Haji Hartoyo Mengelak Tatkala Mobil Indra Irawan Anaknya Mengalami Lakalantas Beruntun?

Laporan : Ropian Kunang

LAMPUNG TIMUR – Peristiwa kecelakaan lalu lintas (lakalantas) beruntun terjadi pada Senin, 27/2 sekitar pukul 17.00 WIB tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpantim), Tambah Dadi, Purbolinggo, Lampung Timur.


Lakalantas terjadi antara kendaraan bermotor (ranmor) roda empat merek grandmax BE8346OB, putih, dikendarai oleh Heru Situmorang alias Heru Simorangkir. Diduga Heru mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi sehingga berakibat fatal terjadi tabrakan beruntun.


Selain menabrak ranmor roda empat merek mobilio BE1681NE, putih, dikemudikan yang dikemudikan Bela. Mobil grandmax juga hantam ranmor roda dua merek beatz merah disetir pemiliknya Siswati.

Akibatnya, mobil grandmax rusak bagian sudut kanan depan hingga copot rodanya dan juga mobil mobilio rusak samping kanan depan serta berikut motor beatz mengalami kerusakan.

Indra Irawan bin Haji Hartoyo warga Desa Sinar Rejeki Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan
tidak berada dirumahnya saat akan ditemui oleh Nyadiran dan Alexander keluarga Siswati dan Bella.

Namun menurut keterangan seorang ibu-ibu tetangganya, dua hari lalu Indra Irawan terlihat ada dirumah Hi. Hartoyo orangtuanya. Menurut tetangganya, rumah Indra kosong, Indra bertempat dirumah Hi. Hartoyo orangtuanya yang berjarak hanya puluhan meter, sementara istri dan anaknya pulang kerumah mertuanya.

“Dari info, katanya Indra baru pulang belum lama ini, itu kata ibu-ibu istrinya pak (perangkat Desa Sinar Rejeki) dua hari lalu Indra keliatan ada,” kata Alexander pada Sabtu, 7/3 pukul 14.31 setelah mencari dua perangkat Desa Sinar Rejeki ketika akan menemui Indra Irawan dan Hartoyo orangtuanya dirumah.

Haji Hartoyo disinyalir beralibi dengan cara berkelit buang badan ketika dimintai keterangan, ia seolah-olah dan seakan-akan tak mengetahui tentang hal ihwal status kepemilikan dan terjadinya peristiwa lakalantas mobil grandmax anaknya tersebut.

“Dia (Indra Irawan) pergi ke Kalimantan udah dua bulan apa tiga bulan, dia kerja di batubara, (apakah Indra Irawan pemilik mobil grandmax BE8346OB warna putih) ya kurang jelas,” kelit Hartoyo Hartoyo orangtua Indra Irawan.

Akhirnya, setelah didesak dengan pertanyaan-pertanyaan Hartoyo mengakui bahwa mobil itu milik Indra Irawan anaknya yang diperoleh dengan cara kredit. Mobil itu akan di over kredit kepada Heru Simorangkir dan atau Kacung.

“(Mobil) kredit akhirnya over leasing sama orang nama si Heru, Kacung, dia yang nerusin mobil itu telah dibayar, memang atas nama Indra yang ngambil mobil itu.
Terus sama Indra di over sama Kacung, maksudnya disuruh mulangin DP-nya ngelanjutin, dulu itu DP 20 juta dan angsuran tiga jutaan kontrak empat tahun, sama Indra baru diangsur sepuluh bulan, nunggak dua bulan,” urai Hartoyo.

“Kacung orang sini, rumahnya ada tapi kalo orangnya ada entah nggak, istrinya ada dirumah, Kacung itu entah namanya siapa, pokoknya panggilannya Kacung. Karena mobil itu di over leasing maksudnya di over kredit (ke Kacung) ya (bukan ke Heru) bukan, ke Kacung. Ya itu dulu katanya Heru sama Kacung yang anu (nerusin over kredit) gitu (rumah Heru) nggak tau,” kata Hartoyo gugup.

“Selama ini pikir aku denger-denger katanya mobil tabrakan katanya, cuma denger aja, iya apa nggak kita nggak tau, orang kita dirumah sih, itu anak aku udah pergi pokoknya kurang lebih tiga bulan sampe sekarang lah, (dimana ambil kredit) itu nggak tau saya kurang jelas,” ketusnya.

Rombongan keluarga besar Bella dan Siswati, Alexander dan Nyadiran meminta diantarkan ke kediamannya Kacung. Ternyata, Kacung itu bernama Nasrul Mukminin sebagai sahabat atau tetangga Indra Irawan dan Hartoyo dengan jarak rumah berkisar seratusan meter.

Menurut Kacung, status kepemilikan mobil grandmax tersebut masih hak milik Indra Irawan dan belum di over kredit seperti yang diutarakan Hartoyo. Bahkan pada saat pengambilan mobil grandmax tersebut di Desa Tanjung Tirto Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur atas perintah sekaligus bersama Hartoyo dan Heru Simorangkir.

“Itu masih mobil Indra anak pak Hartoyo, kami disuruh pak Hartoyo, kami bareng bertiga ambil mobil di (Desa Tanjung Tirto) Lampung Timur, waktu dalam perjalanan pulang terjadi kecelakaan,” ungkap Nasrul pada Sabtu, 7/3 pukul 15.30 WIB dirumahnya.

Saat itu, Nasrul kompoi pada saat dalam perjalanan pulang bersama Hartoyo dan Heru didepan terpisah sekitar 5 menit. Ia menyayangkan Heru tak mengurangi laju kendaraannya hingga terjadi lakalantas.

“Saat itu saya dibelakang selisih sekitar 5 menit, tiba-tiba didepan kok rame, rupanya Heru (lakalantas) kecelakaan. Kalau kata Heru mobilio nyalip ngambil line tengah tapi kok (tidak dikurangi kecepatan) yah itulah sayangnya,” kata Kacung dihadapan Hartoyo orangtua Indra,” papar Kacung panggilan Nasrul Mukminin.

Pada kesempatan itu terjadi musyawarah antara Nyadiran, Alexander dan Hartoyo, Haji Hartoyo meminta tenggang waktu selama seminggu. Dalam kurun waktu seminggu tersebut, Hartoyo dan Kacung akan bermusyawarah dan menghubungi Indra Irawan, apapun hasilnya, akan dikomunikasikan melalui Kacung.

Berselang delapan hari sesuai dengan janjinya, tidak ada kabar berita dari Hartoyo, ketika dihubungi melalui sambungan telepon seluler milik Bella Hartoyo melempar pembicaraan, ia menganjurkan agar menghubungi Kacung.

“Ya nanti aku lewat Nasrul aja, ya nanti kan ditelpon lewat Nasrul aja, aku nggak bisa itu kasih keputusan aku nggak bisa ya, nanti aja lewat pak Nasrul, masalahnya anakku yang di bel itu sama ini lewat pak Nasrul gitu lo,” kelit Hartoyo pada Sabtu, 14/7 sekira jam 10.00 WIB melalui sambungan telepon seluler.

“Terus kapan kesanggupannya, baik itu kita mau ketemuan, itu pak Nasrul, coba nanti ku hubungi, ya nggak pas lah, apa pun suatu keputusan nggak pas kamaren kan sudah disampaikan waktu pertemuan, ya rencana nanti kita ketemu,” cetus Haji Hartoyo.

Nasrul Mukminin alias Kacung beralasan susah untuk komunikasi maupun bertemu Haji Hartoyo hingga membuatnya bingung karena tak mungkin dirinya memberikan kesimpulan tanpa Hi. Hartoyo.

“Bener, komunikasi sama saya, tapi pak Hartoyo nyatanya susah untuk ditemui saya jadi bingung, nggak mungkin saya ngasih kesimpulan tanpa beliau,” ujar Nasrul Mukminin pada Jum’at, 20/3 jam 08.28 WIB melalui aplikasi WhatsApp.

Mengutip dari ask@bplawyers.co.id Sebenarnya persoalan tanggug jawab ini sudah jelas dinyatakann dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata (“KUHPerdata”). Dalam pasal 1367 ayat (1) disebutkan:

“Seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada dibawah pengawasannya.”

Selanjutnya pasal 1367 ayat (3) KUHPerdata ditegaskan:

“Majikan-majikan dan orang yang mengangkat orang lain untuk mewakili urusan-urusan mereka, adalah bertanggung jawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan mereka didalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini dipakainya.”

Dalam hukum perdata juga diatur selain majikan seperti disebutkan diatas, guru sekolah atau kepala tukang (mandor) bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh murid-muridnya atau tukang-tukangnya selama waktu orang-orang itu berada di bawah pengawasannya. Inilah konsep dan pengaturan yang diatur dalam KUHPerdata.

Ada pengecualian atau batasan terhadap pertanggungjawaban tersebut terhadap orang-orang yang secara tegas disebutkan dalam KUHPerdata, hal ini dapat kita lihat dalam pasal 1367 ayat (5) yang berbunyi:

“Tanggung jawab yang disebutkan di atas berakhir jika orang tua-orang tua, wali-wali, guru-guru sekolah dan kepala-kepala tukang itu membuktikan bahwa mereka tidak dapat mencegah perbuatan untuk mana mereka seharusnya bertanggung jawab itu.”

Dalam pembatasan yang diatur dalam pasal diatas, jelas menunjukan bahwa majikan tetap bertanggung jawab atas kesalahan atas kelalaian pekerjanya. Hal ini juga didasarkan pada hubungan hukum antara majikan selaku pemberi kerja dengan bawahan atau pekerja yang biasa disebut sebagai vicarious liability.

Dalam beberapa litelatur juga disebutkan terdapat dua hal yang menentukan adanya pertanggungjawaban secara vicarious liability: Pertama, terdapat hubungan khusus antara atasan dan bawahan, perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh bawahan harus berhubungan dengan pekerjaan tersebut, atau Kedua, harus terjadi dalam lingkup melaksanakan pekerjaan.

You might also like

error: Content is protected !!