangkan tingginya hanya 30 cm, bahkan di sisi-sisnya hampir rata dengan tanah. Kondisi saat ini tumulus terdapat batu-batu bulat kecil yang melingkarinya. Lahan II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah).
Sektor III merupakan lahan yang terdapat tumulus. Lahan ini membentang Timur Laut-Barat Daya. Tumulus yang ada di sektor III berjumlah 3 tumulus. Lahan di sektor III dikelilingi parit benteng dan sungai.
Benteng parit yang ada membentang arah barat daya – timur laut. Benteng parit ini berada di sebelah Utara lahan sektor III. Benteng terlihat di kedua sisi parit setinggi sekitar 90 cm dan kedalaman parit sekitar 170 centimeter. Lebar parit rata-rata 1 hingga 1,5 meter. Pada ujung Barat Daya benteng parit terdapat tebing yang membentang ke tepi Tulung Agheng. Bentangan tersebut selebar sekitar 25 meter ke tepi Tulung Agheng.
Benteng parit ini terus membentang ke timur laut yang kemudian menyatu pada sudut timur laut dengan benteng parit kedua. Pada ujung Timur Laut benteng ini juga berbelok ke Tenggara, sebagai batas sebelah Timur dari lahan sektor III. Benteng yang terdapat di sisi Timur lahan terdiri dari benteng tanah saja. Benteng ini semakin ke Tenggara cenderung rata dengan tanah. Lahan di sisi benteng semakin rendah membentuk tebing ke arah Way Bangi.
Clarke (1977) membedakan keruangan arkeologi dalam 3 tingkat ruang, mikro, semi mikro dan makro. Selanjutnya Mundardjito (1990) menegaskan bahasan ketiga tingkat ruang. Tingkat mikro, pola yang dipelajari berkenaan dengan persebaran ruang dan hubungan antar ruang di dalam satu bangunan, serta hubungan antara unsur-unsur bangunan dengan komponen-komponen lingkungan alam. Dalam tingkat semi mikro atau meso dipelajari persebaran dan hubungan antara bangunan-bangunan di dalam sebuah situs, seta persebaran dan hubungan antara bangunan-banguanan dengan kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Tingkat makro mempelajari persebaran dan hubungan antar situs dalam satu wilyah, serta persebaran dan hubungan antara situs-situs dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini satuan-satuannya masuk dalam permukiman tingkat meso (semi mikro) (Mundardjito, 1990: 21-26).
Pola permukiman tingkat mikro dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain mata pencaharian, bahan bangunan, lingkungan, ketrampilan dan teknologi, struktur keluarga, kekayaan dan pangkat, pranata sosial lain dan kebutuhan khusus, spesialisasi produksi, kepercayaan agama, dan pranata sosial.
Adapun pola permukiman tingkat semi mikro, faktor yang mempengaruhi antara lain lingkungan dan teknologi mata pencaharian, organisasi keluarga dan kekerabatan, kelompok kelas, agama, dan etnik, spesialisasi, nilai dan orientasi, serta kosmologi. Sedang pada tingkat makro faktor yang mempengaruhi antara lain: sumber alam, perdagangan, organisasi politik, peperangan, agama, citarasa dan simbolik, serta migrasi dan perubahan populasi (Mundardjito, 1990: 21-26).
Perilaku manusia dalam menentukan lokasi tinggalnya tidak akan acak akan tetapi mengikuti zona-zona tertentu (Parson, 1972:134-135). Demikian halnya dalam pembagian ruang menurut Watson et. al, (1971) dan Fagan (1981) untuk hunian pun tidak acak dan teratur. Keteraturan itu juga mencerminkan pola pembagian ruang, sehingga hubungan antara manusia dan ruang dimana mereka berinteraksi, dapat terungkapkan (Eriawati, 1997: 64-65).
Pemukiman situs Benteng Majapahit merupakan pemukiman di daerah aliran sungai. Situs dikelilingi sungai, kecuali di sisi barat. Ketiga sungai tersebut juga sebagai batas wilayah situs secara menyeluruh. Bentang lahan situs memenuhi syarat sebagai suatu pemukiman.
Situs dengan luas 900 meter persegi mempunyai permukaan tanah relatif datar. Posisi situs juga berada lebih tinggi dari sungai karenanya situs relatif aman. Pendukung situs dapat dengan leluasa memperhatikan pendatang yang datang dari arah sungai.
Muara di sebelah timur laut situs Benteng Majapahit (Dok. Balai Arkeologi Bandung).
Situs Benteng Majapahit sebagai sebuah pemukiman mempunyai karakteristik khas. Selain sungai sebagai batas situs, di dalam situs juga terbagi lagi menjadi 3 area (lahan). Ketiga area tersebut dibatasi oleh benteng dan parit.
Tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit terbagi menjadi 3 area (lahan), yaitu
Area (lahan) 1 terletak dekat muara serta sebagai pintu masuk situs. Lahan ini dicirikan dengan fitur menhir.
Area (lahan) 2 terletak di antara lahan I dan III. Lahan dicirikan dengan satu tumulus (punden) yang sudah mengalami erosi. Tumulus ini menurut etno histori dipercaya sebagai makam salah satu poyang pembuka desa. Ditilik dari masa tumulus ini diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam.
Area (lahan) III dicirikan dengan 3 tumulus. Seperti halnya tumulus di lahan II, tumulus juga dianggap sebagai makam poyang leluhur.
Dengan demikian tumulus ini juga diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam. Berdasarkan temuan fitur dari masing-masing lahan dapat ditarik suatu simpulan sementara bahwa pemukiman di situs Benteng Majapahit kemungkinan besar merupakan situs yang mengalami perkembangan dari masa yang lebih tua dalam hal ini masyarakat prasejarah yang dicirikan oleh menhir sampai dengan perkembangan sesudahnya yang dicirikan dengan tumulus.
Adapun benteng parit yang terdapat di antara lahan lebih merupakan batas wilayah saja.
(Ropian Kunang)
