Enam Tenaga Kesehatan RSIA Ibunda Dipecat Gegara Cuti Tes CPNS

Laporan : Ropian Kunang

LAMPUNG TIMUR – Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, itulah yang dialami oleh enam orang tenaga kesehatan (Tenkes) Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ibunda Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur.

Keenam tenaga kesehatan itu diduga dipecat sepihak oleh pihak manajemen RSIA Ibunda, alasannya, karena memilih cuti dua bulan dan ketahuan mendaftar untuk ikut seleksi tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada Februari 2020 lalu.

“Anak saya berikut lima orang temannya diberhentikan sebab gara-gara cuti dua bulan dan ikut tes CPNS,” kata orangtua dari seorang tenaga kesehatan yang dipecat yang enggan disebut identitasnya.

Selaku orangtua, dirinya tak mempersoalkan tindakan pemecatan yang dilakukan tersebut asalkan sesuai dengan kesalahan, setidaknya melalui peringatan baik lisan maupun tulisan.

“Setidaknya, ada peringatan lebih dulu baik lisan maupun tertulis, dikasih SP satu sampai SP tiga, bila SP tiga tetap dilanggar wajar diberhentikan nggak jadi masalah, tapi ini malah main pecat,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur RSIA Ibunda Mataram Baru Lampung Timur, dr. Henri Anton Silitonga,Sp,OG disinyalir memberikan dua pilihan, cuti (dua bulan) ataukah resain (mundur).

“Tadinya mereka ini dipanggil dan ditawari direktur RSIA Ibunda mau pilih cuti atau resain, ya kami semua pilih cuti, padahal ikut tes CPNS cuma sehari, itu saja kami nggak lulus, memang setengah bulan sebelum ikut tes CPNS kami sudah cuti,” ungkap tenaga kesehatan yang juga tak ingin disebutkan identitasnya.

Mirisnya, salah satu dari keenam tenkes RSIA Ibunda yang dipecat tersebut merupakan tulang punggung kehidupan dalam keluarganya.

“Lagipula kasihan, diantara teman kami yang dipecat itu ada yang jadi tulang punggung dalam keluarganya, mana kerja sudah jauh-jauh jauh dari Mesuji, hanya satu yang memang (Lampung Timur) sini” terangnya.

Sebaliknya, pasca pemecatan keenam tenkes tersebut, manajemen RSIA Ibunda disinyalir langsung membuka lowongan kerja (loker) penerimaan pendaftaran tenaga kesehatan baru.

“Setelah kami diberhentikan, pihak rumah sakit langsung buka lowongan terima pendaftaran yang baru pengganti kami, padahal kami berenam kerja sudah setahun setengah, kebetulan waktu itu kami daftar kerja barengan,” urainya.

Hingga berita ini diturunkan tidak ada konfirmasi baik dari dr. Henri Anton Silitonga,Sp.OG Direktur RSIA Ibunda tersebut maupun wakil manajer. Menurut Wahyu Ari Pratama security setempat, Direktur RSIA Ibunda sedang berobat ke Singapura dan ia akan menyampaikan perihal permintaan konfirmasi metrodeadline.com dimaksud.

“Pak Direktur tidak ada, kebetulan beliau lagi pergi ke Singapura berobat, wakilnya juga lagi keluar, saya coba hubungi beliau, kalau ada balasan nanti saya sampaikan,” kata Wahyu Ari Pratama pada Selasa, 10/3 jam 11.33 WIB di Pos jaga.

Kemudian security tersebut menyampaikan bahwa perihal permintaan konfirmasi telah disampaikannya kepada manajer RSIA Ibunda namun belum dibalas.

“Saya tadi sudah laporan ke wakil meneger, tapi dari beliau belum ada jawaban,” tambah Security pada pukul 20.14 WIB semalam.

Terdapat delapan hak-hak dasar bagi pekerja diantaranya hak dasar untuk berlibur, cuti, istirahat serta memperoleh pembatasan waktu kerja.

Hak pekerja jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), maka berhak mendapatkan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan hak mendapatkan uang penggantian hak.

Pasal 27 Ayat (2) Undang-undang Dasar Tahun 1945 berbunyi, tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.

You might also like

error: Content is protected !!