Layaknya, Bangunan Peninggalan Belanda di Sukadana Dilestarikan Menjadi Cagar Budaya

LAMPUNG TIMUR – Terdapat berbagai jenis bangunan-bangunan berusia ratusan tahun di wilayah Kewedanaan Sukadana, seperti arsitektur bangunan tangga dipinggir sungai Way Sukadana, sel tahanan, tungku, podium, kantor distrik, madrasah dan kantor Kepala Negeri disekitar lingkungan Jalan Jenderal Sudirman dan terdapat lagi sel ruang tahanan dan tak jauh di hilir ada dermaga dialiran Sungai Way Sukadana dibelakang pemukiman penduduk kini di Jalan Minak Rio Ujung Desa Sukadana.

Melalui jembatan, diseberang Sungai Way Sukadana juga terdapat arsitektur bangunan kantor pejabat Wedana dijabat oleh Mangku Ratu Sanjaya bin Radin Abdilah Gelar Adat Suttan Syech Adafid kini yang tinggal pondasi, juga kantor Pos, gudang garam, sumur dipojok pelataran Puskesmas berikut bangunan Puskesmas di Jalan Kolonel Arifin RI, sedangkan bangunan rumah dinas Wedana di Jalan Ahmad Bastian Desa Sukadana Pasar.

Kesemua arsitektur bangunan itu merupakan peninggalan arsitek pada jaman onder afdeling era kependudukan Pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Kewedanaan Sukadana sebagai saksi bisu menandakan ada aktivitas masyarakat tempo dulu, baik aktivitas pemerintahan maupun kegiatan perekonomian, dimana bangunan-bangunan tersebut masih dapat dikembangkan, dengan cara direhabilitasi dan direvitalisasi atau dibangun kembali untuk dijadikan sebagai cagar budaya.

Sebagian bangunan-bangunan masih tampak berdiri dengan kokoh bahkan dihuni, ada juga diantaranya yang terbengkalai bahkan digempur dihancurkan leburkan, hingga tinggal pondasi maupun diratakan dengan tanah, tanpa disadari bangunan-bangunan itu memiliki nilai historis.

Seperti bangunan sel tahanan, dapur dan tungku, kantor distrik, kantor kepala negeri dan podium, dermaga hancur diratakan dengan tanah. Bangunan kantor Wedana hanya tinggal pondasi. Sumur galian dan Puskesmas, kantor Pos dan bangunan gudang garam masih dimanfaatkan, terkecuali bangunan rumah dinas Wedana terbengkalai tak berpenghuni.

Menurut Zainal Abidin Wahid dengan Gelar Adat Suttan Paku Alam warga Jalan Jenderal Sudirman Nomor 216 Desa Sukadana Kecamatan Sukadana pada Rabu, 7 Oktober 2020 jam 11.30 WIB bangunan rumahnya yang dihiasi kaca patri, diperkirakan usianya mencapai 120 tahunan yang dibangun pada awal abad ke XIX atau tahun 1900 silam masih masa kependudukan Belanda.

Tampak dari depan, terdapat bangunan pagar, bangunan rumah, pagar tembok pada sisi kanan bangunan rumah, pondasi bangunan menggunakan tiga undak anak tangga, lantai keramik, dinding papan, kanopi, daun pintu dan jendela tampak dihiasi dengan kaca patri.

Kaca patri yang dipasang pada daun pintu dan jendela yang tampak indah berwarna-warni dan lantai keramik pernah dilihat langsung oleh Suhanaini istri almarhum Nurdin Muhayat ketika Nurdin Muhayat sedang menjabat Walikota Bandar Lampung.

Selain daripada itu, terdapat arsitektur bangunan sumur galian tua dipojok depan Puskesmas Sukadana hingga kini air sumur dan bahkan bangunan Puskesmas masih tetap dimanfaatkan, meskipun menurut Lawai petugas cleaning servis, Lawpada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 12.300 WIB bangunan tembok sumur diratakan dengan lantai paving block, sementara bangunan Puskesmas selalu direhabilitasi.

Begitu pula dengan Ristanial Sarbini tenaga kerja kantor Pos Sukadana pada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 13.00 WIB dihadapan pimpinannya menerangkan apabila bangunan kantor Pos Sukadana di jalan Kolonel Arifin RI Desa Sukadana Pasar tempatnya bekerja merupakan peninggalan Hindia Belanda.

Jabatan Wedana dijabat oleh Mangku Ratu Sanjaya bin Radin Abdilah Gelar Suttan Syech Adafid, sedangkan Kepala Negeri Sukadana (Induk/kampung tua) dijabat oleh Hasanuddin bin Bukik dan Pesirah (Tuho/Tua) Sukadana dijabat oleh Abdul Wahab bin Bukik.

Hal itu diutarakan oleh Rahman Sanjaya keponakan Mangku Ratu Sanjaya warga Desa Mataram Marga Kecamatan Sukadana, Desa Sukadana (induk/darat) terlebih dahulu didirikan baru kemudian menyusul Desa Sukadana Pasar dan Sukadana Ilir dengan Abdul Wahab bin Bukik sebagai Pesirah.

“Pejabat Wedana itu dijabat paman kakak kandung dari orang tua kami, Pesirah Tuho Sukodano Abdul Wahab bapak Umar Hamdan, kalau sejarahnya duluan berdiri Desa Sukadana (Induk/darat) daripada Desa Sukadana Pasar dan Sukadana Ilir, nggak tau ada apa kok terjadi perubahan nama menjadi Desa Pasar Sukadana,” kata Rahman pada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 19.00 WIB dengan sedikit nada terheran-heran.

Sayangnya, Rahman tidak menyimpan photo kantor Wedana ditempat Mangku Ratu Sanjaya menjabat untuk dilakukan revitalisasi.

“Photo kantor Wedana nggak nyimpan, kalau lokasinya disamping kantor Pos, bangunannya semi permanen separoh dinding papan, didepan kantor Wedana itu juga ada bangunan rumah jaman Belanda, kalau bangunan kantor Pos itu bagian atasnya sudah direnovasi baru, (revitalisasi) saya rasa bangunan kantor Wedana dimana-mana semua pasti ada yang sama,” terangnya.

Umar Hamdan gelar Adat Rajo Laksano bin Abdul Wahab warga Jalan Minak Rio Ujung Desa Sukadana mengatakan bahwa Abdul Wahab bin Bukik orangtuanya pejabat Pesirah (Tuho/Tua) Sukadana dan Hasanuddin adalah pejabat Kepala Negeri Sukadana pada jaman onder afdeling era pemerintahan Hindia Belanda menerangkan sejumlah bangunan dan kegiatan era Pemerintahan Wedana.

“Ada bangunan tangga, sel tahanan, madrasah, kantor kepala negeri dan rumah bangunan Belanda. Disini (Jalan Minak Rio Ujung) ada sel tahanan PKI, disitu kantor distrik Opas (Tentara Belanda) di belakang itu ada BUM (Dermaga),” kata Umar Hamdan kepada metrodeadline pada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 19.30 WIB dikediamannya.

“Pondasi kantor Wedana disamping kantor Pos, kantor Pos itu dulu bekas bangunan Belanda juga, bangunan gudang garam, sumur didepan Puskesmas, Puskesmas dibangun Sidi (Pesirah Tuho) sudah sering direnovasi, didepan kantor Wedana ada bangunan rumah dinas Belanda pekarangannya yang cukup luas,” terang Ratu Danim panggilan akrab Umar Hamdan.

“Kalau nggak dilindungi Pesirah habis orang-orang kita dihukum Menir (penagih pajak Belanda) ada juga yang ditembak sebab nggak bayar pajak, maka sebelum diajak Menir masuk nagih pajak, ada utusan Pesirah ngasih tau masyarakat, kalau nggak ada duit disuruh nyumput dulu waktu Menir masuk, kalau ada orang kita yang kena tembak, gantian orang Belanda ditembak satu-satu juga, kebetulan memang jaman perang,”urai Rajo Laksano gelar Adat Umar Hamdan.

“Kalau jenis barang-barang antik peninggalan jaman Belanda dirumah ini sudah tidak ada lagi, yang ada cuma tinggal sebuah bupet dan kursi, ada satu pakaian Sidei Pesirah Tuho disimpan oleh almarhum Batin Pengiran Desa Bumi Tinggi, ada makam orang China dibelakang Masjid Agung Al Furqon pasar lama, bangunan itu ada nilai sejarahnya,” pungkasnya.

Masyarakat berharap agar Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat merehabilitasi dan merevitalisasi sejumlah bangunan-bangunan tertua dan kuno dapat dilestarikan bahkan dijadikan sebagai Cagar Budaya Situs Bersejarah untuk diketahui para generasi penerus.

Rencananya, pada tahun 2021 mendatang, akan digelar kegiatan acara Sukadana Fair yang akan melibatkan 20 Desa se-Kecamatan Sukadana di lapangan Merdeka Desa Pasar Sukadana Kecamatan Sukadana.

Kegiatan itu akan dikoordinir oleh David Suwandi Pratama (28) Ketua Karang Taruna Generasi Muda Pasar Sukadana (Gempars) Desa Pasar Sukadana, dalam rangka memperingati kelahiran Kota Soekodano ke-371.

“Tahun ini usianya genap 370 tahun … Insyaallah tahun (2021) depan kita akan mengadakan SUKADANA FAIR guna memperingati berdirinya SOEKODANO yang ke 371,” tutur David kepada metrodeadline pada Selasa, 6 Oktober 2020 pukul 16.23 WIB melalui WhatsApp.

Menyikapi rencana akan diadakan acara Sukadana Fair oleh David Suwandi Pratama (28) Ketua Karang Taruna Gempars Desa Pasar Sukadana Kecamatan Sukadana pada tahun 2021 mendatang disetujui Kepala Desa Pasar Sukadana, Delli Soltoni.

Adel panggilannya juga menjadi Ketua Forum Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Sukadana menilai acara itu penting, agar masyarakat mengetahui tentang sejarah Sukadana.

“(Koordinasi) sudah, setuju, karena penting sekali acara tersebut dilaksanakan agar masyarakat umum tahu tentang sejarah Sukadana, mulai dari lahirnya (tahun 1650) sampai sekarang (tahun 2020),” kata Adel kepada metrodeadline pada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 18.27 WIB melalui WhatsApp.

Mengutip, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya,

Pasal 5 Benda, bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:

a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;

b. mewakili masa gaya paling singkat berusia

50 (lima puluh) tahun;

c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan

d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Pasal 10 Satuan ruang geografis dapat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya apabila:

a. mengandung 2 (dua) Situs Cagar Budaya atau lebih
yang letaknya berdekatan;
b. berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia
berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
c. memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang pada
masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh)
tahun;
d. memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada
proses pemanfaatan ruang berskala luas;
e. memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya;
dan
f. memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung
bukti kegiatan manusia atau endapan fosil.

(Ropian Kunang)

You might also like

error: Content is protected !!