Rio Kunang – Beliyuk Keturunan Puyang Semedekaw

LAMPUNG – Situs bersejarah “Canguk Gaccak” berada di wilayah Desa Sekipi Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten Lampung Utara Propinsi Lampung.

Letak lokasi situs bersejarah tersebut sangat mudah untuk dicapai baik menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

Dari Kotabumi Kabupaten Lampung Utara menuju ke Bukit Kemuning hingga sampai di simpang Rengas ke arah kiri menuju Desa Sekipi.

Sebelum memasuki Desa Sekipi terdapat sebuah lokasi tambang galian C, dengan menyusuri jalan kampung akan sampai di lokasi yang berada di tepian aliran sungai Way Abung.

Cerita Perjalanan Panjang
Menurut cerita lama yang disampaikan secara turun-temurun, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di Daerah Sekalabrak. Daerah ini berada di sekitar Bukit Pesagi atau Bukit Barisan hingga tepian Danau Ranau.

Menurut kajian terhadap cerita rakyat yang dilakukan oleh Oliver Sevin, pada sekitar abad ke-14 terjadi migrasi besar-besaran dari Sekalabrak ke seluruh wilayah Lampung.

Diceritakan, adalah Empu Canggih pemimpin Karatuan Di Puncak, yang berkuasa di puncak Bukit Pesagi melakukan perjalan mencari Daerah baru untuk mendirikan perkampungan.

Perjalanan panjang rombongan Empu Canggih yang juga disebut Datu Di Puncak dari Sekalabrak akhirnya singgah di Daerah Selabung selanjutnya pindah lagi ke Canguk Gaccak.

Tidak berapa lama setelah rombongan Datu Di Puncak bermukim, diketahuilah bahwa di sebelah hulu telah bermukim Rio Kunang. Beliau adalah salah satu keturunan Datu Di Pemanggilan dari Puyang Semedekaw.

Dalam rombongan Datuk Di Puncak turut serta Beliyuk yang juga berasal dari keturunan Puyang Semedekaw. Kelompok inilah yang kemudian bersatu padu untuk saling bahu membahu membangun sebuah perkampungan.

Ketentraman, kemanan dan ketertiban serta kesejahteraan masyarakat yang sudah terbentuk terganggu akibat ulah pengkhianatan Raja Di Lawuk dari Laut Lebu yang menyamar sebagai tamu Datu Di Puncak.

Kerabat Datu Di Puncak yang terdiri dari Nunyai, Unyi, Subing, Nuban, Bulan, Beliyuk, Kunang, Selagai dan Anak Tuha berunding, mereka mengatur siasat untuk melakukan pembalasan kepada Raja Di Lawuk.

Diriwayatkan bahwa Subing akhirnya berhasil membalaskan dendam kesumat, kemenangan ini kemudian dirayakan di Daerah Gilas ditepi sungai Way Besay. Dalam perayaan ini kemudian terbentuklah masyarakat Abung Siwo Migo.

Jejak-jejak Perkampungan

Objek arkeologis yang menandai bekas perkampungan di Canguk Gaccak meliputi komplek peninggalan megalitik, komplek makam Minak Trio Diso dan komplek makam Rendang Sedayu.

Perjalanan dari jalan Desa menuju lokasi setelah melalui sungai kecil Way Tamiang akan sampai pada lahan kebun kopi. Di antara rimbunnya kopi terdapat beberapa batu yang merupakan peninggalan budaya megalitik.

Batu tersebut ada yang disusun membentuk semacam meja dengan empat kaki yang dinamakan dolmen, susunan batu melingkar (stone enclouser) dan batu tegak yang ditancapkan secara berdiri yang disebut menhir.

Peninggalan semacam ini terdiri 12 kelompok, pada ujung Timur lahan terdapat benteng tanah yang dilengkapi parit. Benteng dan parit ini membentang dari tepi sungai Way Abung di Selatan hingga tepi sungai Way Tamiang di Utara.

Apabila dicermati, pada lahan ini akan dapat ditemukan pecahan keramik asing. Keramik yang pernah ditemukan berasal dari Cina buatan masa Dinasti Song pada abad ke10 – 13 dan Dinasti Yuan pada abad ke13 – 14.

Di seberang sungai Way Abung dapat dijumpai komplek makam Minak Trio Diso yang terdiri dari dua kelompok. Kelompok makam pertama berada pada lahan di tepi sawah sebelah Selatan sungai Way Abung sedangkan yang kedua berada di sebelah Barat kelompok makam pertama.

Menurut keterangan John Akhyar (juru pelihara/juru kunci), pada kelompok makam pertama, tokoh utama yang dimakamkan adalah Minak Raja Di Lawuk.

Dalam cerita rakyat, Minak Raja Di Lawuk dimakamkan di dua lokasi. Di Canguk Gaccak merupakan makam bagian kepala, sedang bagian badannya dimakamkan di Gedong Meneng, Tulang Bawang. Konon apabila Kepala dan badan tidak dipisahkan akan hidup lagi.

Kelompok makam kedua berada pada semacam bukit kecil setinggi sekitar 3 meter. Komplek makam ini dilengkapi cungkup yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara pada tahun 2003.

Tangga masuk berada di sisi Timur, pada anak tangga ketiga terdapat batu berdiameter sekitar 25 centimeter. Batu ini merupakan lambang kepala Minak Raja Di Lawuk, yang harus diinjak oleh keturunan Minak Trio Diso ketika akan berziarah.

Pada bangunan cungkup terdapat tiga makam, makam paling Timur merupakan makam Minak Dara Putih atau Hyang Mudo, makam yang ditengah merupakan makam Minak Trio Diso, dan yang di Utara adalah makam Syekh Abdurrahman. Minak Trio Diso adalah gelar anak Datuk Di Puncak yang bernama Nunyai.

Di sebelah Tenggara komplek makam Minak Trio Diso berjarak sekitar 300 meter terdapat bukit kecil yang dinamakan Gunung Rimba Bekasan. Di atas bukit terdapat lahan seluas sekitar 65 hektar yang ditumbuhi rumpunan bambu.

Pada hutan bambu ini terdapat lahan seluas sekitar 1 hektar yang dikelilingi parit serta pada sisi Barat dan Utara berbatasan dengan aliran sungai Pasuut yang merupakan anak Sungai Way Abung.

Pada lahan ini terdapat makam keramat, tokoh utama yang dimakaman adalah Rendang Sedayu. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu isteri Minak Trio Diso. Rendang Sedayu juga dikenal dengan sebutan Raja Lemaung.

Bukti Sebuah Peradaban Tinggi
Dalam perjalan peradaban masyarakat Lampung, Cangguk Gaccak merupakan tempat bermukim masyarakat pendukung tradisi megalitik dan masyarakat masa pasca prasejarah.

Tinggalan berupa dolmen di Canguk Gaccak, bagi masyarakat megalitik kadang-kadang berfungsi sebagai pelinggih roh atau tempat persajian.

Pada masyarakat megalitik yang lebih maju, dolmen digunakan sebagai tempat Kepala Suku atau Raja-raja ketika pertemuan maupun upacara pemujaan arwah leluhur.

Pada dasarnya dolmen dipandang sebagai tempat keramat. Di situs Canguk Gaccak, dolmen dilengkapi dengan menhir.

Menhir adalah mediun penghormatan, penampung kedatangan roh, dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati.

Kehidupan masyarakat megalitik memperlihatkan masyarakat berperadaban tinggi yang sudah mengenal sistem organisasi sosial.

Kehidupan ini berkembang hingga masa kedatangan Datu Di Puncak. Sistem organisasi sosial dengan diwarnai kehidupan demokratis ini akhirnya melahirkan masyarakat Abung Siwo Migo.

Beberapa peninggalan arkeologi di Canguk Gaccak merupakan bukti bahwa moyang pada masa lampau sudah berperadaban tinggi.

Oleh karena itu, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam peninggalan tersebut perlu dipahami untuk dijadikan landasan pembangunan di masa depan.

Dikutip oleh Ropian Kunang Wartawan / Kepala Biro metrodeadline wilayah liputan Kabupaten Lampung Timur dari artikel balarjabar.kemdikbud.go.id pada edisi 21 Maret 2018 berjudul, “Jejak Peradaban Tinggi di Canguk Gaccak, Persinggahan Perjalanan Panjang, Menuju Terbentuknya Abung Siwo Migo oleh Drs. Nanang Saptono,M.,I.,L.

You might also like

error: Content is protected !!