
LAMPUNG TIMUR – Kedua tangannya sebatas pergelangan dan kaki kirinya sebatas lutut, itulah kondisi Erni Ardiyanti (19) warga Dusun Tulung Selapan Desa Raja Basa Lama (Rabala) Kecamatan Labuhan Ratu. Meskipun dengan ketidaksempurnaan kondisi fisik yang dialaminya sedari lahir, namun Erni tetap semangat, penuh percaya diri dan gigih ingin berjuang hidup mandiri.

“Aku tetap bersyukur, walaupun tubuhku tidak sempurna, tapi aku tidak ingin menangis”. Ucap Erni.
Itulah untaian kalimat yang diungkapkan Erni gadis usia remaja yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Ia merupakan anak seorang janda yang diterlantarkan ayahnya menikah lagi.
Cukup dimaklumi, disamping kondisi tubuhnya sedemikian rupa, Erni juga berlatar belakang keluarga tidak mampu. Ia dan ibunya berteduh numpang di rumah penduduk, bersama kakak laki-lakinya yang masih berstus lajang.
Pekerjaan ibu dan kakaknya hanya buruh tani bekerja serabutan, coba kita bayangkan berapa besar penghasilan mereka sehari-hari.
Sejak lahir hingga berusia 19 tahun, Erni belum pernah menerima bantuan berupa uang maupun barang sumber dari lembaga, instansi atau pihak manapun.
Menurut cerita Erni, ia pernah beberapa kali didatangi orang bertujuan hendak membantu, dengan cara melaporkan ke Pemerintah tentang kondisi fisik dan keadaan ekonomi keluarganya.
Mereka datang, bertanya, berbincang-bincang, lalu pamit pulang, sebelumnya minta photo copy Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik ibunya. Namun hingga kini tidak ada kabar berita dari orang-orang tersebut apalagi bantuan.
Ketika berkunjung kerumah Erni, banyak cerita yang didengar, mulai dari masa kecilnya, kegiatan sehari-harinya hingga tekad bahkan sampai cita-citanya.
Erni sempat memperlihatkan baju hasil keterampilan tangannya yang dirancang dan dijahitnya sendiri. Ia memiliki kemampuan menjahit pakaian dengan menggunakan mesin jahit manual.
Kami hampir tak percaya, bagiamana ia bisa memotong kain, membuat pola dan menjahit pakaian hingga jadi. Padahal kedua tanganya tidak ada jari jemari dan kakinya hanya sebelah kanan yang sempurna.
Tapi setelah melihat secara langsung Erni mempraktekkan bagaimana caranya bekerja, sungguh kami dibuatnya berdecak kagum seakan tak percaya.
Masih ada lagi cerita menarik tentang kehebatan Erni, ia bisa membaca, juga menulis dan pandai berhitung, padahal tidak pernah belajar di bangku sekolah.
Erni juga mampu mengoperasikan handphone android miliknya, darimana handphone tersebut diperoleh, ternyata dibeli dari uang hasilnya menabung.
Uang itu adalah hasil upahnya menjahit, tak sedikit masyarakat sekitar minta dijahitkan pakaiannya. Baik pakaian robek, melonggarkan atau sebaliknya mengecilkan.
Kemampuan Erni menjahit didapatkanya bukan dari kursus, tidak belajar secara khusus, tidak ada seorangpun yang mengajarinya.
Erni belajar secara otodidak, cukup hanya dengan cara sepintas melihat orang lain menjahit, lalu apa yang dilihatnya itu, kemudian dipraktekkanya dirumah.
Setelah ngobrol panjang lebar, kami mengajak Erni pergi ke pasar disekitar tempat tinggalnya, untuk sekedar menikmati malam makan bersama di sebuah warung tenda.
“Aku hidup percaya diri, aku ingin hidup mandiri walaupun keadaanku begini”. Kata Erni Ardiyanti mengakhiri cerita tentang kehidupnya.
Tetes air mata tak terasa sudah membasahi pipi seakan tak sanggup mendengarkan kisah pilunya.
(Sumber : Dian Ansori)
