Sejarah Keturunan Suku Asli Lappung Pepadun Abung Siwo Migo

 

LAMPUNG TIMUR – Sejarah bangsa, ingat masa lalu senantiasa membuatmu mengerti akan tentang kehidupan, bagaimana cara menghadapi, memaknai dan menghargai masa depan. Sesuai pesan sang Proklamator bung Soekarno, ingat Jas Merah, Jangan Sampai Melupakan Sejarah.

Potensi Daerah Propinsi Lampung banyak yang belum terjamah oleh publik, termasuk salah satunya adalah potensi wisata yang ada di Lampung. Lampung yang pada jaman dahulu kala merupakan sebuah Kerajaan, sudah tentu memiliki banyak sejarah yang bisa digali dan dijadikan cerita untuk masyarakat Lampung.

Salah satunya, yakni cerita daerah Canguk Gaccak yang ada di Sekipi Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten Lampung Utara. Situs Canguk Gaccak berada di tepi sungai Way Abung, yang merupakan anak sungai Way Rarem. Di sebelah utara sungai terdapat lahan yang dibatasi sungai alam serta parit dan benteng tanah buatan. Parit dan benteng tanah berada di bagian timur, melintang dengan orientasi utara – selatan menghubungkan dua aliran sungai. Daerah Canguk merupakan satu daerah yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan masyarakat Lampung.

Menurut Marwansyah Warganegara, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di daerah Sekalabrak yang berada di sekitar Gunung (Bukit) Pesagi hingga tepian Danau Ranau, yang sekarang menjadi Kabupaten Lampung Barat. Terdapat empat Empu yang merupakan cikal bakal masyarakat Lampung, keempat empu tersebut adalah: “Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak”, “Empu Serunting Bergelar Ratu Di Pugung”, “Empu Rakihan bergelar Ratu Di Belalaw”, dan “Empu Aji Saka bergelar Ratu Di Pemanggilan”.

Suatu hari pada Abad ke – 14, “Ratu Di Puncak” mengadakan imigrasi dari Skalabrak menuju Daerah Selabung lalu pindah ke Canguk Gaccak bersama ketiga istrinya yakni “Puteri Laut Lebu” yang melahirkan anak “puteri Nuban”, “Puteri Ranau” yang melahirkan anak “Nunyai dan Unyi”, “Puteri Pagaruyung” yang melahirkan anak Betan lebih dikenal dengan nama “Subing”.

“Nyunyai” memiliki gelar adat “Minak Trio Deso” hidup pada tahun 1670 sampai dengan 1775. Minak Trio Deso memiliki maju (istri) dua, yang pertama “Minak Rajo Lemawung” dari Daerah Melinting (Kecamatan Melinting Kabupaten Lampung Timur) dan yang kedua “Minak Munggah Dabung” dari daerah Sekipi (Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten Lampung Utara). Dari istri yang pertama memiliki anak keturunan yaitu “Minak Penatih Tuho”, sedangkan dari istri yang kedua memiliki anak keturunan “Minak Krio Demung Latco”, dan “Minak Kebahyang”.

Beliau “Minak Penatih Tuho” menurunkan anak keturunannya yang pertama “Minak Semelasem” dan yang kedua “Minak Gutti Selango” (Krio Lanang Jayo). Beliau “Minak Krio Demung Latco” menurunkan anak keturunannya di Kampung Surakarta, Kampung Mulang Maya, Kampung Bandar Abung (Kabupaten Lampung Utara), sedangkan beliau “Minak Kebahyang” menurunkan anak keturunanya di Kampung Blambangan dan Kampung Kota Alam (Kabupaten Lampung Utara).

Konon ada cerita tersendiri mengenai istri kedua dari “Minak Trio Deso” yakni “Minak Munggah Dabung” (Rendang Sedayu) dimana Keluarga “Rendang Sedayu” tidak menyetujui pernikahan Putrinya karena akan dijadikan istri kedua. Akan tetapi karena ketampanan dari “Minak Trio Deso” yang digambarkan memiliki tubuh tinggi besar, kulit putih, rambut hitam tidak panjang tidak pendek dan berkat kegigihan beliau meyakinkan “Rendang Sedayu” akhirnya merekapun menikah, meski harus pergi dari Canguk Gaccak selama beberapa tahun. Pergi dari Rumah ini yang menjadi cikal bakal adat “Sebambangan” di dalam tradisi Lampung.

Ketentraman, keamanan dan ketertiban serta kesejahteraan masyarakat yang sudah terbentuk terganggu ulah pengkhianatan “Raja Di Lawuk” dari Laut Lebu yang berhasil membunuh “Ratu Di Puncak”. Akhirnya keresahan ini memaksa Marga Nyunyai, Marga Unyi, Marga Nuban, Marga Subing, Marga Kunang, Marga Anak Tuho, Marga Selagai, Marga Nyerupa dan Marga Beliuk atau yang dikenal dengan sebutan “Abung Siwo Mego” bersatu padu untuk membalas dendam dan akhirnya “Raja di Lawuk” berhasil dibunuh oleh salah satu anak “Ratu Di Puncak” yakni “Betan Subing”.

Marga Nyunyai yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (kelurahan /Desa) seluruh Kabupaten Lampung Utara, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Kota Alam, Kampung Blambangan, Kampung Bumi Abung Marga, Kampung Surakarta, Kampung Bandar Abung, Kampung Mulang Maya, Kampung Gedung Nyapah, Kampung Pungguk Lama, Kampung Penagan Ratu, Kampung Negeri Kegelungan, Kampung Labuhan Dalem, Kampung Banjar Abung, Kampung Kotabumi Ilir, Kampung Kotabumi Tengah, Kampung Kotabumi Udik, Kampung Bumi Nabung Way Abung, Kampung Bumi Nabung Way Seputih, Kampung Bumi Nabung Cappang dan Kampung Cahaya Negeri.

Marga Unyi yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan/Desa) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Gunung Sugih Way Seputih, Kampung Gunung Sugih Baru, Kampung Surobayo Ilir, Kampung Surobayo Udik, Kampung Buyut Ilir, Kampung Buyut Udik, Kampung Rantau Jaya, Kampung Teluk Dalem Way Seputih dan kini Kampung Rantau Jaya dan Kampung Sukadana berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Timur.

Marga Subing yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan/Desa) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Terbanggi Besar, Kampung Terbanggi Ilir, Kampung Terbanggi Labuhan, Kampung Terbanggi Marga, Kampung Terbanggi Agung, Kampung Terbanggi Subing, Kampung Metaram Tua, Kampung Metaram Ilir, Kampung Indra Putra Subing, Kampung Lempuyang Bandar. Kini yang berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Timur Kampung Metaram Baru, Kampung Metaram Marga, Kampung Rajo Baso Batang Hari, Kampung Rajo Baso Lamo, Kampung Rajo Baso Baru, Kampung Labuhan Ratu Megeraw, Kampung Jepara Pane. Kini Kampung Semangka Kota Agung dalam wilayah Kabupaten Tanggamus.

Marga Nuban yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (Kelurahan/Desa) Kabupaten Lampung Timur, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Desa Bumi Jawo, Desa Bumi Tinggi, Desa Gunung Tigo, Desa Lihan, Desa Gedung Dalem, Desa Sukaraja Nuban dan kini Kampung Bumi Ratu berada dalam wilayah Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu.

Marga Nyerupa tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan/Desa) Kabupaten Lampung Tengah penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Komering Putih, Kampung Komering Agung dan Kampung Fajar Bulan.

Marga Beliuk yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan), penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Bandar Putih Kabupaten Lampung Utara, Kampung Tanjung Ratu, Kampung Gedung Ratu Kabupaten Lampung Tengah, Kampung Negeri Nabung, Kampung Negeri Agung, Kampung Negeri Jematen dan Kampung Negeri Tua Kabupaten Lampung Timur.

Marga Kunang yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan), Kabupaten Lampung Utara dan penyebaran kampungnya yaitu: Kampung Aji Kagungan, Kampung Pager, Kampung Tanjung Kemalo, Kabupaten Lampung Selatan Kampung Negaro Ratu Natar, Kabupaten Pesawaran Kampung Negaro Ratu Masgar dan Kota Bandar Lampung Kampung Labuhan Ratu Tanjung Karang.

Marga Selagai yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Utara, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Pekurun, Kampung Negeri Agung, Kampung Tanjung Ratu Selagai, Kampung Gedung Nyapah Selagai, Kampung Gedung Gematti,
Kabupaten Lampung Timur Kampung Negeri Katun, Kampung Gedung Wani dan Kampung Nyappir.

Marga Anak Tuho yang tergolong kelompok Abung Siwo Migo menyebar di kampung-kampung (kelurahan) Kabupaten Lampung Tengah, penyebaran kampung-kampungnya yaitu: Kampung Padang Ratu, Kampung Haduyang, Kampung Kuripan, Kampung Tanjung Harapan, Kampung Negaro Bumi Udik, Kampung Negaro Aji Tuho, Kampung Negaro Bumi Ilir, Kampung Bumi Aji Tuho dan Kampung Aji Pemanggilan.

Saat ini, Canguk Gaccak merupakan situs bersejarah di Lampung Utara. Di bagian dalam lahan terdapat kompleks dolmen, batu melingkar (stone enclouser), dan menhir terdiri dua belas kelompok.

Pada lahan yang berada di sebelah selatan sungai terdapat kompleks makam terdiri dua kelompok. Kelompok makam pertama berada pada lahan di tepi sawah. Tokoh utama yang dimakamkan adalah “Minak Raja Di Lawuk”, berada di bagian paling timur. Di bagian paling barat terdapat makam “Paksi Tuan Guru” yakni merupakan keturunan “Minak Trio Diso”.

Kelompok makam kedua berada di sebelah barat kelompok makam pertama. Kelompok makam berada pada lahan setinggi sekitar 3m dari permukaan lahan sawah. Pada tangga masuk sebelah timur menuju makam terdapat batu berdiameter sekitar 25cm. Batu tersebut merupakan lambang kepala “Minak Raja Di Lawuk”, yang harus diinjak oleh keturunan “Minak Trio Diso” ketika akan berziarah. Pada kompleks makam terdapat tiga makam. Makam paling timur merupakan makam “Hyang Mudo”, makam yang ditengah merupakan makam “Minak Trio Diso”, dan yang di utara adalah makam “Syekh Abdurrahman”.

Untuk mengembalikan kehormatan “Datu Di Puncak”, kepala “Minak Raja Di Lawuk” dikubur di tengah jalan yang dilalui orang jika akan ke makam “Datu Di Puncak”, yaitu antara tepi sungai dengan makam “Datu Di Puncak”. Apabila mengacu pada cerita ini maka tokoh utama yang dimakamkan di kompleks ini adalah “Datu Di Puncak”. Di sebelah tenggara kompleks makam “Minak Trio Diso” berjarak sekitar 300m terdapat bukit kecil yang dinamakan Gunung Rimba Bekasan.

Di atas bukit terdapat lahan seluas sekitar 1 ha yang dikelilingi parit dan sungai. Parit di sisi timur lebarnya sekitar 50 cm.

Parit di sisi selatan lebarnya sekitar 10m dengan kedalaman sekitar 6m. Sisi barat dan utara merupakan aliran sungai Pasut yang merupakan anak Way Abung. Pada lahan yang dikelilingi parit dan sungai, terdapat makam keramat berorientasi barat laut – tenggara. Tokoh yang dimakamkan terdiri dari “Minak Dara Putih” (barat daya), “Rendang Sedayu” (tengah), dan ” Minak Munggah Di Abung” (timur laut), dikutip oleh : Ropian Kunang Kepala Biro Media Online metrodeadline.com Kamis, 29 Agustus 2019 dari laman atikawidadty.bloodshot.com edisi, Minggu, 24 September 2017 berjudul : Canguk Gaccak : Sejarah Keturunan Lampung Abung.

di ringkas dari :http://www.pikiranlampung.com/2017/07/situs-makam-minak-trio-diso-leluhur.html
di ringkas dari : http://erizalbarnawi.blogspot.co.id/2014/05/marga-nyunyai-masyarakatyang-melakukan.html
di September 24, 2017

Label: Sejarah di Provinsi Lampung

You might also like

error: Content is protected !!