
Tulangbawang Barat, metrodeadline.com – Umar Ahmad Bupati Kabupaten Tulangbawang Barat akan memperbaiki bentuk dan cerita patung Semar yang menjadi perbincangan masyarakat setempat.
Diketahui, patung Semar yang diapit oleh sepasang patung penganten yang memakai pakaian adat Lampung tersebut terletak di Tiyuh Totomulyo, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tubaba.
” Kita memang sedang memproses sebelum visual. Jadi sebelum bentuknya kita rubah, akan kita perbaiki ceritanya,” ujarnya. Rabu, (01/07/2020).
Lanjutnya, patung semar itu akan menjadi simbol transmigrasi masyarakat jaman pada zaman dahulu.
“Sebagai contoh, proses migrasi orang itu sudah terjadi sejak ribuan ataupun puluhan ribu tahun yang lalu.
Orang yang lahir di tempat asalnya terus tinggal di daerah lain dan meninggalnya di tempatnya berbeda itu sudah terjadi puluhan ribu tahun yangg lalu. Proses perjalanan transmigrasi di era tahun tujuh puluhan itu yang mau kita ditandai dengan patung Semar,” jelasnya.
Masih kata Bupati Tubaba, akan tetapi bentuk patung semar yang seperti saat ini. Tapi, patung semar yang sudah berbaur dengan nilai-nilai adat lampung.
“Tapi Semar bukan dalam bentuk yang seperti kita lihat itu, Semar yang sudah diadatkan dalam proses adat lampung.
Jadi penerimaan inilah nanti yang akan kita visual kan di bentuk patung itu,” paparnya.
Dirinya juga menambahkan, terkait dengan bentuk patung yang menjadi perhatian masyarakat saat ini, yang membuatnya pemerintah tiyuh setempat, tidak ada campur tangan pemerintah daerah.
” Terkait dengan bentuk yang sudah dibuat sekarang itu pemda tubaba enggak ada kaitannya, ini murni di dalam kegiatan pemerintah tiyuh. Melihat visual yang ada sekarang ya kita akan agar segera kita perbaiki,” ucapnya.
Saat disinggung mengenai pro dan kontra bentuk patung Semar itu, dirinya meminta masyarakat untuk tidak menjadi provokator dalam polemik patung tersebut.
” Masyarakat juga jangan Provokatif. Seperti status Pak Ishak itu provokatif, kalau patung itu tidak ada salahnya, yang ada hanya indah, cantik atau jelek. Tidak ada permasalahan dalam patung itu, itu hanya asumsi kita semua. Itu yang harus kita benahi,” paparnya.

Sementara, Herman Artha selaku Ketua Federasi Mego Pak menuturkan kesalahan bentuk patung itu dikarenakan ketidak pahaman pekerja yang membuatnya.
” Sebenarnya sudah kita sarankan akan tetapi, mungkin tukang pembuat patung dan Kepalo tiyuhnya kurang nyambung, makanya bentuknya seperti itu,” tuturnya.
Untuk itu, dirinya akan memberikan pengarahan kepada aparat tiyuh setempat untuk perbaikan patung semar itu
“kemarin sudah saya sarankan untuk kita perbaiki lagi bentuk dan cerita patung tersebut,” tutupnya. (KSN/ANDI)
