Meski Diresmikan Bupati, Pedagang Rukhti Harjo Tetap Mempersoalkan Pembangunan Pasar Yang Diduga Asal Jadi

Lampung Tengah


LAMPUNG TENGAH – Meski sudah diresmikan oleh Bupati Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto, penolakan dan permasalahan terkait  pembangunan Pasar Kampung Rukhti Harjo, Kecamatan Seputihraman, Lampung Tengah (Lamteng), terus berlanjut ditengah pedagang di pasar tersebut.

Dimana para pedagang mempertanyakan terkait kualitas dan hasil yang diduga asal jadi. Bukan hanya itu, pembangunan pasar  tersebut juga menuai berbagai masalah diantaranya lahan parkir yang hilang, sering terjadi kecelakaan lalu lintas terutama roda dua dan pedagang di kios dalam dirugikan.

Salah satu pedagang Pasar Kampung Rukhti Harjo Pande mengatakan bahwa pembangunan Pasar Kampung Rukhti Harjo sejak awal pembangunan tidak disetujui oleh para pedagang. Pasalnya, masih banyak kios-kios yang kosong didalam pasar.

“Sejak awal kami (pedagang) tidak setuju pembangunan pasar ini. Soalnya  kios-kiosnya masih banyak yang kosong. Kok malah dibangun lagi kios dibelakang pasar tanpa memikirkan sebab dan akibat yang ditimbulkan,” kata Pande.

Pande yang juga pernah menjabat kepala pasar Kampung Rukhti Harjo, menjelaskan bahwa sejak berdirinya Pasar Kampung Rukhti Harjo ini, pedagang menyetujui bentuk bangunannya seperti. Dimana belakang pasar dijadikan lahan parkir.

“Kalau diperbaiki atau dipercantik kami terima. Tapi, kalau ada bangunan baru ini apalagi menghilangkan lahan parkir kami tidak setuju. Akibat buruknya sering terjadi kecelakaan dialami pengendara dua disebabkan parkir sembarangan pinggir jalan,” kata Pande.

Mantan Anggota DPRD Kabupaten Lamteng dua periode itu, juga menyayangkan kualitas pembangunan yang diduga asal jadi. Sebab, diketahuinya anggaran dari bangunan itu menelan biaya Rp 1,2 miliar. Akan tetapi, hasilnya jauh dari harapan.

“Bangunan ini kami menduga tidak sesuai dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB). Dimana kami melihat dari awal pembangunan sampai selesai. Kami juga mendengar hanya Rp 400 juta saja. Sedangkan, anggaran Rp 1,2 miliar,” imbuhnya.

Pande menegaskan dirinya dan pedagang lainnya tetap tidak menyetujui pembangunan pasar tersebut. Dimana sudah ada langkah yang diambil.

“Kami sudah mengirim surat laporan dugaan mark up di Kejari Lamteng. Dilanjutkan dengan laporan kepada ombudsman. Kami juga terus mengawal laporan itu,” tegas Pande.

Sementara itu, Bupati Lamteng Loekman  berpesan kepada seluruh Linmas, agar bisa lebih menjaga ketertiban dilingkungannya.

“Saya berharap kepada masyarakat Seputih Raman dan Linmas kampung Rukti Harjo mampu menjaga fasilitas pasar sehingga aktifitas jual beli terus berjalan lancar,” pesan Loekman.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Lamteng Edrin Indra Putra mengatakan, bahwa pasar rakyat yang dengan dana DAK tahun 2019 ini, melalui proses yang panjang penuh perjuangan. “Jadi saya berharap fasilitas pasar mampu kita gunakan dan kita jaga bersama,” kata Edrin.

Edrin meminta, fasilitas pasar yang dibangun oleh pemerintah daerah bisa dijaga dengan baik oleh pedagang dan masyarakat setempat. “Jaga dan rawat fasilitas yang sudah ada. Karena pasar adalah salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, pembangunan Pasar Kampung Rukhti Harjo sejak awal pembangunan tidak disetujui oleh pedagang setempat. Namun, pembangunan tetap dilanjutkan. Selain itu, pedagang juga tidak diikut sertakan dalam rapat musyawarah pembangunan pasar tersebut. (red)

You might also like

error: Content is protected !!