Kekeringan Melanda Lamteng, Warga Harus Berjalan 1 Kilometer Dapatkan Air

LAMPUNG TENGAH – Dampak dari musim kemarau yang terjadi di sejumlah kawasan di Provinsi Lampung, sudah melanda beberapa kawasan di Lampung Tengah.

Di Kampung Purnama Tunggal, Kecamatan Way Pengubuan, warga harus berjalan hingga satu kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Sejumlah warga menuturkan, kekeringan sudah terjadi sejak dua bulan terakhir. Akibatnya, mereka harus antre ke sejumlah sumur di musala atau mengambil air di rumah warga yang memasang sumur bor.

Sugeng salah satu warga menuturkan, untuk keperluan air bersih guna kepentingan empat anggota keluarganya, ia harus rela setiap hari mengantre dan mengunjal air bersama warga lainnya.

“Ada sumur tapi sekarang sudah kering. Jadi dua bulan terakhir harus ngambil dari mushola di sana (lebih kurang berjarak 500 meter),” terang Sugeng saat ditemui di rumahnya, Rabu (21/8/2019).

Beban warga semakin berat, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa mendapatkan air bersih di sumur bor bilik bersama itu.

“Ya harus bayar, mas. Seikhlasnya. Karena kita juga kan harus ikut menanggung beban listriknya,” sambungnya.

Pernyataan tak jauh berbeda disampaikan Siti warga lainnya. Ia menyebutkan, harus mencuci pakaian dan mengambil air bersih di sumur umum yang berada di Musala Nurul Iman.

Siti mengatakan, setelah sumur di rumahnya kering ia harus mondar-mandir ke sumur umum bersama warga lainnya mencuci dan mengunjal air dengan timba manual.

“Ya harus bolak-balik sini (rumah-sumur umum), sehari dua kali, pagi dan sore. Ngambil (air) buat minum sama cuci pakaian,” tandasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Tengah, Guntur Napitupulu saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya hanya memiliki satu unit mobil tangki air bersih untuk penanganan ke 28 kecamatan.

“BPBD punya satu unit mobil tangki air bersih. Penggunaanya apabila diperlukan oleh pihak kecamatan maka akan kita kirim air bersih ke kecamatan yang butuh,” ujar Guntur Napitupulu.

Terkait sudah adanya kawasan di Lamteng yang terkena dampak kekeringan, Guntur mengatakan ia tak mendapat informasi dari camat terkait untuk mengerahkan mobil tangki air ke lokasi kekerigan.

“Coba konfirmasi camatnya, sudah belum dia konfirmasi kami (BPBD) kalau daerahnya kekeringan. Kami akan bergerak kalau memang ada konfirmasi dari camat. Kita harus tertib kooridnasi, karena setiap rapat kooridnasi saya menyampaikan itu,” katanya.

Sementara anggota DPRD Lamteng Agus Suwandi mengatakan, seharusnya kepala kampung dan camat sudah mempersiapkan untuk melakukan antisipasi kekeringan.

“Kekeringan (musim kemarau) ini kan musiman, setiap tahun bisa saja terjadi. Seharusnya ini sudah dikoordinasikan mulai dari kepala kampung, camat hingga dinas terkait,” kata anggota legislatif terpilih dari Partai Golkar itu.

Agus Suwandi melanjutkan, akan mengambil langkah-langkah koordinasi dengan melibatkan semua pihak terkait, sehingga kekeringan dapat teratasi dan dicarikan solusinya. (red)

You might also like

error: Content is protected !!