Sungguh Aneh Tapi Nyata Keluarga Langka Patut Dijadikan Tauladan … !!!

LAMPUNG TIMUR – Wagiman warga Desa Tanjung Inten Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur tergolong keluarga aneh, pasalnya, salah satu anak Wagiman bernama Ayu (20) mengidap penyakit usus buntu yang tergolong keluarga tidak mampu.
Senin, 29 Juli 2019, Wagiman datang ke Kantor Dinas Sosial Kabupaten Lampung Timur, dengan tujuan minta bantuan untuk dibuatkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang pembayaran iurannya ditanggung Pemerintah Daerah.

Sementara permohonan Keluarga ini sedang dalam proses, anaknya Ayu semakin parah sakitnya dan harus dirawat di RSUD Sukadana Lampung Timur hari itu juga.

Setelah di rawat dua hari di RSUD Sukadana, Ayu menjalani Operasi usus buntu, biaya keselurahan di RSUD Sukadana mencapai Rp. 10.000.0000,- (sepuluh juta rupiah), Wagiman tidak mampu membayar biaya sebanyak itu.

Lalu, Wagiman minta bantuan salah satu tenaga kerja sukarela (TKS) Dinas sosial bernama Rizal, juga minta bantuan Petugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur bernama Dian Ansori untuk minta diurus pengajuan keringanan biaya rumah sakit.

Selanjutnya, Dian Ansori berkordinasi dengan pihak RSUD Sukadana, oleh pihak RSUD disarankan menghadap Bagian Yankes yaitu Bapak Sugito.

Atas pertimbangan pihak RSUD Wagiman hanya dimintai bayaran 25%
dari total biaya Rp 10.000,000,- yaitu Rp 2.500.000,-( dua juta lima ratus ribu rupiah). Kamis 1 Agustus 2019 anaknya Wagiman Ayu diperbolehkan pulang oleh dokter RSUD Sukadana.

Saat itulah terjadi sebuah keanehan, tiba -tiba Wagiman mencabut permohonan keringanan biaya dan membayar seluruh biaya rumah sakit sebesar Rp. 10.000.000,-.

Hal ini membuat petugas P2TP2A Lampung Timur (Dian Ansori) bingung, dan merasa aneh. Ada apa dengan sikap Wagiman, apakah ada intervensi pihak lain atas sikap Pak Wagiman, apa tujuannya dan apa kepentingannya.

Padahal hasil survey, faktanya Wagiman adalah Keluarga yang tidak mampu dan layak untuk dibantu keringanan biaya.
Usut punya usut, ternyata keanehan itu terjadi atas sikap Wagiman adalah intervensi dari keluarganya.

Wagiman menjelaskan, sesaat setelah ada keputusan dari pihak RSUD Sukadana terkait keringanan biaya, Wagiman mengabari kakak dan adiknya yang ada di Medan melalui ponsel.

Wagiman juga menjelaskan bahwa mereka adalah 7 bersaudara (kandung),
enam orang saudara kandungnya semua ada di perantauan dan semuanya adalah orang kaya.

Ketika Wagiman mengabari kakak adiknya tersebut, justru dia kena marah dan disuruh mencabut permohonan keringanan biaya rumah sakit yang diajukannya.

Kemudian, saudara kandungnya mentransfer uang kepada Wagiman untuk biaya rumah sakait bahkan lebih dari yang dibutuhkan.

Saudara kandung Wagiman mengatakan padanya bahwa, “kita akan mendapatkan dosa yang amat besar, ketika kita mampu tapi mengaku tidak mampu,
kemudian berusaha mendapatkan bantuan dengan memohon-mohon”. Kata Dian Ansori Sabtu, 3/8 jam 08.07 WIB.

Demikian suri tauladan yang dapat kita jadikan contoh dari Wagiman dan keluarganya, bahwa kita dilarang (berdosa) merampas hak orang miskin.

Laporan :

– Ropian Kunang
– Dian Ansori.

You might also like

error: Content is protected !!