Makna Lambang PWI,  Mulai Dari Landasan Idiil, Apa Adanya Sampai Pantang Mundur

LAMPUNG TIMUR – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) didirikan oleh Mas Marco Karto Dikromo, Dr. Cipto Mangun Kusumo, Sosro Kartono dan Ki. Hajar Dewantoro tepatnya Sabtu, 9 Februari 1946 di Surakarta Propinsi Jawa Tengah berbarengan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Sebelumnya, para pendiri lebih dulu menciptakan sebuah lambang organisasinya, dari lambang tersebut terdapat berbagai makna yang terkandung didalamnya.

Inilah makna dari lambang PWI yang terkandung mulai dari landasan idiil Pancasila, kewajaran dan apa adanya serta pantang mundur bilamana tekad baik sudah mulai diperjuangkan setia pada sumpahnya.

1. Dasar bentuk (warna hitam). Segi lima melambangkan rangka yang menjadi dasar landasan idiil ialah Pancasila.

2. Dasar bentuk bagian luar (warna
biru) Rangkaian kapas dan padi melambangkan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran yang diperjuangkan oleh organisasi (warna kuning mas).

3. Dasar bentuk bagian dalam
a. lidah api semangat (merah)
b. pena mas (kuning mas)
c. lensa kristal (hitam/putih)
d. initial PWI (putih)

I. Diwujudkan dalam bentuk pohon beringin, yang melambangkan pengayoman bagi kehidupan pers umumnya dan karyawan pers khususnya.

II. Huruf lingkar Persatuan Wartawan ditempatkan di atas, sebagai atap pelindung.

Huruf lingkar Indonesia ditempatkan di bagian bawah, sebagai tempat berpijak, di mana PWI berada.

4. Jumlah bulir kapas 17 buah, jumlah lidah api 8 buah dan jumlah bulir padi 45 buah. Yang melambangkan pegangan teguh pada angka-angka Proklamasl
17-8-1945.

5. Warna-warna

a. Merah, hitam, kuning, putih, biru, diambil dari warna-warna yang dianggap mewakili nafsu baik dan buruk manusia.

merah – amarah, hitam – angkara murka, kuning – sufiah, putih – mutmainah dan
biru – mulhinah.

b. Warna dasar lambang, biru
melambangkan angkasa yang tak terukur, yang juga melambangkan ilmu pengetahuan yang terus tak pernah berhenti kerokhanian yang dalam tak terukur.

c. Warna bulir padi/kapas, huruf
lingkar – kuning, melambangkan usaha yang tak pernah diam dalam mencapai hasil-hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi anggota, bangsa dan negara.

d. Warna dasar inisial, hitam, melambangkan ketulusan, kejujuran, kewajaran dan apa adanya.

e. Warna lidah api semangat, merah, bisa juga berarti api (cahaya) yang tak kunjung padam, yang memberi cahaya penerang dalam kegelapan, bisa
juga berarti semangat yang tak
pernah mendingin, keuletan, tahan uji, kegairahan kerja, tak lekas putus asa.

f. Bagian kapas dan huruf PWI –
putih, melambangkan – kesucian,
kematangan, kekesatriaan, pantang mundur bilamana tekad baik sudah mulai diperjuangkan setia pada sumpahnya.

(Sumber : Penjelasan Sidang Gabungan pengurus dan Badan Pekela Kongres PWI Rabu, 13 November 1968 di Makasar)

Organisasi PWI berdiri pada tahun 1914 di Surakarta. Pendiri IJB antara lain Mas Marco Karto Dikromo yang mengaku muridnya dari Tirto Adhi Surjo, kemudian juga pendiri lainnya adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Sosro Kartono dan Ki Hadjar Dewantara. IJB merupakan organisasi wartawan pelopor yang radikal, dimana sejumlah anggotanya sering diadili bahkan ada yang diasingkan ke Digul oleh penguasa kolonial Belanda. Selain IJB, organisasi wartawan lainnya adalah Sarekat Journalists Asia (berdiri 1925), Perkumpulan Kaoem Journalists (1931), serta Persatoean Djurnalis Indonesia (1940).

Berbagai organisasi wartawan tersebut tidak berumur panjang akibat tekanan dari pemerintahan kolonial. Pada tahun 1984, melalui Peraturan Menteri Penerangan Harmoko (Permenpen) No. 2/1984, PWI dinyatakan sebagai satu-satunya organisasi wartawan atau wadah tunggal, yang boleh hidup di Indonesia adalah PWI. Dan setahun setelah menjadi wadah tunggal, pada 1985 PWI berhasil mengegolkan HPN tersebut.
2. Visi, Misi, dan Tujuan PWI
Visi PWI
Visi dalam KBBI tercatat juga memiliki tiga arti yang salah satunya -pengertian pertama- adalah “kemampuan untuk melihat pada inti persoalan; pandangan; wawasan.”

Oleh karena itu, wartawan yang ber-Visipaling tidak harus memiliki kemampuan untuk melihat suatu hal langsung pada inti permasalahan dengan sudut pandang yang jelas dan tepat, serta bertujuan memberikan wawasan kepada khalayaknya.

Kemampuan wartawan untuk mengembangkan Visi-nya cenderung dipengaruhi oleh berbagai hal yang berkaitan dengan latar belakang pengalaman atau seringkali disebut “jam terbang”, dan kemauannya untuk bersikap “open minded” (berpikir terbuka).

Dalam perkembangannya dewasa ini, wartawan selayaknya pula profesi lain yang berkaitan dengan komunikasi semakin erat pekerjaan kesehariannya dengan apa yang dinamakan dengan Teknologi Informasi (TI) atau“Information Technology” (IT).

Istilah TI itu sendiri banyak berkaitan dengan apa yang selama dua dasawarsa terakhir ini disebut dengan Internet alias jejaring komputer sejagat. Dengan kata lain, Misi dan Visi dari berbagai profesi semakin dipengaruhi teknologi. Sekalipun, TI hanyalah sebatas “alat”,tetapi seringkali kalangan profesional justru diperalatnya.

Oleh karena itu, wartawan (journalist) dan dunia kewartawanannya (journalism) mengembangkan pula apa yang disebut“cyberjournalism” atau bagaimana mereka memanfaatkan sekaligus mengelola Internet sebagai alat bantu kerja. Dalam hal ini, posisi wartawan selayaknya profesi lain di bidang ilmu komunikasi, seperti petugas humas dan penyuluh lapangan.

Misi PWI
Misi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka tercatat memiliki tiga pengertian, yang salah satunya -pengertian terakhir– adalah “tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukannya demi agama, ideologi, patriotisme, dsb.”

Dalam batasan tugas jurnalistik atau kewartawanan, maka Misi dapat diartikan sebagai kewajiban wartawan untuk melakukan tugas dengan kepentingan tertentu, antara lain lembaga media massa tempatnya bekerja, dan kepentingan umum. Pada kelanjutannya, misi dapat saja bertambah dengan kewajiban tugas bagi kepentingan bangsa dan negara.

Bagi wartawan Indonesia (anggota Persatuan Wartawan Indonesia/PWI) Misi tersebut termaktub secara jelas dalam Peraturan Dasar PWI pada bagian Pendahuluan yang mencatat: “Bahwa sesungguhnya adalah kenyataan sejarah, perjuangan wartawan Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang, tak dapat dipisahkan dari perjuangan Rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dalam wadah negara Kesatuan, yang berkeadilan dan berkemakmuran serta diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.”

Pada bagian pendahuluan Peraturan Dasar PWI itu pula tercatat sejumlah Misi lain dari wartawan Indonesia, yaitu:

1) Wartawan Indonesia berdiri teguh di atas dasar falsafah Negara Pancasila,

2) Berpedoman kepada Pancasila, UUD 1945, dan TAP MPR-RI,

3) Sebagai alat demokrasi, Wartawan Indonesia berketetapan hati dan bertekad untuk terus melanjutkan tradisi demokrasi dan patriotiknya.

4) Wartawan Indonesia tanpa membedakan aliran politik, asal suku, ras, agama, kepercayaan dan golongan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa/negara.

Tujuan PWI
1) Tercapainya cita-cita Rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

2) Terwujudnya kehidupan Pers Nasional yang merdeka, profesional, bermartabat, dan beradab

3) Terpenuhinya hak masyarakat memperoleh informasi yang benar dan bermanfaat

4) Terwujudnya tugas pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dikutip dari laman ritafajrin.wordpress.com.

Laporan :

– Ropian Kunang

– Musanif Efendi Yusnida

– Anggota PWI Lampung Timur

You might also like

error: Content is protected !!