Persiapkan Generasi Penerus Pengganti Tokoh Adat Fasih Aksara Lampung

Laporan : Ropian Kunang

LAMPUNG – Tabikpun …, perasaan miris muncul akibat ada kekhawatiran terhadap para generasi penerus takut akan kehilangan budayanya. Sebab tanpa disadari kini budaya itu nyaris sirna disinyalir pengaruh budaya luar yang modern ala kebarat-baratan, sehingga budaya sendiri ditinggalkan.

Budaya modern cepat berkembang di bumi pertiwi khususnya di tanah Abung Siwo Migo tercinta, dampak buruk mempengaruhi pemuda – pemudi baik itu ucapan dan perbuatan mulai dari kehidupan ditengah kota hingga merambah ke pelosok desa secara perlahan adat ketimuran kita diabaikan.

Budaya Indonesia merupakan anugrah Allah SWT atau Tuhan YME penguasa alam semesta dan menjadi sebuah bukti kekayaan bangsa dan juga merupakan ciptaan warisan para leluhur. Suatu kebanggaan generasi penerus dan kini seakan tergerus bahkan nyaris sirna ditelan derasnya arus zaman.

Adakah kini, para generasi penerus yang mampu dan bersungguh-sungguh serta berkeinginan dibaluti tekat bulat kegigihan demi mempertahankan agar budaya tetap terjaga keutuhannya bila perlu dilestarikan dan ditumbuh kembangkan kepada seluruh generasi penerus cita-cita para leluhur, harapan keluarga, tunas nusa dan bangsa.

Perihal ini, ditujukan ke para generasi penerus asli Putra Daerah yang berasal dari Suku Lampung di tanah Abung Siwo Migo, tak menutup kemungkinan bagi generasi penerus di Bumi Lappung Sai Batin atau Ruwa Jurai, Megow Phak dan Daerah lainnya. Karena, selangkah lagi kita pasti akan kehilangan, buktinya, kini mulai terasa sulit mencari sosok seseorang yang fasih, pandai dan hafal dapat diandalkan membaca sekaligus menterjemahkan tulisan huruf Aksara Lappung.

Yang disiapkan ahli bahasa asing menjadi juru bicara (Jubir) bahkan ada akademi bahasa asing (ABA). Terlepas itu yang juga tak kalah penting seorang tenaga kerja Indonesia (TKI), sebelum ke negara tujuan harus pandai bahasa mandarin meskipun bahasa sehari-hari.

Bermula dari Sadarudin Camat Kecamatan Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung meminta dihadirkan penterjemah dari Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung untuk menterjemahkan sepucuk surat menggunakan tulisan huruf aksara Lampung.

“Tolong cari dan hadirkan penterjemah yang ahli dan fasih membaca tulisan aksara Lampung dari Sukadana, untuk menetralisir. Selain penterjemah yang dibawa oleh kedua belah pihak masing-masing”. Kata Sadarudin Camat Kecamatan Marga Tiga Kamis, 22 Agustus 2019 pukul 12.00 WIB diruang kerjanya.

Surat yang akan diterjemahkan dari Muhamad Samsi (70) Gelar Adat Pangeran Perdana warga Desa Negeri Jemanten Kecamatan Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur. Samsi ingin memastikan apa bunyi isi surat yang dibuat Kamis, 30 Januari 1930 sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Jumat, 17 Agustus 1945 diproklamasikan oleh bung Soekarno dan bung Mohammad Hatta.

Surat tersebut diperoleh Muhamad Samsi dari Jaelani dan Rin warga Desa Negeri Agung Kecamatan Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur melalui perantara Didit Sumardiyono Kepala Desa Negeri Jemanten Kecamatan Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur sebagai lampiran surat keterangannya pada Jumat, 9 Agustus 2019.

Menurut Herman gelar Adat Ndiko Ratu tokoh Adat Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, sedangkan pihaknya saja meminta bantuan Ndiko Kepalo Rajo dari Kampung Bumi Nabung Ilir Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung sebab tak ada lagi seorang pun di Desanya yang fasih membaca surat Aksara Lappung.

“Kalau di Sukadana tidak ada lagi yang bisa, dulu kami saja minta bantuan Ndiko Kepalo Rajo di Bumi Nabung Ilir untuk menterjemahkan isi book”. Kata Herman gelar Adat Ndiko Ratu Sabtu, 24 1 2019 jam 08.00 WIB di kediaman Rasyid warga Desa Pasar Sukadana Kecamatan Sukadana saat akan menghadiri pernikahan (Manjau).

Ia mengarahkan mendatangi Thalib warga Desa Lehan Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Lampung Timur, sedangkan di Desa Terbanggi Marga Kecamatan Sukadana tidak ada dan kemungkinan juga ada di Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana.

“Ada juga yang bisa menterjemah, Thalib di Lehan, di Terbanggi sudah saya hubungi tapi tidak ada, coba hubungi tokoh Adat di Desa Negara Nabung siapa tau ada”. Tambahnya.

Sehubungan sulitnya mencari penterjemah, Herman berharap kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur memprioritaskan bahasa daerah Lampung dijadikan mata pelajaran di satuan pendidikan sesuai daerah masing-masing.

“Sebenarnya, saya sudah bicara dengan Bupati Lampung Timur, Zaiful Bokhari, supaya budaya dilestarikan, bukan hanya acara manjau debingei, tapi aksara Lampung dijadikan mata pelajaran bahasa daerah di sekolah. Apabila tidak, setelah kami atau orangtua kami ini meninggal dunia, tidak ada lagi yang bisa”. Harapnya.

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan cipta, rasa, karsa dan hasil karya masyarakat, Kebudayaan Nasional Indonesia adalah keseluruhan proses dan hasil interaksi antar-Kebudayaan yang hidup dan berkembang di Indonesia.

Pemajuan Kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam rangka menumbuh kembangkan dan melestarikan budaya menjadi mata pelajaran Bahasa Daerah Lampung sesuai amanat Pasal 20, 21 dan 32 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Tabikpun.

You might also like

error: Content is protected !!